Ilustrasi Presiden Jokowi makan (Fpto: Instagram @Jokowi)
Formaldehyde atau formalin adalah senyawa kimia yang biasa digunakan untuk membuat perabot rumah tangga, pengobatan kutil kulit, sampai bahan pengawet. Meski demikian, formalin bisa menimbulkan gangguan kesehatan tubuh.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan keluarganya dilaporkan hampir memakan buah yang mengandung formalin.
Kejadian tersebut, terjadi saat Presiden Jokowi mengajak keluarganya berlibur pada Sabtu (22/4) hingga Selasa (25/4) di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Makanan tersebut didapatkan dari salah satu tempat makan yang berada di Labuan Bajo. Temuan tersebut, didapatkan oleh tim Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) yang melakukan uji sampel penganan.
Untungnya, hidangan tersebut belum dimakan oleh Presiden Jokowi dan keluarga karena sudah dipisahkan petugas.
Mengutip dari National Cancer Institute, formalin merupakan zat beracun yang mudah menyebar melalui udara. Saat formalin menyebar di udara pada tingkat melebihi 0,1 ppm dan tidak sengaja terhirup, paparan jangka pendeknya bisa menimbulkan beberapa efek samping.
Misalnya, seperti mata berair; sensasi terbakar di mata, hidung, dan tenggorokan; batuk; mengi atau bengek; mual; dan iritasi kulit.
Meskipun efek kesehatan jangka pendeknya telah diketahui, tetapi masih sedikit yang diketahui tentang potensi efek kesehatan jangka panjangnya.
Baca Juga: Presiden Jokowi Ikut Tanam Mangrove Serentak, Sorot Pentingnya Jaga Hutan Mangrove
Pada tahun 1980, sebuah penelitian laboratorium menunjukkan bahwa paparan formalin dapat menyebabkan kanker hidung pada tikus. Pada tahun 1987, Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) mengklasifikasikan formalin sebagai salah satu kemungkinan karsinogen manusia jika seseorang terkena paparan sangat tinggi atau berkepanjangan.
Sejak saat itu, beberapa penelitian terhadap manusia menunjukkan bahwa paparan formalin kerap dikaitkan dengan jenis kanker tertentu.
Mengutip dari Verywell Health, formalin dapat muncul secara alami di tubuh organisme hidup dan di beberapa makanan. Misalnya apel, pisang, anggur, plum, bawang merah, wortel, bayam, dan sebagainya.
Formalin juga merupakan produk sampingan dari pembakaran. Bahan kimia tersebut dihasilkan saat membakar gas alam, bensin, kayu, minyak tanah, atau tembakau.
Umumnya, formalin dapat diserap melalui kulit atau dikonsumsi melalui makanan dan minuman. Berikut adalah beberapa bahaya yang bisa dirasakan tubuh, ketika terpapar formalin dalam jangka waktu panjang.
1. Infeksi Saluran Pernapasan
Formalin yang tidak sengaja terhirup dan masuk ke dalam tubuh, bisa menyebabkan iritasi di saluran pernapasan. Pada pengidap bronkitis dan asma, zat beracun bahkan ini berpotensi memperburuk gejala yang sudah ada.
Gejala yang umumnya dialami oleh pengidap, adalah sesak napas, bengek, mata terasa gatal, serta mengeluarkan air. Pengidap juga rentan mengalami penurunan kemampuan pada indra penciuman.
Baca Juga: Ikut Kontribusi Penanganan Covid-19, Yayasan Buddha Tzu Chi Raih Penghargaan dari Presiden Jokowi
2. Kanker
Formalin berisiko menyebabkan kanker tenggorokan, leukimia, bahkan kanker hidung. Ini bisa terjadi akibat paparan zat beracun dalam jangka panjang dan orang yang memiliki risiko tinggi untuk mengalaminya, adalah anak-anak dan orang tua.
Gejalanya bervariasi tergantung pada jenis kanker yang dialami. Umumnya, ditandai dengan batuk kronis, pucat, lemas, cepat lelah, berat badan turun drastis, dan gangguan buang air besar atau buang air kecil.
3. Masalah Kulit
Paparan formalin dalam jangka waktu pendek bisa menyebabkan iritasi, gatal, dan sensasi rasa terbakar pada kulit. Pada pengidap alergi, formalin bisa memicu iritasi parah yang ditandai dengan kulit kering, peradangan kulit, dan ruam.
Jika tidak segera ditangani, beberapa gangguan tersebut bisa menyebabkan munculnya jaringan parut, atau bekas luka di kulit yang merupakan bagian dari proses penyembuhan.
4. Masalah Sistem Pencernaan
Formalin yang tidak sengaja tertelan dan masuk ke dalam tubuh, berpotensi merusak saluran pencernaan. Beberapa gejala yang bisa terjadi, adalah sakit perut, diare, dan peradangan di mulut, kerongkongan, lambung, serta usus.
Dampaknya, formalin bisa memicu perdarahan di organ lambung atau usus. Selain itu, pasien juga rentan mengalami risiko kerusakan organ hati, limpa, pankreas, dan ginjal. Jika gangguan tak segera diatasi, efeknya bisa menyebabkan koma hingga kematian.
Formalin bisa muncul, baik di dalam maupun di luar ruangan. Namun, tingkat formalin biasanya jauh lebih tinggi di dalam ruangan.
Ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari formalin di dalam ruangan.
Di antaranya, adalah memilih produk rendah formalin saat membangun atau merombak rumah, pastikan ventilasi rumah dalam keadaan baik.
Kemudian, keluarkan furnitur baru dan produk kayu pres selama 2-3 hari sebelum membawanya ke dalam ruangan, serta hindari merokok di dalam ruangan.

