Supardi, guru di SDN Cikawung (Foto: YouTube Mimpi Jadi Nyata)
Supardi (30) telah 12 tahun mengabdi sebagai guru honorer di kelas jauh SDN Cikawung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tempatnya diulu bersekolah.
Supardi adalah satu-satunya guru di SDN Cikawung, sehingga ia harus mengajar semua mata pelajaran dari kelas I-VI SD.
Setiap hari, Supardi menempuh waktu dua jam untuk bisa sampai ke sekolah. Meskipun harus melewati pantai dan hutan, tetapi Supardi tetap semangat dalam memberikan ilmu kepada anak didiknya.
“Menurut saya, pendidikan di sini sangat memperhatikan. Akhirnya, saya berniat di dalam hati bahwa saya ingin melanjutkan sekolah lagi karena saya ingin benar-benar membantu. Di sisi lain, ini kan tempat kelahiran saya. Kalau misalnya tidak (dimajukan) oleh kita, mau siapa lagi gitu yang memajukan tempat ini?” ujar Supardi dikutip dalam tayagan YouTube Mimpi Jadi Nyata DAAI TV, Rabu (26/4).

Supardi mengaku, ada kebanggaan tersendiri baginya jika bisa mengabdikan diri ke sekolah, mengamalkan ilmunya ke anak-anak, serta bisa terus bertahan mengajar di sekolah sampai saat ini.
Selain kekurangan guru, keadaan ruang kelas di sekolah ini juga cukup mengkhawatirkan. Sebanyak 29 murid di sekolah ini, harus berdesakan saat belajar karena tidak ada meja dan kursi yang cukup untuk digunakan seluruh murid.
Ia merasa tidak tega untuk meminta sumbangan kepada orang tua murid karena kondisi ekonomi mereka yang terbilang lemah.
Keadaan sekolah yang sangat terbatas, membuatnya ingat pada kondisi saat ia bersekolah dahulu. Supardi mengaku, sejak dulu SDN Cikawung memang hanya memiliki satu guru yang mengampu semua mata pelajaran.
Supardi ingat, saat itu gurunya pun jarang masuk ke kelas, sehingga membuatnya kesulitan mengikuti banyak pelajaran.
Melihat keadaan yang serba terbatas ini, membuat Supardi tetap semangat untuk mengajar agar bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik.
“Jadi saya terketuk hati, kalau misalkan tidak saya sebagai putra daerah, siapa yang mau ke Cikawung? Saya juga terketuk hati juga, bahwa anak-anak di sana itu (harus) mendapatkan pendidikan yang baik dan layak,” tutup Supardi.

