Ilustrasi penerima bantuan Beasiswa Berbagi Asa (Foto: Dokumentasi pribadi Anang Marjono)
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membantu sesama. Tidak harus sendiri, inisiatif berbagi juga bisa dilakukan bersama teman sebaya.
Anang Marjono (26), seorang alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Sipil angkatan 2015 membuat program Beasiswa Berbagi Asa.
Beasiswa Berbagi Asa, merupakan program pemberian bantuan berupa biaya hidup atau laptop, khususnya ditujukan bagi mahasiswa yang membutuhkan dari segi ekonomi.
Anang bercerita, inisiatif ini awalnya muncul dari pengalaman pribadinya saat berkuliah dulu. Saat itu, kata Anang, dirinya punya keterbatasan ekonomi sejak kecil hingga kuliah, sehingga ia kesulitan untuk memiliki laptop sendiri.
Demi menunjang pendidikannya, Anang meminjam laptop kepada temannya untuk sekadar mengerjalan tugas atau belajar. Setelah setahun berlalu, Anang mengaku dirinya bertemu orang baik yang mau meminjamkan uang untuk membeli laptop baru.
“Itu jadi pengalaman yang cukup memorable buat saya karena cukup sulit. (Selain itu) nggak enak banget kalau kita harus selalu pinjam laptop punya orang,” ujar Anang kepada DAAI TV, Senin (3/4).
Setelah menginjak tingkat ke-4, Anang semakin sadar bahwa kesulitan tersebut tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Saat itu, ia mengetahui ada adik tingkatnya yang juga kesulitan mengikuti perkuliahan karena tidak memiliki laptop.
“Dari situ saya langsung mikir, ‘ini kayaknya emang harus kita bantu, nih, orang-orang yang nggak punya laptop.’ Apalagi harga laptop untuk jurusan-jurusan teknik itu, kan, butuh spesifikasi yang cukup tinggi dan mungkin harganya di atas Rp8 juta dan itu agak sulit untuk diakses mahasiswa,” lanjut Anang.
Tidak sendirian, ide tersebut kemudian disampaikan Anang kepada teman-teman satu angkatannya. Mendengar inisiatif Anang yang ingin membuka donasi untuk membantu sesama, mayoritas rekannya pun menyetujui ide tersebut.
Setelah banyak berdiskusi, Anang pun menjalankan inisiasinya pada saat pandemi melanda di tahun 2020 lalu. Anang merasa, kondisi pandemi saat itu merupakan waktu yang tepat untuk mulai berbagi kepada mahasiswa yang membutuhkan. Uniknya, seluruh biaya beasiswa yang terkumpul hanya berasal dari internal Alumni Teknik Sipil ITB 2015.
Setelah dana terkumpul, Anang dan rekannya membeli laptop baru dengan spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing mahasiswa. Umumnya, harga laptop yang diberikan untuk mahasiswa teknik berkisar antara Rp8 juta dan Rp8,5 juta agar mumpuni dalam mengerjakan tugas dan mengakses beragam software.
Sampai saat ini, Anang mengaku ia dan rekannya telah menjalankan total 6 batch beasiswa. Adapun perinciannya, adalah 1x kali dilakukan pada semester ganjil tahun 2020, 2x dilakukan di tahun 2021, 2x dilakukan di tahun 2022, dan 1x di awal tahun 2023.

Tidak hanya laptop baru, Anang dan rekannya juga memberikan bantuan berupa kuota internet, bantuan biaya untuk meringankan Uang Kuliah Tunggal (UKT), serta bantuan untuk meringankan biaya hidup.
Dana yang terkumpul di setiap batch pun bervariasi. Pada saat awal dibentuk, Anang dan rekan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp12,3 juta. Jumlah tersebut sempat melambung hingga Rp45,5 juta di tahun 2021, tetapi kini kembali menurun menjadi Rp16 juta karena ada beberapa kendala yang mereka hadapi.
“Di dalam 1 batch itu, kami nggak menargetkan harus ada berapa orang (yang menerima beasiswa) karena kami sistemnya mengumpulkan uang dulu, lalu dilihat berhasil mengumpulkan uang berapa, baru kami salurkan,” kata Anang.
Untuk penyaluran bantuan beasiswa, biasanya dilakukan setiap awal semester. Kemudian, untuk para peserta yang sudah pernah mendaftar pada periode sebelumnya, masih tetap bisa mengikuti seleksi beasiswa selama masih berstatus mahasiswa.
“Jadi yang bikin beasiswa ini unik daripada yang lain, adalah kami itu awalnya nggak mau nyebutin kami bisa bantu berapa. Kami tanya dulu ke mahasiswanya, ‘Di semester depan atau semester ini kamu butuh apa?’ Jadi kami benar-benar perhatikan setiap masalah mereka, lalu kami coba analisa seberapa butuhnya mereka terhadap bantuan ini,” lanjutnya.
Di balik bantuan ini, ternyata ada proses seleksi yang cukup panjang. Anang menjelaskan, untuk mengumpulkan kandidat beasiswa, dirinya menyebarkan form pendaftaran ke mahasiswa anggota himpunan atau jurusan.
Setelah informasinya tersebar, dua minggu setelahnya Anang membuka jadwal registrasi. Setelah diseleksi, Anang dan rekan melanjutkan proses ke tahap wawancara.
“Proses wawancara dilakukan untuk memverifikasi data-data yang sudah diberikan. Jadi dari wawancara, kami coba lihat seberapa membutuhkannya mereka dan bagaimana kondisi ekonomi keluarganya. Baru dari situ kami proses untuk dibantu,” ungkap Anang.
Selama proses pemberian beasiswa, Anang juga kerap menghadapi beragam kendala. Di antaranya, adalah sistem pengingat donasi yang masih dilakukan secara manual, mempersiapkan form wawancara, sampai jumlah donasi yang tidak bisa diprediksi.

Ke depannya, Anang dan pengurus lainnya juga ingin mencoba melebarkan sayap dengan membuka donasi untuk pihak umum. Dengan demikian, semua orang bisa berdonasi dan akan diberikan laporan transparansi biaya setiap bulannya.
Anang juga berencana untuk menggaet beberapa perusahaan untuk menjadi donator, sehingga bisa membantu memperluas gerakan ini. Anang berharap, mahasiswa dari beragam jurusan dan universitas lain bisa membuat gerakan serupa, sehingga ada lebih banyak orang yang bisa terbantu.
“(Pesan untuk anak muda lainnya) coba pecahkan satu masalah yang spesifik dan cari jalan keluarnya, lalu coba mulai dari lingkup terkecil dulu. Mungkin dari SD atau SMP teman-teman, atau dari daerahnya teman-teman dulu. Pasti capek (menjalankannya), tetapi yang penting kita bisa ingat apa alasan awal kita melakukan ini, sehingga bisa jadi semangat kita,” tutup Anang.

