Yudi Irwan Sunarjono dan Sri Saktiani pendiri sekolah gratis (Foto: YouTube Pecah Telur)
Yudi Irwan Sunarjono dan istrinya, Sri Saktiani, mendirikan sekolah gratis bernama PADU Permatahati Ibu untuk anak-anak duafa dan yatim-piatu.
Yudi bersama Sri memberanikan diri untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Pendidikan Anak Dini Usia (PADU yang kini disebut PAUD) Permatahati Ibu di di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada 9 September 2004.
Berawal hanya dari tiga orang santri, Sri memulai operasional sekolah yang ada di teras rumahnya ini pada sore hari.
Siapa sangka, sekolah kecil tersebut kini berkembang menjadi lembaga pendidikan MI Modern Sakti Permatahati Ibu di Tulungagung, Jawa Timur.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak anak ataupun orang tua yang tertarik dengan sekolah tersebut.

(Sekolah Permatahati Ibu)
Latar Belakang Pembangunan Sekolah
Sebelumnya, Sri sempat mengenyam pendidikan S1 pada jurusan Tata Boga di IKIP Surabaya (kini Universitas Negeri Surabaya/UNESA).
Saat itu, Sri mendapatkan informasi adanya lowongan kerja di sebuah sekolah swasta di Surabaya. Nekat bersaing dengan banyak pelamar lainnya, akhirnya Sri berhasil diterima di sekolah ini.
Menjadi guru di sebuah sekolah di Surabaya tersebut, membuat Sri semakin menyukai dunia pendidikan dan anak-anak. Setelah menikah dan menetap di Malang, Sri bahkan tetap menjalani profesinya sebagai guru di sekolah tersebut.
“Almarhum ibu mertua itu menyampaikan, ‘Kalau bekerja itu jangan dilihat dari angkanya (gaji) yang kita terima, tapi berkahnya’. Jadi ilmu yang didapat itu tidak hanya berhenti di saya, supaya ilmu yang didapat ketika kuliah itu juga bermanfaat tidak hanya berhenti di saya. Jadi saran dari ibu mertua itu jalani saja, InsyaAllah ridamu membawa keberkahan di keluarga,” ujar Sri dikutip dari kanal YouTube Pecah Telur, Kamis (25/1).
Selama menjadi pendidik di Surabaya, Sri juga merangkap sebagai guru di sebuah lembaga TK di Malang. Hanya hitungan bulan, ia kemudian dipercaya menjadi kepala sekolah TK tersebut.
Meski merasa pendidikannya belum cukup, tetapi Sri bersedia menerima amanah menjadi kepala TK asal ia diberi kesempatan menempuh pendidikan tinggi jurusan Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak (PGTK).
Pada tahun 2004 saat sudah tinggal di Tulungagung, Sakti dan Yudi memantapkan diri mendirikan PAUD dan TK gratis. Mereka memanfaatkan teras rumah milik mendiang orang tua Yudi.
Saat itu sekolah dibuka pada sore hari, mengingat Sakti dan Yudi memiliki tanggung jawab lain pada pagi hingga siang hari.
“Muridnya hanya tiga. Saya menggelar perlak di rumah yang dindingnya bambu, kalau dipegang rontok,” kata Sri mengenang perjuangannya.
Tidak ingin berpuas hanya dengan membuka sekolah gratis di teras rumah, Sri kembali mengikuti perkuliahan di universitas wirausaha (Entrepreneur University) di Yogyakarta, dengan motivasi ingin mendirikan sekolah gratis dengan kapasitas yang lebih besar.
Sri mengenang, “Kalau yang lainnya, kan, ingin mendirikan bengkel, salon, atau travel, tapi yang semuanya itu profit lah. Ini uniknya, kan, justru saya dapat amanah dari suami untuk, ‘Bagaimanapun caranya kita bisa mendirikan sekolah gratis,’ ide Pak Yudi begitu.”
Pada suatu kesempatan, Sri menghadiri acara temu pengusaha nasional di Yogyakarta, saat itu dirinya diberi waktu kurang lebih tiga menit untuk melakukan presentasi tentang keinginannya mendirikan PADU gratis di Tulungagung.
Meskipun presentasi tersebut belum bisa menggaet investor, tetapi Sri bersyukur karena berkesempatan untuk bertemu banyak narasumber hebat dan para pengusaha, salah satunya adalah Dewi Motik Pramono.
Melihat kegigihan Sri, Dewi akhirnya mengizinkan Sri untuk melakukan observasi di lembaga miliknya. Alhasil, Dewi mengizinkan Sri mengadopsi beberapa metode pembelajaran dari TK Ar-Rahman Motik untuk kemudian diterapkan di PADU Permatahati Ibu.

(Sekolah Permatahati Ibu)
Menarik Minat Orang tua
Meskipun kondisi bangunan sekolah gratis ini tidak memungkinkan, tetapi semakin lama semakin banyak orang tua murid yang berminat menyekolahkan anaknya di tempat Sri.
Mulai dari 3 orang, murid yang bergabung di PADU Permatahati Ibu bertambah menjadi 54 orang. Akhirnya Sri dan Yudi merekrut pengajar dari lingkungan sekitar.
“Saya cari yang cinta anak dan mau belajar karena tujuan saya memang memberdayakan yang masih belum mempunyai pekerjaan,” jelas Sri.

(Murid Sekolah Permatahati Ibu)
Membuat Sekolah Lanjutan
Pada tahun 2007, orang tua murid mengusulkan untuk mendirikan lanjutan dari PAUD karena mereka lebih menyukai metode pembelajaran di PADU Permatahati Ibu.
Akhirnya Sri dan Yudi pun mengajukan proposal pembuatan sekolah lanjutan bernama Madrasah Ibtidaiah (MI) Alam Permatahati Ibu. MI ini, rencananya akan dibangin di atas tanah peninggalan ibunda Sri.
Awalnya, proposal pembangunan MI ini ditolak oleh Kementerian Agama (Kemenag) dengan alasan kuota murid yang tidak mencukupi.
Tidak patah semangat, Sri melakukan studi banding ke beberapa sekolah agar bisa meyakinkan pihak pemerintah. Akhirnya, pada 2010 MI Alam Permatahati Ibu diresmikan dan menjadi MI pertama di Kecamatan Tulungagung.
“Jadi bismillah biidznillah lembaga yang kami dirikan ini, bagian bentuk dari niat kami bertobat dan berharap hijrah kami untuk menjadi anak yang saleh-salehah itu doanya sampai kepada yang menitipkan. Harapan kami, semoga sisa usia kami barokah dengan mencetak anak saleh-salehah dan doanya sampai kepada almh yang telah memberikan tanah kepada kami,” ungkap Sri.
Di dalam dalam perkembangannya, sekolah ini mengganti namanya menjadi MI Modern SAKTI Permatahati Ibu.
Saat pertama kali didirikan, MI ini memiliki 7 orang santri dan kini terus bertambah sampai 134 santri. Menariknya, MI ini sudah mendapat legalitas sebagai MI inklusif dan ramah anak karena menerima 16 anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama.

(Murid Sekolah Permatahati Ibu)
Membangun Sekolah Lebih Besar
Ambisi Sri dan Yudi dalam membangun sekolah tak padam. Setelah mendirikan MI Modern SAKTI Permatahati Ibu, keduanya ingin membangun sekolah ini dengan lebih besar agar ada semakin banyak anak yang bisa mendapatkan pendidikan gratis.
Sri berniat untuk membeli tanah lapang milik tetangganya untuk membangun sekolah, tetapi saat itu dirinya belum memiliki cukup biaya dan tidak berhasil mendapatkan pinjaman. Padahal, Sri diberikan tenggat waktu sampai akhir tahun untuk bisa membeli tanah, sebelum penawarannya diberikan kepada orang lain.
“Saya masih ingat ada pengemis tunanetra lewat rumah, terus saya minta anak sulung saya untuk mempersilakan mampir ke warung di depan rumah. Setelah makan dan memberikan ongkos pulang kepada pengemis tersebut, sorenya saya dapat pinjaman dari kakaknya kawan saya. Saya hanya diminta untuk tertib mengangsur ke bank karena agunannya adalah sertifikat rumah mereka,” kisah Sri.
Setelah mendapatkan pinjaman, Sri langsung membeli tanah lapang tersebut sebelum tenggat waktu penawarannya habis.
Akhirnya, Sri dan Yudi bisa mendirikan sekolah di tempat yang lebih luas, bahkan sekarang bangunan sekolahnya dibuat menjadi dua lantai untuk mengakomodasi minat orang tua terhadap sekolah tersebut.
Selain memberikan manfaat bagi anak-anak yang kurang mampu, Sri dan Yudi juga memberikan manfaat kepada para guru honorer yang kini mengajar di sekolah tersebut.
“Memang bagian dari lika-liku perjuangan, dari yang awalnya hanya (sekolah di) teras rumah, alhamdulillah sekarang sudah menjadi madrasah. Semuanya diawali bismillah biidznillah. Saya selalu mengajak santri, wali santri, sahabat guru, terutama diri saya sendiri dan keluarga, mari kita selalu ikhtiar untuk menggolongkan diri menjadi jadi hamba Allah swt. yang cerdas. Menyibukkan diri mencari bekal amal untuk alam kehidupan akhirat yang kekal,” tutup Sri.
Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

