Ilustrasi ISPA (Foto: pixelshot via Canva Pro)
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi yang mengganggu saluran napas seseorang. Beberapa contoh ISPA adalah flu biasa, influenza, sinus, dan radang tenggorokan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, dari 11 juta penduduk DKI Jakarta, ada sekitar 100.000 warga yang terkena ISPA setiap bulannya.
Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ngabila Salama mengatakan, hal itu terjadi akibat peralihan cuaca. Seperti diketahui, saat ini sedang masuk musim kemarau dari sebelumnya musim hujan.
“Warga yang terkena batuk, pilek, bahkan pneumonia setiap bulan rata-rata 100.000 kasus dari 11 juta penduduk,” ujar Ngabila dikutip dari keterangannya, Selasa (15/8).
Di sisi lain, Spesialis Penyakit Dalam dr. Alisa Nurul Muthia, SpPD., menjelaskan, infeksi ini terjadi di saluran napas bagian atas dan bawah.
Saluran napas bagian atas meliputi bagian hidung, sinus, telinga bagian tengah, faring, laring, juga tonsil (amandel).
“Selain itu yang disebut sebagai saluran pernapasan bagian bawah, itu dari saluran pernapasan yang lebih bawah. Jadi mulai dari trakea atau batang tenggorokan, bronkiolus, sampai ke alveoli. Jadi bagian kiri paru-paru,” kata dr. Alisa dikutip dalam kanal YouTube DAAI Family, Selasa (15/8).
Penyebab ISPA
ISPA dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh seseorang dalam melawan infeksi virus ataupun bakteri yang menyerang tubuh. Seseorang berisiko tinggi terkena ISPA saat kekebalan tubuh melemah dan menurun.
Beberapa jenis virus yang sering menyebabkan ISPA, adalah Rhinovirus, Respiratory syntical viruses (RSVs), Adenovirus, Parainfluenza virus, virus influenza, virus Corona.
Sementara itu, beberapa jenis bakteri yang juga bisa menyebabkan ISPA, adalah Streptococcus, Haemophilus, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Mycoplasma pneumonia, Chlamydia
Penularan virus dan bakteri penyebab ISPA umumnya terjadi melalui droplet yang keluar dari seseorang saat bersin, batuk, atau berbicara.
Virus atau bakteri dalam percikan liur akan menyebar melalui udara kemudian masuk ke hidung atau mulut orang lain. Selain kontak langsung dengan percikan liur penderita, virus juga dapat menyebar melalui sentuhan dengan benda yang terkontaminasi, atau berjabat tangan dengan penderita.
Orang berusia lebih dari 65 tahun punya risiko lebih tinggi untuk terkena ISPA, dibandingkan mereka yang dikelompokkan sebagai orang dewasa. Ini karena, sistem imunnya mengalami telah penurunan dan telah terdiagnosis penyakit lainnya.
Adapun beberapa penyakit yang termasuk ke dalam ISPA, adalah batuk, pilek, sinusitis, faringitis akut, laringitis akut, pneumonia, Covid-19.
Gejala ISPA
Gejala ISPA umumnya berlangsung antara 1-2 minggu, atau lebih. Untuk memastikan gejala ISPA, pasien bisa melakukan pemeriksaan khusus ke dokter.
ISPA yang terjadi di saluran pernapasan atas, gejala yang ditimbulkan berupa pilek, batuk, hidung gatal, hidung tersumbat, nyeri di telinga, demam, mudah lelah, nyeri saat menelan, bahkan pembesaran kelenjar getah bening.
Sementara itu, ISPA yang terjadi di saluran pernapasan bawah menimbulkan gejala seperti batuk berdahak, sesak napas, dan demam.
Komplikasi ISPA
Jika ISPA mengenai epiglotis, kata dr. Alisa, ISPA bisa menyebabkan sesak nafas berat. Pasien bahkan bisa dipasang alat bantu untuk membuka saluran napas.
“Pada infeksi saluran pernapasan bawah, kalau dia sudah termasuk berat, maka pernapasannya perlu dibantu diberikan obat-obatan untuk mengetahui penyebabnya,” kata dr. Alisa
Apabila tidak ditangani dengan baik, maka ISPA berisiko menjadi infeksi sistemik. Pada kondisi sistem infeksi sistemik, maka organ-organ tubuh akan mengalami gangguan. Selain itu, bisa mengganggu sistem organ. Kondisi ini, akan memperbesar risiko penyakit jantung, liver, ginjal, sampai penurunan kesadaran.
Ada pula infeksi saluran pernapasan yang bisa berisiko menjadi berat. Misalnya seperti infeksi di telinga bagian yang bisa menyebar ke tulang di belakang telinga.
“Kalau sudah sampai situ, ISPA bisa menyebar ke selaput otak. Jadi ada beberapa kondisi yang harus diperhatikan,” ungkap dr. Alisa.
Cara Mengobati ISPA
ISPA umumnya disebabkan oleh virus. Oleh karena itu, pasien tidak memerlukan pengobatan khusus. Meski demikian, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah untuk meredakan gejala.
Di antaranya seperti memperbanyak istirahat, konsumsi air putih untuk mengencerkan dahak, konsumsi lemon hangat atau madu, berkumur dengan air hangat yang diberi garam, menghirup uap dari air panas yang telah dicampur dengan minyak aromaterapi, dan sebagainya.
Cara Mengurangi Risiko ISPA
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurang risiko ISPA. Misalnya seperti menjaga diri, sering mencuci tangan, melakukan vaksinasi, berolahraga secara teratur, istirahat yang cukup, banyak minum air mineral, dan sebagainya.
“Jangan lupa untuk berolahraga secara teratur, atau pergi ke tempat yang punya kadar oksigen tinggi atau daerah dengan kepadatan penduduk yang tidak terlalu tinggi,” tutup dr. Alisa.

