Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi TranscribeGlass (Foto: Hearing Like Me)

Mahasiswa dari Universitas Yale dan Universitas Stanford membuat TranscribeGlass, kacamata khusus untuk teman tuli yang bisa menampilkan subtitle di lensanya.

TranscribeGlass dibuat oleh Madhav Lavakare dari Universitas Yale dan Tom Pritsky dari Universitas Stanford.

Mengutip dari The Stanford Daily, kacamata ini menggunakan teknologi augmented reality (AR) yang bisa menampilkan subtitle (takarir) di lensanya.

Dengan demikian, penyandang disabilitas tuli bisa mengerti apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya melalui teks yang muncul di lensa.

Bisa dibilang, ini merupakan alat yang bisa menampilkan subtitle dari omongan lawan bicara secara real-time.

 

Alasan Pembuatan Kacamata

Pritsky mengidap gangguan pendengaran bilateral sejak usia 3 tahun. Untuk bisa berkomunikasi, dirinya menggunakan alat bantu dengar dan pembaca gerak bibir.

“Saya sangat menyukai teks dalam film. Saya pikir akan sangat luar biasa jika bisa memilikinya di kehidupan nyata,” ujar Pritsky dikutip dalam keterangannya, Senin (13/11).

Di sisi lain, Lavakare terinspirasi untuk menciptakan perangkat ini saat masih duduk di bangku SMA, setelah mengetahui seorang temannya yang tuli terpaksa haru putus sekolah karena tidak bisa mendegar dengan baik.

Lavakare sadar bahwa alat bantu dengar itu mahal dan tidak cocok untuk semua orang. Jadi, dia mulai memikirkan cara baru yang terjangkau untuk membantu teman tuli.

“Mayoritas orang yang dapat menggunakan alat bantu dengar tidak menggunakannya karena berbagai faktor, salah satunya adalah biaya dengan kisaran harga yang lebih rendah, yaitu sekitar USD3.000. Implan koklea bahkan lebih mahal lagi dan membutuhkan pembedahan yang invasif,” jelas Lavakare.

Melalui adanya teknologi AR dan teknologi teks langsung (live-captioning), Lavakare berpikir untuk menggabungkan keduanya.

Lavakare mengusulkan untuk menggunakan tampilan AR untuk memungkinkan pengguna melihat ke arah pembicara, melihat isyarat komunikasi non-verbal mereka, dan melihat teks dalam bidang penglihatan mereka.

Pritsky yang juga menyukai ide tersebut, akhirnya memutuskan untuk bekerja sama dengan Lavakare untuk menciptakan kacamata ini.

Akhrinya, Lavakare mulai membangun prototipe pertama dari sekian banyak prototipe yang sudah ada. Seperti meretas perangkat elektronik, model CAD, perangkat lunak, sampai menulis semua kode.

Meskipun pada awalnya ada keberatan terkait prototipe awal, Lavakare telah mendapatkan beberapa respons positif dari Asosiasi Nasional Tunarungu India, sekolah-sekolah tunarungu, dan pertemuan-pertemuan komunitas.

Cara Kerja TranscribeGlass

TranscribeGlass memungkinkan pengguna untuk memilih layanan teks eksternal seperti file teks dari bioskop, layanan pengenalan suara otomatis, atau teks langsung dari manusia.

Teks tersebut, kemudian dikirim melalui Bluetooth ke perangkat keras yang memproyeksikannya dalam bidang pandang pengguna menggunakan AR. Pengguna kemudian dapat menyesuaikan ukuran dan lokasi teks agar sesuai dengan lingkungan mereka.

 

Berapa Harganya?

Lavakare dan Pritsky sebelumnya telah memproduksi 150 kacamata pertamanya dengan sistem pre-order.

Adapun TranscribeGlass Beta dijual seharga USD55 (sekitar Rp864 ribu asumsi kurs Rp15.714), dengan versi finalnya diperkirakan akan dijual dengan harga sekitar USD95 (Rp1,5 juta).

 

Pembiayaan Awal

Ketika proyek ini mendapatkan daya tarik, Lavakare mulai mengumpulkan dana, merekrut mentor, dan membentuk tim kecil. Ia mengaku, proses awalnya memang tidak mudah.

“Saya adalah seorang anak berusia 18 tahun yang tidak tahu apa yang sedang saya lakukan dan tidak memiliki rencana untuk kuliah. Para investor terkadang hanya menertawakan saya di luar ruangan,” kenang Lavakare.

Menurut Lavakare, teknologi bantuan bukanlah bidang yang menarik, sehingga tidak bisa menarik pendanaan besar seperti bidang lain yang lebih menjanjikan.

Pada tahun 2020, perusahaan ini diambil alih oleh Indian Institute of Technology di Delhi, serta menerima hibah lain dari pemerintah AS dan India.

Pritsky bergabung sebagai salah satu pendiri pada tahun 2021, secara kebetulan bertemu dengan Lavakare melalui seorang teman. Menurut Lavakare, menjalankan bisnis seorang diri merupakan hal yang hampir tidak mungkin, sehingga Pritsky menjadi tambahan yang sangat dibutuhkan dalam tim.

Respons Pengguna

Masukan dari pengguna telah menjadi bagian penting dari proses desain TranscribeGlass. Lavakare mengatakan bahwa selama 5 kali iterasi prototipe mereka, perusahaan ini telah memiliki setidaknya 300 orang yang menguji produk mereka.

Pritsky mengujicobakan produk ini dengan salah satu temannya yang memiliki gangguan pendengaran yang lebih parah.

“Biasanya dia harus melihat saya, jadi kami tidak bisa berjalan berdampingan. Kami sedang berjalan ke sebuah restoran dan kami terus menerus harus berhenti dan berbicara. Setelah itu, kami berjalan dengan menggunakan TranscribeGlass. Dia akhirnya bisa mengikuti percakapan sambil berjalan berdampingan dan itu sangat luar biasa,” kata Pritsky.

Dosen di Pusat Bahasa Stanford yang mengajar Bahasa Isyarat Amerika (ASL) Cathy Haas, mendapat kesempatan untuk mencoba perangkat ini ketika ia bertemu dengan Pritsky di Stanford’s Coffee House.

“Awalnya saya sedikit skeptis. Setelah saya memakainya, saya jatuh cinta,” aku Haas.

Sebagai seorang disabilitas, Haas melihat banyak situasi di mana perangkat ini bisa sangat membantu.

“Dalam situasi medis, saya memiliki masalah besar. Kadang-kadang mereka akan memanggil nama saya, tetapi saya tidak akan mendengar apa pun. Jika saya memiliki perangkat ini, saya bisa langsung merespons. Saya harap saya bisa mendapatkan versi finalnya,” tutup Haas.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: