Ibu Guru Kembar pendiri Sekolah Darurat Kartini (Foto: Instagram @duamawarmerah)
Ibu guru kembar mendirikan Sekolah Darurat Kartini untuk anak-anak yang kurang mampu. Hal ini, dilakukan demi memutus rantai kemiskinan bagi anak-anak tersebut.
Sosok kartini masa kini sangat cocok disandang oleh Sri Irianingsih (Ibu Rian) dan Sri Rossyati (Ibu Rossy), ibu guru kembar yang memberikan pendidikan gratis bagi anak dari keluarga tak mampu.
Tidak bisa dimungkiri, persentase anak yang putus sekolah di Indonesia cukup tinggi. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka anak putus sekolah setelah pandemi bahkan mengalami peningkatan 0,26% pada tahun 2022.
Beberapa faktor yang mendorong anak-anak putus sekolah, adalah kurangnya minat anak untuk sekolah, faktor ekonomi, faktor lingkungan, faktor komunikasi internal keluarga, faktor sosial, hingga faktor kesehatan.
Inilah yang mendorong ibu guru kembar untuk mendirikan Sekolah Darurat Kartini pada tahun 1983. Di sekolah ini, anak-anak berusia 6-17 tahun yang berasal dari keluarga kurang mampu di Jakarta, bisa bersekolah dan belajar keterampilan secara gratis.
“Di tengah kompleks elit Kelapa Gading, Jakarta, ada orang tua yang bekerja menyapu jalanan. Terus anaknya sekolah di mana? Dia nggak punya uang. Dia harus kontrak rumah, di pojok kota, di pinggir kali, terus anaknya sekolah di mana?” ujar Ibu Rossy dikutip dalam tayangan YouTube VOA Indonesia, Kamis (20/4).

Sejak tahun 2008, pemerintah mewajibkan sekolah negeri untuk tidak memungut biaya sekolah. Namun, banyak anak dari keluarga yang kurang mampu harus tetap berjuang untuk membayar biaya tambahan, seperti seragam dan buku.
“Kalau ilmu ilmiah, kan, (memang diwajibkan sekolah) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud). Namun, di Sekolah Darurat Kartini kami (juga ajarkan) keterampilan,” tambah Ibu Rossy.
Di sekolah ini, para murid dibekali berbagai keterampilan untuk bisa langsung bekerja seperti bengkel, ganti oli, membersihkan busi, menginstalasi listrik, menjahit, cuci dan potong rambut, memasak, sampai merangkai bunga.
Ibu guru kembar bertekad mengajar berbagai keterampilan, demi memastikan agar muridnya bisa mencari nafkah sendiri setelah lulus sekolah dan tidak berakhir mengemis di jalan.
Sebagai informasi, Sekolah Darurat Kartini pertama kali dibangun di kolong tol Ancol. Selama 22 tahun berdiri, sekolah tersebut pernah digusur 5 kali.
Di Ancol, Sekolah Darurat Kartini berdiri di lahan milik PT KAI dengan luas 15×25 meter persegi. Sekolah tersebut dibagi menjadi kelas dan ruang penyimpanan alat keterampilan alat musik, komputer, dan alat-alat bengkel.
Kelasnya sendiri, terdiri atas jenjang PAUD, TK, SD, dan SMP dengan kapasitas 36 meja dan bangku di setiap kelas.

Lahan garasi dan ruang tamu kediaman pribadi mereka yang berlokasi di Kelapa Gading, juga ikut disulap menjadi ruang kelas yang terdiri atas tingkat PAUD dan persiapan TK.
Di taman, kata Ibu Rossy, ada berbagai macam mainan seperti ayunan, jungkat jungkit, dan fasilitas kolam renang, sedangkan di ruang tamu berisi komputer-komputer untuk belajar keterampilan para siswa SMA.
Kebutuhan sekolah seperti seragam, transportasi, dan lauk-pauk para murid juga dipenuhi dari kantong pribadi Ibu Rossy dan Rian yang diperoleh dari hasil menyewakan apartemen dan aset-aset peninggalan keluarga.
Ibu guru kembar juga selektif dalam memilih pengajar di sekolah. Keduanya tegas menolak bantuan pengajar jika bukan lulusan kampus keguruan, sehingga yang boleh mengajar di Sekolah Darurat Kartini adalah lulusan keguruan.
Ibu Rossy menjelaskan, sebelum pandemi mereka mengajar 30 anak. Lulusan Sekolah Darurat Kartini mendapat ijazah formal. Ada lulusannya yang menjadi pegawai bank, tentara, polisi, dan karyawan di sejumlah perusahaan swasta.
Setelah pandemi, murid Sekolah Darurat Kartini sempat bertambah menjadi 300-an anak yang mayoritas belum bisa membaca, menulis, dan menghitung.
Mereka mengakui, mengajari anak-anak butuh usaha yang luar biasa. Apalagi, dalam membentuk karakter, kepribadian, dan kemampuan dasar masing-masing murid.
Salah satu murid Sekolah Darurat Kartini, Leni Nur Afia, bercerita bahwa dirinya tidak bisa melihat banyak pemandangan sawah di Jakarta.
“(Lalu) saya diajak (ke sawah) sama ibu guru kembar, mencari tutut (siput), mencari belut,” jelas Leni.
Leni, seperti kebanyakan murid di Sekolah Darurat Kartini, tidak punya akta lahir yang jadi syarat dari pemerintah untuk anak bisa memperoleh pendidikan gratis.
Berdasarkan survei BPS, beberapa penghambat bagi orang tua untuk mendapatkan akta lahir anaknya adalah urusan birokrasi dan administrasi yang rumit, sampai adanya biaya tambahan.
Alumni Sekolah Darurat Kartini Nia Latifah juga bercerita, kondisi keuangan keuarganya terbilang tidak mampu untuk menyekolahkan dirinya di sekolah negeri.
“Alhamdulillah berkat ikut terus dengan ibu (guru), dibimbing terus sama ibu (guru), akhirnya saya bisa sekolah S1 di Universitas Indonesia. Kemudian, sekarang saya lanjut alhamdulillah di Universitas Pemulang untuk ambil S2-nya,” ungkap Nia.

Ibu Rossy menekankan bahwa dirinya tidak mencari uang, malah dirinya sendiri yang menggunakan uang pribadinya untuk Sekolah Darurat Kartini.
“(Meski demikian) kita dapat juga kebahagiaan, kedamaian, ketenangan yang sudah kita lalui 73 tahun kita hidup, ternyata yang seperti inilah yang kita cari,” tutup Ibu Rian.

