Kaligrafi Tiongkok

Co-founder dan CEO SALt Aisa Mijeno (Foto: Asian Scientist)

Aisa Mijeno berhasil menemukan inovasi baru berupa lentera dari garam. Ia pun mendirikan Sustainable Alternative Lighting (SALt) bersama saudaranya, Raphael Mijeno, pada tahun 2014.

SALt adalah sebuah perusahaan sosial yang mengembangkan lentera yang hanya menggunakan garam meja dan air.

Produk andalan mereka, lentera SALt, memenangkan Good Design Award 2018 yang dipersembahkan oleh Japan Institute of Design Promotion. Lentera SALt dapat ditenagai oleh air asin melalui teknologi metal-air.

Mengutip dari Tatler Asia, Mijeno mengaku kini ada lebih dari 1.500 penerima manfaat di seluruh Filipina yang sekarang mengandalkan penemuan SALt-nya.

“Filipina sebagian besar dikenal karena seni dan kerajinan, mode, dan desainnya, tetapi tidak banyak di sisi teknologi dan elektronik. Saya ingin mendapatkan sesuatu di sektor teknologi yang dapat dikenali sebagai orang Filipina, tetapi didukung di seluruh dunia,” ujar Mijeno dikutip dalam keterangannya, Selasa (18/7).

Mijeno mengaku, dirinya mempromosikan SALt sebagai sebuah perusahaan sosial. Hal yang dilakukannya, adalah mencoba mengatasi kesenjangan akses energi di Filipina.

Apalagi, kata Mijeno, Filipina adalah negara kepulauan, sehingga sulit untuk menghubungkan setiap rumah ke jaringan listrik.

“Kami ingin mengatasi kesenjangan tersebut melalui penggunaan sumber daya alam paling melimpah yang kami miliki, yakni air asin atau air laut,” ungkapnya.

Melansir dari Primer, Mijeno menjelaskan, SALt dibangun ketika dirinya memutuskan untuk meninggalkan zona nyamannya. Dulunya, Mijeno bekerja di sebuah industri selama sekitar empat tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah.

Setelah meninggalkan pekerjaannya, Mijeno bepergian ke seluruh negeri dan menjadi sukarelawan di berbagai LSM. Mijeno melakukan segala hal dan mencari tahu apa yang sebenarnya ingin ia lakukan di hidupnya.

Setelah setahun menjadi sukarelawan, Mijeno pun melamar pekerjaan di Greenpeace Filipina. Pekerjaan tersebut mengharuskan Mijeno untuk melakukan perjalanan melintasi Filipina dan berbaur dalam beragam komunitas suku yang tidak dapat diakses oleh pelancong. Di situlah dirinya melihat masalah yang akhirnya ia coba selesaikan.

Mijeno melihat, sebagian besar masyarakat tersebut tidak terhubung ke jaringan listrik, sehingga mereka tidak memiliki akses listrik yang siap pakai.

“Mereka masih menggunakan sistem penerangan api untuk menerangi rumahnya, seperti lentera minyak tanah. Itulah yang membawa saya mencetuskan ide untuk SALt. Saya sempat berpikir, mengapa tidak menggunakan air asin sebagai cara untuk menghasilkan daya yang cukup untuk menyalakan lentera,” kata Mijeno.

Mijeno kemudian memutuskan untuk bergabung dengan akademi, sehingga dirinya bisa mendapatkan akses lebih mudah ke fasilitas pengembangan produk.

Mijeno pun menjadi dosen di Universitas De La Salle di Lipa, Batangas, tempat di mana dirinya juga memulai penelitian mengenai sel bahan bakar yang akan menyalakan sistem penerangan.

“Kesalahpahaman umum tentang SALt, adalah inovasi yang dihasilkan berupa lentera, padahal bukan. Apa yang ada di dalam lentera itulah inovasi sebenarnya, yakni sel bahan bakar yang menggunakan air asin sebagai sumber tenaganya. Lentera itu hanyalah penerapan teknologi. Jika kita dapat mengembangkan ini lebih lanjut, bayangkan saja berapa banyak kegunaan yang dapat kita temukan,” papar Mijeno.

Setelah itu, SALt memenangkan kompetisi yang membantu mereka menjadi perusahaan sosial seperti sekarang ini.

Ke depannya, Mijeno menargetkan SALt bisa memproduksi 45.000 unit lentera pertamanya dan bisa mendistribusikannya di seluruh Filipina.

Namun, mereka sedang mencari strategi yang berbeda sekarang karena terdapat dilema untuk merilis produk secara eceran di Filipina. Ini karena, harga eceran tertinggi (HET) di Filipina yang dinilai terlalu rendah untuk penjualan lampion.

Untuk itu, lebih mudah bagi Mijeno untuk menjual lentera dalam jumlah besar ke perusahaan swasta untuk proyek tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) mereka.

“Hal yang memotivasi kami untuk membuat SALt menjadi lebih baik, adalah orang-orang yang ingin kami layani dan orang-orang yang akan mendapat manfaat dari lentera ini. Mereka adalah alasan utama mengapa kami memulai SALt. Tentu ada kalanya kami ingin menyerah, tetapi setiap kali kami menyerah yang ingin kami lakukan adalah memikirkan mereka yang ingin kami bantu. Begitulah cara kami memperbarui motivasi kami dan terus maju,” tutup Mijeno.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: