Sahabat DAAI, ternyata masyarakat perkotaan dianggap akan kehilangan kemampuan untuk mencerna sayuran | Foto: Canva
Sahabat DAAI, ternyata masyarakat perkotaan dianggap akan kehilangan kemampuan untuk mencerna sayuran. Apa faktanya?
Melansir dari Kompas.com, penelitian baru yang dilakukan oleh ahli mikrobiologi Sarah Moraïs dari Universitas Ben-Gurion Negev di Israel menarik perhatian.
Pasalnya, masyarakat kota dianggap akan kehilangan kemampuannya untuk mencerna sayuran yang diakibatkan oleh berubahnya pola makan.
Masyarakat perkotaan yang memiliki pola makan kekurangan serat dapat mengubah kinerja usus dalam mencerna bahan-bahan nabati.
Kemampuan Manusia Mencerna Makanan
Para ilmuwan baru mulai memahami bagaimana tubuh manusia mampu memecah selulosa yang ditemukan saat mengonsumsi makanan berserat, seperti buah-buahan dan sayuran.
Melansir dari penelitian Universitas Putera Batam, selulosa merupakan senyawa organik yang tidak larut dan tidak dapat larut dalam air.
Ketika seseorang mengonsumsi makanan berserat, selulosa akan mendukung pergerakan usus secara teratur dan mampu membantu mendorong makanan melalui saluran pencernaan manusia.
Pada dasarnya, tubuh manusia yang memiliki senyawa organik selulosa dapat meningkatkan kesehatan manusia. Misalnya, mampu mengurangi risiko penyakit jantung dan kanker lambung.
Mengutip dari Healthline, selulosa adalah rangkaian molekul-molekul gula yang terhubung dalam bentuk rantai panjang.
Jauh sebelumnya, para ilmuwan telah menemukan adanya bakteri usus dalam tubuh manusia yang bisa mencerna makanan berserat.
Namun, studi baru menjelaskan manusia memiliki banyak kesamaan dengan hewan. Selama ini, usus manusia memiliki spesies mikroba yang berguna sebagai pengunyah selulosa. Spesies mikroba ini termasuk dengan genus Ruminococcus.
Kehilangan Kemampuan Makan Sayur
Sayangnya, mikroba usus yang memiliki manfaat, justru jarang ditemukan dalam tubuh masyarakat modern yang tinggal di perkotaan.
Hal ini menimbulkan banyak dugaan bahwa mikroba yang seharusnya berkontribusi untuk menyehatkan metabolisme tubuh manusia justru hilang dalam tubuh masyarakat perkotaan.
Dugaan ini, terjadi karena adanya kemungkinan pengaruh perubahan gaya hidup masyarakat kota.
“Temuan ini secara kolektif menyiratkan penurunan spesies mikroba pencerna serat di usus manusia,” jelas para penulis penelitian, ahli mikrobiologi Sarah Moraïs dari Universitas Ben-Gurion Negev di Israel dikutip dari kompas.com, Senin (1/4/2024).
Mikroba usus yang jarang ditemui, menyebabkan masyarakat kota berpotensi kehilangan kemampuan untuk mengonsumsi makanan berserat, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.
Sumber Senyawa Selulosa
Senyawa selulosa dapat ditemukan di buah-buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, tumbuh-tumbuhan, dan makanan nabati lainnya.
Namun, jumlah kandungan senyawa Selulosa biasanya jauh lebih banyak ditemukan dalam buah-buahan dan sayur-sayuran.
Penulis: Kerin Chang

