Super-isoman Agus Widanarko (Foto: Dok. Pribadi Danar)
Agus Widanarko (42) memulai misi sebagai Super-isoman sejak 2021 lalu dengan mendongeng bagi anak-anak yang sedang melakukan isolasi mandiri dan anak-anak yatim Covid-19.
Danar menjelaskan, misinya dimulai sejak pertama kali Covid-19 varian Delta masuk ke Indonesia pada Juli 2021 lalu. Saat itu, dirinya berprofesi sebagai penyuluh narkoba di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Namun, saat Covid-19 varian Delta merebak di Indonesia sang istri pun dirumahkan, sehingga Danar memutuskan untuk berjualan sembako secara online menggunakan kostum superhero untuk menambah pemasukan.
Danar mengaku, dirinya memang punya banyak kostum superhero karena sebelum Covid-19 Danar kerap menjadi pendongeng keliling.
“Jadi kalau ada orang yang membeli beras 25 kg, saya siap kirim ke rumah pakai kostum kesukaan anaknya yang sedang melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah. Akhirnya jualan saya laku keras karena di tempat lain tidak ada bonus seperti itu. Para pembeli saya pun senang sekali,” ujar Danar kepada DAAI TV, Senin (28/8).
Uang hasil berjualan online pun Danar sisihkan untuk membuat program Jumat berkah, bertajuk “Sego Berkat.” Pada program ini, Danar akan membagikan nasi bungkus untuk pedagang atau orang-orang yang sedang melakukan isoman.
Danar mengaku, mereka yang terbantu dengan program Sego Berkat mayoritas adalah orang dewasa. Untuk memperluas bantuan yang diberikan, akhirnya Danar juga memberikan anak-anak camilan dan vitamin secara gratis. Uniknya, Danar akan membagikan camilan ini menggunakan kostum superhero yang anak-anak sukai.
“Saat mengantarkan makanan dan vitamin, saya juga akan membacakan dongeng dari luar rumah sambil menggunakan kostum superhero, sehingga anak-anak bisa terhibur,” ungkap Danar.

Awal Mula Nama Super-isoman
Meski demikian, tidak sedikit orang yang mencibir kegiatan yang Danar lakukan. Mereka menyebut, Danar seharusnya menjadi Super-isoman yang tidak keluar rumah saat pandemi sedang melanda.
Berawal dari julukan tersebut, Danar akhirnya mengadopsi nama Super-isoman dan ia artikan sebagai superhero yang menghibur dan mendongeng untuk anak-anak yang melakukan isoman.
Sejak saat itu, Danar mengunjungi 5-7 rumah per hari untuk memberikan hiburan bagi anak-anak yang sedang melakukan isoman. Secara total, Danar sudah memberikan bantuan kepada lebih dari 150 anak yang membutuhkan.
Aksi Setelah Pandemi
Meskipun pandemi telah usai, tetapi kegiatan Danar bersama para relawan terus berlanjut. Kini, aksi Danar berlanjut ke anak-anak yatim piatu yang orang tuanya meninggal akibat Covid-19.
Untuk mengakomodasi hal ini, Danar mengumpulkan data anak-anak yang membutuhkan lewat media sosial, kecamatan dan kelurahan setempat, Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak, bahkan hingga Polres.
Setelah data terkumpul, Danar mulai menyortir anak-anak yang cocok diberikan hiburan berupa dongeng menggunakan kostum superhero.
Danar mengatakan, “Kami mengumumkan di media sosial,’Jika ada anak yang ditinggal orang tuanya akibat Covid-19, bisa menghubungi kami. Kami siap memberi kejutan romantis dan keceriaan biar anaknya enggak bersedih terus.’”

Sanggar Bhineka
Tidak bisa melakukannya sendiri, Danar pun bekerja sama dengan sejumlah relawan dari berbagai kampus dan mendirikan Sanggar Bhineka yang menaungi anak-anak dari berbagai latar belakang.
Mereka pun dikelompokkan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan, lalu diberikan bimbingan belajar secara gratis.
Selain itu, anak-anak diberikan waktu bermain dan diberikan kejutan manis saat berulang tahun agar mereka bisa kembali ceria seperti sedia kala.
Penghargaan
Aksi Super-isoman yang membantu anak-anak ini banyak menyita perhatian, termasuk oleh Bupati Sukoharjo Etik Suryani.
Danar mengaku, dirinya juga baru saja mendapatkan tiga penghargaan di bidang literasi. Salah satunya, adalah sebagai superhero yang sering mendongeng kepada anak isoman, sampai membuat perpustakaan dan sanggar belajar untuk anak-anak yatim Covid-19.
Tidak hanya itu, Danar dan relawannya juga rutin berkeliling ke PAUD, TK, sampai SD untuk mendongeng dan membagikan buku dongeng kepada anak-anak. Danar berharap, aksinya ini bisa menumbuhkan lagi rasa cinta anak-anak untuk membaca buku dongeng.
“Ini juga untuk mencegah anak-anak terlalu banyak membuka ponsel. Maka dari itu kami pergi ke sekolah dengan kostum. Tim kami juga menghibur mereka dengan mendongeng dan memberikan nilai-nilai kemanusiaan,” jelas Danar.

Rencana Lanjutan
Danar berharap, ke depannya ada semakin banyak orang tua yang membudayakan membaca dongeng untuk anak-anaknya.
Selain itu, ia juga berharap bisa memiliki tempat yang lebih baik untuk kegiatan belajar mengajar anak-anak agar mereka bisa lebih leluasa untuk belajar dan berkumpul. Tidak hanya belajar, Danar juga ingin melengkapi koleksi buku dan mainan di dalam tempat tersebut.
“Impiannya adalah untuk membangun taman hiburan gratis untuk anak-anak. Syukur-syukur ada yang mau meminjamkan rumah yang tidak terpakai untuk kami gunakan mengajar adik-adik di Sanggar Bhineka,” harap Danar.
Ia juga mengimbau kepada para orang tua untuk memberikan kasih sayang dan memori yang indah untuk anak-anak.
“Buatlah anak-anak tetap bahagia, jangan terlalu diberikan tugas berat, tapi perlu keceriaan, kebahagiaan, biar anak-anak secara pelan-pelan belajar sendiri dan menjadi anak-anak yang bermanfaat untuk bangsa dan negara. Nanti kalau sudah dewasa, mereka akan selalu ingat masa anak-anak dulu adalah masa-masa penuh keceriaan dan kebahagiaan,” tutup Danar.

