Kaligrafi Tiongkok

Pertunjukkan Teater Kebun Hantu. (Dok. Kantor Teater)

Di tengah maraknya gempuran dunia digital yang kerap memecah konsentrasi dan ingatan manusia, kolaborasi Kantor Teater dan Trippicandid menyajikan sebuah karya panggung reflektif bertajuk Kebun Hantu.

Pertunjukan ini sukses menyedot antusiasme penonton saat digelar di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Senin (12/10).

Berbeda dengan seni pertunjukan konvensional yang mengusung alur cerita linear, Kebun Hantu memilih menyuguhkan pengalaman yang terpecah.

Pementasan ini menyoroti fenomena manusia modern yang terjerat candu gawai dan algoritma media sosial, hingga berdampak pada ruang intim, tubuh, serta ingatan mereka.

Metafora Hantu: Residu Memori dalam Tubuh

Sutradara sekaligus penulis naskah, Roy Julian, menjelaskan bahwa kata “Hantu” dalam judul pertunjukan ini sama sekali tidak merujuk pada sosok mistis atau gaib.

Kata tersebut menjadi metafora dari residu pengalaman dan arsip memori masa lalu yang tak mampu diterjemahkan oleh bahasa kata-kata, namun tetap menetap dan “gentayangan” di dalam tubuh para aktor.

Adapun gagasan mendasar pertunjukann ini adalah tidak semua pengalaman manusia bisa diceritakan lewat kata-kata.

Sebagian justru menetap di tubuh, menjadi ingatan yang samar, tetapi terus muncul dalam gerak, suara, maupun cara seseorang merespons kehidupan.

Melalui pendekatan arsip tubuh, para pemeran membawa pengalaman kerja, ingatan pribadi, serta peristiwa masa lalu mereka ke atas panggung untuk menemukan ekspresi artistik baru.

Saat kata-kata dianggap tak lagi memadai, tubuh pun mengambil alih peran sebagai medium utama.

Mengangkat Isu Berat dengan Sentuhan Humor

Kendati mengusung topik sosial-psikologis yang filosofis dan cukup berat, Kebun Hantu tetap disajikan secara komunikatif.

Di sela-sela adegan yang sarat makna, dialog humor segar diselipkan hingga memancing gelak tawa penonton. Penonton pun diajak merenungkan isi memori tubuh tanpa merasa digurui.

Pertunjukan ini didukung oleh deretan aktor bertalenta, seperti Bambang Wahyudin, Badri, Parulian, Marina Novianti, Jean Marais, Yuli Goplumb, serta Roy Julian.

Kualitas tata panggung dan visualnya semakin diperkuat oleh sentuhan artistik Ega Alamsjah (Artistic Director), Ipoer Wangsa (Stage Director), Mamedz Slasov (Lighting Designer), Imam Maulana (Sound Designer), Iqbal Rahim (Assistant Director), serta Astridips dan Arie Toskir (Assistant Producer).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: