Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi ParongPong (Foto: Instagram @parong.pong)

Perusahaan daur ulang limbah ParongPong mangubah puntung rokok menjadi produk bernilai jual, seperti asbak, pot bunga, dan furnitur outdoor.

ParongPong RAW Lab, adalah sebuah lembaga penelitian swasta terpadu yang berdiri pada tahun 2017 di Desa Parongpong, Bandung Barat.

ParongPong berfokus pada konversi limbah bernilai rendah agar bisa menjadi bahan bernilai tinggi. ParongPong percaya, tidak ada yang namanya limbah yang hanya bahan yang kurang dimanfaatkan dan tidak direvitalisasi.

Melalui pendekatan pengelolaan sampah dan material sampah berbasis masyarakat, ParongPong bertujuan untuk menjadi penggagas “Parongpong Zero Waste High-Performance Villages”.

Salah satu limbah yang didaur ulang oleh ParongPong, adalah punting rokok. Berdasarkan data Plastic Waste Inputs from Land Into The Ocean (2015) dari sebanyak 187,2 juta ton sampah, sebanyak 52 juta di antaranya adalah puntung rokok.

Sayangnya, sampai saat ini sebagian besar puntung rokok masih dibuang sembarangan. Padahal, butuh waktu 10 tahun untuk puntung rokok bisa terurai.

Pendiri ParongPong RAW Lab Rendy Aditya Wachid menjelaskan, habitat tumbuhan di perkotaan punya risiko tinggi dari sampah puntung rokok.

Demi mengatasi kekhawatiran tersebut, Rendy pun memanfaatkan puntung rokok untuk diolah menjadi barang bernilai jual tinggi. Akhirnya, ia berhasil memanfaatkan puntung rokok sebagai bahan pembuatan furnitur seperti kursi dan meja restoran.

Untuk menjalankan ide ini, Rendy telah melakukan riset terhadap puntung rokok selama 1 tahun. Akhirnya, Rendy menerapkan teknologi hidrotermal untuk mengubah puntung rokok menjadi furnitur.

Menurut Rendy, hidrotermal memiliki tiga prinsip, yakni memanaskan limbah hingga 200 derajat celcius, menghancurkan limbah dengan shredder, dan memberikan tekanan.

Hasilnya, terciptalah sebuah produk yang tidak hanya homogen dan punya daya tahan yang baik, tetapi juga steril.

Kini, Rendy memperkenalkan inovasinya lewat media sosial dan mengajak berbagai komunitas pegiat lingkungan untuk berkolaborasi dan bekerja sama untuk menyempurnakan karyanya.

“Kami percaya, bahwa tidak ada yang namanya sampah yang ada adalah material yang belum terpakai dan terevitalisasi,” ujar Rendy dikutip dalam kanal YouTube DAAI Magazine, Jumat (16/6).

Sejak 2017 Rendy dan tim telah banyak mengkhawatirkan tentang limbah plastik, lalu tahun 2018 mereka sempat melakukan riset prototyping rumah mikro menggunakan styrofoam daur ulang.

Pada tahun 2019, riset tentang puntung rokok ini pun dimulai. Sejak saat itu, mereka mulai mengumpulkan puntung rokok untuk memberikan awareness, bahwa sebenarnya material ini adalah material nomor satu polutan di laut.

Saat ini, ParongPong telah menghasilkan banyak produk dari puntung rokok, tetapi ia berusaha untuk terus menyempurnakan proses pengolahannya. Di dalam satu bulan, ParongPong bahkan mampu daur ulang 6 ton rokok.

“Beberapa keuntungan produk dari puntung rokok, adalah produknya homogen, dia juga andal sekali, tahan cuaca bisa digunakan di outdoor, dia lebih ringan daripada concrete biasa, dan yang paling menarik ini dibuat dari sampah,” kata Rendy.

Produk pertama yang diluncurkan oleh ParongPong, adalah kursi untuk sandaran punggung yang dijual mulai dari harga Rp990 ribu.

Setelahnya, ParongPong terus melakukan beberapa penelitian karena respons pasar yang bagus. Sampai akhirnya, ParongPong memproduksi bangku taman dan pot tanaman yang terbuat dari puntung rokok.

Terbaru, ParongPong sedang mengembangkan potensi untuk membuat material bangunan dari puntug rokok.

“Saya rasa ini bisa jadi potensi menarik, bukan hanya karena ceritanya, tapi kalau diperhatikan teksturnya juga sangat menarik. Ini karena, kami berusaha cari tekstur seperti marmer yang cukup mahal. Akhirnya, kami bisa membuat produk yang bagus, baik secara kualitasnya maupun secara estetik, tetapi dengan harga yang juga murah karena ini bahan bakunya kita dapat dari sekitar kita,” tutup Rendy.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: