Kaligrafi Tiongkok

Mahasiswa UGM pembuat Ferrumium (Foto: ugm.ac.id)

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengolah limbah korek dan botol menjadi action figure yang tersambung dengan teknologi Augmented Reality (AR).

Action figure yang dibuat oleh lima mahasiswa Teknik Fisika UGM ini, diberi nama Ferrumium. Selain menggunakan barang bekas, action figure ini juga menggabungkan unsur digital berupa teknologi AR.

Ferrumium dirancang oleh Yohanes Mario Putra Bagus, Bintang Putra Megantara, Muhammad Fachrurrozy, Muhammad Iqbal Fajri, serta Stephanie Chika Devanesa Daniarto di bawah bimbingan Dr. Ir. Nur Abdillah Siddiq, S.T., IPP.

Mereka mengembangkan produk tersebut melalui dana hibah Program Kreativitas Mahasiswa – Kewirausahaan Kemenristekdikti 2023.

Ketua Pengembang Ferrumium Mario mengatakan, pembuatan Ferrumium berangkat dari kecintaannya terhadap series mecha, seperti Gundam dan Transformer.

Di sisi lain, dirinya juga prihatin terhadap pengelolaan sampah yang belum dilakukan secara maksimal di tanah air. Oleh karena itu, ia bersama timnya berinovasi menyulap limbah korek api gas, botol plastik, dan kayu menjadi action figure estetik dan bernilai ekonomi.

“Tak seperti miniatur robot yang ada di pasaran pada umumnya menggunakan bahan baku plastik, Ferrumium berasal dari mendaur ulang sampah bekas korek api gas, botol, dan kayu yang didapatkan dari pengepul rosok ataupun bank sampah,” ujar Mario dikutip dalam keterangannya, Selasa (17/10).

 

Pemanfaatan Limbah dan AR

Mario menjelaskan, visualisasi metal yang tergambarkan melalui dominasi korek api gas, membuat Ferrumium seolah-olah terbuat dari metal layaknya robot pada umumnya. Pemanfaatan teknologi AR juga menjadi ciri khas Ferrumium daripada miniatur robot lainnya.

Adapun Ferrumium mengadopsi berbagai karakter pewayangan sebagai karakternya, seperti Puntadewa-23, Janaka-04, Werkudara-02, dan masih banyak lagi.

Penggunaan karakter pewayangan ini, ditujukan untuk mempromosikan kearifan lokal berupa cerita pewayangan yang saat ini kurang digemari oleh masyarakat. Tentunya, setiap karakter memiliki keunikan masing-masing berdasarkan cerita dalam pewayangan.

“Fitur AR membuat pembeli dapat menikmati 3D modeling melalui aplikasi Ferrumium,” imbuh Bintang.

Bintang mengatakan, meski berbahan dasar barang bekas, Ferrumium tidak memiliki tampilan yang lusuh atau terkesan seadanya.

Ferrumium dibuat sedemikian rupa dengan memperhatikan detail dan estetika action figure, sehingga termanifestasi sebagai karya seni dengan tampilan visual yang sangat menarik.

“Action figure kami desain dengan tinggi 30 cm dan lebar 10-15 cm ini memiliki struktur yang kokoh, sehingga dapat dimainkan selayaknya action figure pada umumnya,” tutup Bintang.

Sarana Edukasi

Stephanie menambahkan, Ferrumium juga hadir sebagai sarana edukasi karena penamaan karakter yang ada didasarkan pada kisah tokoh pewayangan.

Dengan demikian, Ferrumium menjadi media pengenalan dan pelestarian budaya bangsa agar tidak terkikis dengan laju perkembangan zaman.

“Ferrumium kami pasarkan 1 set berisi 1 Ferrumim, 1 penyangga, 3 stiker, serta 1 akun aplikasi. Untuk satu paketnya kami jual seharga Rp300.000,” kata Stephanie.

Produk ini dipasarkan melalui sosial media Instagram @pkmugm_ferrumium dan Facebook pkmugm_ferrumium. Selain itu, produk ini juga tersedia di market place seperti Amazon dan Shopee.

Kehadiran Ferrumium tidak hanya memberikan nuansa baru bagi pengkoleksi action figure. Namun, produk ini juga mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan dalam mewujudkan lingkungan yang sehat dan nyaman, melalui pemanfaatan limbah sampah dan bentuk kewirausahaan dalam sektor industri kreatif.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: