Kaligrafi Tiongkok

Perbedaan stunting dan gizi buruk | Foto: canva

Ramai dibicarakan, stunting dan gizi buruk memiliki penyebab yang hampir serupa. Meski demikian, dampak yang terlihat berbeda bagi tubuh seseorang.

Stunting dan gizi buruk masih menjadi masalah yang sering diabaikan oleh masyarakat. Umumnya, masyarakat tidak memahami permasalahan ini karena pengetahuan yang kurang.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 sebesar 21,6% anak di Indonesia masih mengalami stunting, sedangkan kurang gizi pada balita (2022) masih sebanyak 17,1%

 

Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk

Stunting adalah sebuah kondisi pada anak yang membuat tinggi badan seorang anak tidak sesuai dengan usianya yang terjadi karena kekurangan gizi yang terlalu lama (gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anak).

Stunting merupakan kondisi yang terjadi sejak kecil. Meski demikian, stunting masih bisa diatasi setidaknya hingga anak berusia dua tahun. Jika sudah melewati usia tersebut, stunting tidak dapat dicegah, 

Gizi buruk adalah kondisi tubuh anak yang tidak mendapatkan asupan nutrisi atau gizi dengan cukup. Hal ini penting karena gizi dibutuhkan untuk memenuhi pertumbuhan, fungsi tubuh, dan perkembangan anak. Gizi buruk bisa terjadi oleh anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia.

 

Penyebab Stunting dan Gizi Buruk

Penyebab stunting dan gizi buruk umumnya terjadi karena kekurangan gizi. Namun, stunting dimulai sejak anak dalam kandungan ibu, tetapi gizi buruk bisa terjadi pada siapa saja.

Stunting itu dimulai sejak seorang wanita hamil, jadi sejak dalam kandungan. Untuk itu, kita harus memberikan pengertian atau pengetahuan gizi yang baik untuk ibu hamil, bahkan para remaja putri,” ucap Spesialis Gizi dr. Jenni dikutip dari YouTube DAAI Family, Senin (5/2/2024).

Stunting terjadi karena asupan gizi anak tidak kuat mulai dari kuantitas ataupun kualitas. 

“Jadi stunting adalah kondisi kurang protein, energi, atau kurang mikronutrien tertentu. Misalnya kekurangan vitamin A, zat besi, seng, dan sebagainya,” kata dr. Jenni 

Terkadang anak tidak mendapatkan ASI eksklusif, ibu mengalami malnutrisi, atau terinfeksi saat sedang mengandung.

Gizi buruk terjadi karena seorang anak kurang menerima asupan gizi atau kebiasaan makan yang buruk, seperti memilih makan. 

Selain itu, gizi buruk bisa disebabkan karena masalah kesehatan tubuh, seperti diare dan penyakit kronis lainnya. 

Kemudian, pola kebersihan pada lingkungan hidup juga dapat berpengaruh. Misalnya, sanitasi pada lingkungan kurang dapat menyebabkan stunting dan gizi buruk.

 

Gejala Gizi Buruk dan Stunting

Umumnya, gejala gizi buruk terjadi sebagai berikut.

  1. Wajah dan kulit terlihat lebih keriput;
  2. Tubuh kurus;
  3. Mudah jatuh sakit;
  4. Sulit untuk memiliki fokus pada lingkungan;
  5. Rambut mudah rontok dan terlihat lebih kusam; dan 
  6. Terlihat lebih lesu.

 

Di sisi lain, gejala pada stunting sebagai berikut.

  1. Pertumbuhan tulang pada anak tertunda, sehingga proporsi tubuh seorang anak cenderung lebih kecil untuk seusianya;
  2. Tinggi dan berat badan lebih rendah jika dibandingkan dengan anak seusianya; dan
  3. Sering lemas atau jatuh sakit.

Penyebab Stunting dan Gizi Buruk | Foto: canva

 

Pengobatan Stunting dan Gizi Buruk

Faktanya, ketika anak terkena stunting pada anak akan sulit untuk memperbaiki stunting.

“Saat ini kalau dengan pemenuhan gizi yang baik kita harapkan di masa pubertas nanti anak bisa mengejar kembali walaupun tidak bisa maksimal,” tambah dr. Jenni.

Pada masa trimester pertama, ibu yang sedang mengandung tidak boleh kekurangan zat besi dan kalsium untuk mencegah terjadinya anemia fisiologis.

Saat masa tersebut, ibu hamil juga harus banyak mengonsumsi asam folat agar membentuk sistem saraf dan sel otak.

Sama seperti stunting, gizi buruk dapat dicegah dengan memberikan ASI eksklusif hingga anak berusia enam tahun.

Selain itu, seseorang perlu mengonsumsi makanan yang memiliki nutrisi lengkap untuk mencegah gizi buruk. Memberikan anak cairan infus agar mengatasi dehidrasi.

Kemudian, menjaga pola hidup agar lebih sehat dan lingkungan yang bersih.


Penulis: Kerin Chang

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: