Na Ju-Bong menemukan ratusan anak hilang selama puluhan tahun. (Foto: Naver)
Na Ju-Bong (66) menginvestasikan semua uang dan waktunya selama 32 tahun terakhir untuk menemukan 800 orang yang dinyatakan hilang oleh kepolisian.
Na Ju-Bong kini merupakan Asosiasi Nasional Warga untuk Pencarian Anak Hilang dan Keluarga Hilang di Korea Selatan.
Mengutip dari situs web Naver, Na Ju-Bong mulai melakukan pencarian orang hilang pertama kali pada tahun 1991 untuk membantu keluarga kasus “Anak-anak Kodok”.
Alasan Na pertama kali mencari orang hilang, adalah karena dia melihat kesulitan orang lain dan memperlakukannya seolah-olah itu adalah masalahnya sendiri.

Kasus Anak-anak Kodok
Pada bulan Juli 1991, Ketua Na pertama kali bertemu dengan orang tua korban ‘Anak-anak Katak’ di Wolmido, Incheon.
Anak-anak Kodok adalah kasus hilangnya 5 siswa SD di Daegu pada 26 Maret 1991. Mereka berlima pamit untuk mencari telur katak di Gunung Waryong, Daegu, Korea Selatan, tapi mereka tak pernah kembali.
Pada saat itu, para orang tua sedang membagikan brosur di Pulau Wolmido dengan ekspresi kelelahan. Saat Na menyaksikan para ibu yang membagikan brosur, dia menjadi marah saat melihat seorang wanita mengambil brosur dan menggunakan brosur tersebut untuk menyeka permen karet dari sepatu hak tingginya.
Melihat hal tersebut, Na bergegas mendekati para orang tua, memberikan mereka lebih banyak brosur, dan mulai membagikan brosur bersama mereka sambil berteriak ke mikrofon, “Tolong ambil brosurnya.”
Itu adalah hari pertama Na Ju-Bong yang berusia 30-an menginjakkan kaki di ‘Finding Lost Children’. Sejak saat itu, Na Ju-Bong terus melakukan apa pun untuk membantu orang tua dari kasus “Anak-anak Kodok” tersebut.
Na Ju-Bong memproduksi brosur tambahan dengan biaya sendiri, menyediakan penginapan, dan kendaraan untuk orang tua ketika mereka datang ke Seoul. Namun, sangat disayangkan para orang tua kesulitan mencari nafkah karena hanya fokus mencari anaknya, sehingga Na Ju-Bong pun ikut menggalang dana untuk mereka.
“Suatu hari, saya dan istri saya meletakkan kotak penggalangan dana di depan stasiun kereta bawah tanah dan menampilkan pertunjukan. Uang yang diperoleh dari pertunjukan seharian itu, diberikan kepada orang tua. Saat berita ini menyebar melalui media, Asosiasi Toserba Nasional dan sekolah dasar, menengah, dan menengah atas di Daegu juga berpartisipasi dalam penggalangan dana dan berhasil memberikan KRW42 juta kepada lima keluarga tersebut,” ujar Na Ju-Bong dikutip dalam keterangannya, Rabu (20/12).
Setelah melakukan pencarian selama bertahun-tahun, jenazah anak laki-laki tersebut baru ditemukan di Sebanggol, Gunung Waryong, pada tahun 2002, atau 11 tahun setelah mereka dinyatakan hilang.
Pada saat itu, pemeriksaan terhadap jenazah menyimpulkan bahwa ini merupakan kasus pembunuhan, tetapi pelakunya tidak dapat ditangkap. Kasus ini masih belum terselesaikan hingga hari ini karena Undang-Undang pembatasan telah berakhir pada tahun 2006.
Dedikasi untuk Para Orang tua
Alasan mengapa Na mulai mencari orang hilang dengan sungguh-sungguh, adalah karena orang tua korban lain yang ia temui di seluruh negeri. Orang tua yang kehilangan anaknya, datang menemui Na sambil memegang tangannya dan menceritakan kisah mereka saat kehilangan anaknya.
Beberapa kisah yang mereka ceritakan seperti, “Saya membawa anak saya ke pasar dan kehilangannya,” atau “Anak saya menghilang saat pergi ke kamar mandi sebentar di taman hiburan.”; “Anak saya juga hilang.”; sampai permohonan “Tolong temukan anak saya,”.
Kemudian, Na Ju-Bong akan menerima semua selebaran mereka dan membagikannya. Setiap kali ada laporan yang mengatakan mereka melihat anak yang mirip dengan yang ada di selebaran, Na Ju-Bong akan pergi untuk melihatnya sendiri.
“Tidak ada rumah sakit jiwa yang belum pernah saya kunjungi karena mungkin ada orang hilang di sana,” ungkap Na.
Selama masa ujian masuk perguruan tinggi, Na Ju-Bong juga rajin mengunjungi warung internet (warnet) dan sauna di lingkungan sekitarnya untuk mencari anak-anak yang meninggalkan rumah karena stres belajar. Untuk itu, Na juga sering kali bertindak sebagai mediator antara para orangtua dan anak mereka yang kabur dari rumah.

Membuat Perubahan
Na Ju-Bong membuat perubahan besar pada tahun 2002 saat masa pemilihan umum (pemilu) presiden. Pada saat itu, Na meminta semua calon presiden untuk ikut menyebarkan brosur berisi informasi anak hilang selama masa kampanye.
Dengan demikian, di bagian belakang setiap brosur kampanye capres terdapat daftar 40 anak hilang yang sedang dicari oleh Na Jubong. Sebanyak 19 juta brosur berhasil disebarkan secara serentak ke seluruh negeri.
Upaya ini pun membuahkan hasil, sejak sore hari tanggal 4 Desember 2002 ketika brosur dibagikan, ponsel Na dibanjiri panggilan. Dirinya menerima sekitar 40.000 panggilan telepon tanpa henti dari jam 9 pagi sampai jam 8 malam.
Saat mendapat laporan, Na dan timnya akan langsung mendatangi tempat di mana anak tersebut terlihat dan mencari mereka di tempat penitipan anak atau tempat ibadah di kawasan tersebut.
Menariknya, ada juga seorang penculik yang mengembalikan anak yang ia culik setelah melihat brosur tersebut. Berkat cara ini, sekitar 200 anak yang hilang berhasil dikembalikan ke keluarganya masing-masing.

Kesulitan Selama Pencarian
Hal yang paling sulit bagi Na sejauh ini adalah masalah keuangan. Pasalnya, tujuan mencari orang hilang bukan untuk mencari penghasilan.
“Pundak saya terasa berat karena harus bertanggung jawab atas istri dan kedua putra saya. Sambil mencari orang hilang, saya juga sekaligus bekerja berjualan kacang chestnut panggang, tetapi itu tidak cukup untuk mencari nafkah,” kata Na.
Oleh karena itu, sekitar 10 tahun yang lalu Na bekerja di sebuah perusahaan asuransi melalui seorang kenalannya. Na mengenang hari di mana dia menerima gaji pertamanya. Na mengaku, dirinya menangis lama sekali di kantor. Air mata itu merupakan campuran antara penyesalan terhadap keluarga dan rasa pencapaian.
Ketua Na berkata, “Saya memulai pekerjaan ini ketika anak pertama saya berusia tiga tahun. Kini kedua putra saya sudah berusia 35 tahun dan 29 tahun. Saya selalu merasa kasihan pada keluarga saya. Saya hanya berterima kasih kepada istri dan anak-anak saya yang selalu mendukung saya.”
Fokus Saat Ini
Saat ini, Na berfokus untuk menemukan keluarga dari anak-anak yang diadopsi di luar negeri. Pasalnya, ada banyak orang dari luar negeri yang melaporkan hal ini di media sosial.
Mulai dari seseorang yang diadopsi di AS pada usia dua tahun dan meminta bantuan Na untuk menemukan keluarganya.
Ada pula seorang warga Jerman yang datang dengan seorang penerjemah dan meminta untuk menemukan keluarga aslinya.

Rencana ke Depan
Pada tahun 2016, Na Ju-Bong pingsan karena pendarahan otak dan kesehatannya menurun drastis, sehingga membuatnya tidak bisa mendedikasikan dirinya secara penuh dengan sisa pekerjaannya.
Keinginan terbesar Na, adalah menulis buku yang bisa menjadi panduan bagi orang hilang. Na mengatakan, dirinya ingin menjelaskan secara terperinci tentang insiden Anak-anak Kodok ke dalam sebuah buku. Apalagi, kini tidak banyak orang yang tahu bagaimana kisah awal dari insiden tersebut.
Selain itu, Na juga ingin memperkenalkan sistem kompensasi bagi korban kejahatan kejam dan membangun gedung peringatan untuk menghormati para korban.
Saat ini, Na aktif membuat petisi untuk mendorong pembuatan ‘Undang-Undang Penghilangan Orang Dewasa’. UU ini, merupakan sistem yang memungkinkan polisi segera mencari orang dewasa yang dilaporkan hilang.
Jika melihat hukum yang berlaku saat ini, orang dewasa yang dilaporkan hilang hanya diklasifikasikan sebagai orang yang kabur.
Menurutnya, kasus orang dewasa yang hilang juga tidak kalah penting, mulai dari orang tua yang mengidap demensia hingga kejahatan terhadap perempuan.
“Ada banyak kasus di mana mereka tidak dapat ditemukan dengan baik karena kurangnya informasi terkait hukum,” jelas Na.
Demi mewujudkan hal ini, setiap harinya Na meluangkan waktunya selama 3 jam untuk melakukan penelitian terkait orang hilang. Sampai saat ini, Na telah melakukan penelitian selama lebih dari 30.000 jam.
Hal inilah yang menjadi alasan mengapa masih banyak orang yang mendatangi Na, sambil menggenggam secercah harapan.
“Meski berat, kami tidak bisa berhenti mencari orang hilang. Karena ini adalah misi, bukan tugas saya. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menciptakan masyarakat yang aman,” tutup Na.

