Kaligrafi Tiongkok

Perwakilan Tzu Chi di PBB Steve Chiu (Foto: Tzu Chi USA 360)

Yayasan Buddha Tzu Chi turut berpartisipasi dalam konferensi para pihak konvensi kerangka kerja PBB tentang perubahan iklim (Conference of the Parties 28/COP28).

Ini merupakan konferensi Perubahan Iklim PBB ke-28 yang diadakan di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), pada 30 November hingga 12 Desember 2023.

Konferensi Para Pihak UNFCCC telah diadakan setiap tahun sejak 1995, kecuali pada 2020 karena pandemi Covid-19. Pertemuan para pihak ini, bertujuan untuk menyepakati kebijakan untuk membatasi kenaikan suhu global dan tindakan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Di dalam konferensi ini, tim Tzu Chi bertemu dengan perwakilan di seluruh dunia dan berkolaborasi dalam memerangi krisis iklim.

Salah satu Perwakilan Tzu Chi di PBB Steve Chiu mengatakan, Tzu Chi berada di COP28 untuk mengadvokasi, berbagi, merefleksikan, dan membangun hubungan.

“Kita perlu mengadvokasi nilai-nilai dan kerangka kerja yang memungkinkan kita untuk membangun dunia yang lebih adil dan transformatif bersama-sama, menciptakan komunitas yang penuh kasih dan kepedulian terhadap planet ini, manusia, dan semua makhluk di dalamnya,” ujar Steve dikutip dalam video Tzu Chi USA 360.

Peluncuran Faith Pavilion

Tahun ini, untuk pertama kalinya COP28 meluncurkan Faith Pavilion yang menyediakan ruang khusus bagi organisasi-organisasi lintas agama untuk saling terhubung di konferensi tersebut.

Faith Pavilion dibuat oleh Dewan Tetua Muslim bekerja sama dengan COP28 UAE, Kementerian Toleransi dan Koeksistensi, dan Program Lingkungan PBB (UNEP), paviliun ini ditujukan sebagai tempat berkembang dan berkolaborasi lintas agama dalam menanggapi krisis iklim.

Chief Executive Officer Tzu Chi USA Debra Boudreaux menjelaskan, ini merupakan pertama kalinya UNFCCC mengizinkan dan mengundang berbagai organisasi lintas agama untuk hadir di meja konferensi untuk berbagi upaya dan kepedulian.

Tzu Chi juga berpartisipasi dengan mengadakan sesi doa pagi di paviliun tersebut. Menurut Debra, ini merupakan terobosan lain di dalam konferensi untuk saling menghormati dan juga menunjukkan keragaman budaya.

Krisis Iklim dan Pengungsi

Sebagai permulaan, delegasi Tzu Chi menghadiri sebuah panel yang dipimpin oleh Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi di Faith Pavilion yang menampilkan Filippo Grandi.

Di dalam panel tersebut, diketahui bahwa ada titik temu yang sangat besar antara pengungsi dan iklim. Ketika krisis iklim memburuk, banyak orang akan dipaksa untuk meninggalkan kampung halaman mereka karena kekeringan, kelaparan, dan meningkatnya permusuhan internasional.

Melalui pemikiran tersebut, Grandi mendesak para anggota parlemen untuk memastikan bahwa setiap tanggapan tidak hanya mempertimbangkan mereka, tetapi juga menanggapi kekhawatiran mereka dengan baik.

Mempromosikan Pola Hidup Bervegetaris

Yayasan Buddha Tzu Chi kemudian menyelenggarakan panel bertajuk “Seruan untuk Bertindak bagi Menteri Kesehatan: Kita Perlu Pola Makan Sehat untuk Manusia dan Planet yang Sehat” di Paviliun Food4Climate, bersama dengan ProVeg International dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pola makan dan sistem pangan memiliki dampak yang sangat besar, tidak hanya bagi kesehatan manusia, tetapi juga bagi kesehatan planet ini. Penggembalaan ternak, kultur tanaman tunggal, dan penggunaan pupuk kimia yang berbahaya, semuanya telah menyebabkan kerusakan besar pada lingkungan kita.

Untungnya, ada banyak solusi sistem pangan yang memiliki kekuatan untuk mengubah dunia kita menjadi tempat yang lebih adil dan berkelanjutan bagi kita dan generasi mendatang.

“Pembicaraan tadi sangat menarik karena jika kita ingin sehat, hal yang perlu kita lakukan adalah menjaga lingkungan kita dan kembali ke cara-cara tradisional yang kita makan,” kata Tiffany Tu, anggota delegasi Tzu Chi di COP28.

Xananine Calvillo Ramirez dari ProVeg International Youth Board mengatakan, kita juga perlu mencoba mempromosikan sistem pangan berbasis tanaman (plant-based food).

“(Kita juga perlu) mempelajari kembali sistem pangan masyarakat adat yang saat ini telah tergeser oleh industri pangan secara keseluruhan,” kata Ramirez.

Hal yang sama juga diamini oleh jelas Linda Mahy, Petugas Teknis yang berfokus pada Nutrisi di WHO. Menurutnya, perubahan ini tidak hanya harus terjadi, tetapi juga harus segera dilakukan.

“Kami benar-benar ingin menghubungkan aksi perubahan iklim dan gizi secara bersamaan karena ini adalah solusi yang saling menguntungkan untuk kesehatan manusia dan kesehatan planet ini,” ungkap Mahy.

Berdasarkan perspektif ini, para peserta didorong untuk membawa sistem pangan ke pusat pembicaraan pada Konferensi Tingkat Menteri Kesehatan yang berlangsung pada tanggal 3 Desember.

Deklarasi Perubahan Iklim dan Kesehatan juga mengakui urgensi untuk mengambil tindakan terhadap perubahan iklim, serta manfaat dari pergeseran ke pola makan sehat yang berkelanjutan.

Inilah saatnya bagi pemerintah, warga negara, dan industri untuk melakukan perubahan yang diperlukan untuk mewujudkan dunia yang lebih baik bagi kita semua.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: