Penulis : Grace Kolin

Istilah flexing belakangan menjadi salah satu istilah yang populer. Tidak hanya itu, istilah ini juga kadang terselip dalam obrolan, terutama obrolan di kalangan anak muda yang melek terhadap media sosial. Mengutip dari tirto.id, flexing merupakan salah satu istilah dalam dunia ekonomi, terutama dalam lingkup marketing dan investasi. Istilah ini digunakan untuk menyebut perilaku memamerkan kekayaan dengan tujuan tertentu.

Jauh sebelum istilah ini populer di masa sekarang, istilah sudah lebih dulu populer di 2014. Fenomena kemunculan dan perilaku ‘crazy rich’ di media sosial menjadi salah satu faktor yang membuat istilah ini kembali mencuat dan bahkan sempat menjadi pembahasan di media massa.

Menurut financial consultant Desvalia D. S, QWP dalam progam Keuangan Milenial DAAI TV, konten menunjukkan kemewahan di media sosial termasuk konten laku dan diminati para netizen. Padahal tidak semua kekayaan dan kemewahan yang ditampilkan itu nyata. Desvalia mengungkapkan ada beberapa alasan yang mendasari seseorang dalam melakukan flexing:

  • Menambah rasa percaya diri

Dalam beberapa penelitian, seseorang yang merasa sedih atau kurang percaya diri cenderung akan membeli barang-barang mewah. Setelah menggunakan barang mewah rasa percaya diri mereka akan meningkat. Hal ini senada dengan pendapat Veronica Adesla, M.Psi, psikolog klinis yang pendapatnya dikutip Devalia: “Perilaku flexing terjadi karena seseorang merasakan insecure dan ragu dengan kemampuan diri sendiri sehingga membutuhkan pengakuan keberhasilan dari lingkungannya.”

  • Memiliki masalah kepribadian

Ada beberapa kepribadian yang terkait dengan perilaku pamer, salah satunya histrionik. Yaitu orang yang suka mencari perhatian karena mereka ingin agar orang lain memperhatikan mereka sebagai orang yang hebat.

  • Menarik perhatian

Para pelaku flexing biasanya akan berusaha agar keberadaannya disadari hingga akhirnya mendapat perhatian, baik dengan perhatian yang mencolok atau menggunakan barang-barang mewah.

  • Tekanan sosial

Tuntutan dan gaya hidup dalam pergaulan atau lingkungan sekitar juga dapat menjadi salah satu faktor terjadinya pamer di media sosial.

Ada dua dampak negatif flexing menurut Desvalia:

  • Semakin konsumtif

Hidup seseorang yang sering melakukan flexing akan semakin konsumtif, karena mereka akan hidup untuk memenuhi kesan dari banyak orang agar selalu terlihat menjadi orang kaya. Sehingga orang yang melakukan flexing sering membeli banyak hal untuk mendukung kesan tersebut. 

  • Berhutang

Jika orang tersebut tidak sanggup untuk memenuhi kesan menjadi orang kaya, maka kemungkinan ia akan akan memenuhinya dengan cara yang di luar kemampuan, yaitu nekat berhutang. Ini akan menjadi masalah besar jika ia tidak sanggup membayar utang tersebut.

Untuk menyikapi orang yang sering flexing, Desvalia menyarankan untuk tidak perlu ambil pusing. Terkadang perilaku flexing dapat membuat seseorang membandingkan pencapaiannya dengan orang lain, sehingga berujung pada rasa galau yang berkepanjangan. Namun jik a disikapi dengan positif, konten flexing juga dapat menjadi pemacu semangat dan motivasi bagi seseorang untuk meraih sesuatu yang ia impikan.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber