Kaligrafi Tiongkok

Yayasan Buddha Tzu Chi (Foto: tzuchi.or.id)

Tzu Chi Indonesia berdiri pada 28 September 1997. Setelah 30 tahun berlalu, Tzu Chi Indonesia telah banyak berkontribusi di bidang sosial dan kemanusiaan bagi Nusantara.

Yayasan Buddha Tzu Chi merupakan lembaga sosial kemanusiaan lintas suku, agama, ras, dan negara, serta berprinsip pada cinta kasih universal.

Yayasan Buddha Tzu Chi didirikan oleh Master Cheng Yen pada tahun 1966. Berpusat di Hualien, Taiwan, Tzu Chi saat ini memiliki 372 kantor di 54 negara dan telah tercatat sebagai salah satu International NGO di PBB.

Benih Tzu Chi masuk ke Indonesia pada tahun 1993, ketika seorang relawan Tzu Chi Taiwan Liang Cheung, datang ke Indonesia mendampingi suaminya.

Setelah banyak berkenalan dengan masyarakat sekitar, mereka pun berkomitmen untuk melakukan misi sosialnya di Indonesia. Di tahun 1994 mereka berkunjung ke Hualien, Taiwan, untuk meminta restu Master Cheng Yen agar bisa mendirikan Tzu Chi di Indonesia.

Saat itu Master Cheng Yen berpesan, “Bagi yang mencari nafkah di negeri orang, harus memanfaatkan potensi setempat, dan berkontribusi bagi penduduk setempat.”

Akhirnya, Yayasan Buddha Tzu Chi berdiri di Indonesia. Setelah tiga tahun lebih menjalankan misi-misi Tzu Chi di Indonesia, pada tanggal 28 September 1997, Master Cheng Yen memberikan patung Buddha Avalokitesvara sebagai simbol pengakuan terhadap Tzu Chi Indonesia. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Tzu Chi Indonesia.

Kehadiran Tzu Chi di Indonesia

Sejak berkiprah di Indonesia pada tahun 1993, insan Tzu Chi selalu terlebih dahulu memberi bantuan kepada orang lain, membangun sekolah juga rumah. Setelah segala hal ini dilakukan, baru kemudian Tzu Chi Indonesia membangun rumahnya sendiri.

Tzu Chi Indonesia mendirikan sebuah pusat kegiatan baru, yaitu Aula Jing Si (komplek Tzu Chi) yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Huruf “Jing” (dalam bahasa Mandarin) berarti tidak tergoyahkan, sebuah kondisi yang sangat tenang. Sementara itu, “Si” berarti berpikir atau merenung, maka “Jing Si” berarti dengan hati yang tenang memikirkan permasalahan kehidupan.

Peletakan batu pertama bangunan ini dilakukan pada tanggal 10 Mei 2009, bersamaan dengan Peringatan Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia tahun 2009.

Berdiri di areal seluas 10 hektare, bangunan utama Aula Jing Si ini terdiri atas 8 lantai, dan menjadi pusat kegiatan Tzu Chi Indonesia. Mencakup kantor yayasan, studio DAAI TV, pusat pengembangan empat misi Tzu Chi, serta pusat pendidikan dan bimbingan bagi masyarakat.

Setelah hampir 3 tahun pembangunan, akhirnya pada tanggal 7 Oktober 2012 Aula Jing Si Indonesia diresmikan oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Masyarakat (Menko Kesra) RI Agung Laksono.

 

Peran di Masyarakat

Sejak tahun 1993, relawan Tzu Chi sudah mulai bersumbangsih pada masyarakat sekitar. Pada April 1994, Tzu Chi Indonesia mulai mengunjungi panti jompo secara rutin.

Pada Juli 1994, Tzu Chi mulai memberikan bantuan bencana berupa lampu petromaks pada korban bencana tsunami di Jawa Timur. Kemudian, bulan Desember 1994 saat Gunung Merapi di Jawa Tengah meletus, Tzu Chi memberi bantuan kebutuhan hidup dan juga perumahan.

Di dalam perjalanannya, bantuan yang diberikan semakin bervariatif. Mulai dari pemberian beasiswa pada siswa SDN Jembatan Baru, Jakarta Utara, bantuan kepada pasien penanganan khusus yang pertama, Ferry yang menderita rakhitis, hingga program pemberantasan TBC di Tangerang.

Sejak tahun 2000, perkembangan Tzu Chi Indonesia semakin nyata dengan sumbangsih dalam koridor 4 misi utama. Di antaranya misi amal, misi kesehatan, misi pendidikan, dan misi budaya humanis.

Hingga kini, meski berlabel yayasan Buddha, tetapi para donatur dan relawan Tzu Chi berasal dari berbagai agama. Begitu pun dalam setiap kegiatannya, tidak pernah memandang suku, agama, ras, dan golongan.

Dimulai dari Jakarta, benih-benih Tzu Chi terus berkembang. Kini Tzu Chi Indonesia telah memiliki kantor cabang/kantor penghubung di 18 kota di Indonesia.

Berdirinya DAAI TV

Pada suatu kesempatan di tahun 2004, Master Cheng Yen mengatakan pada insan Tzu Chi Indonesia tentang kemungkinan sulitnya menyebarkan budaya kemanusiaan di Indonesia karena mereka tidak memiliki DAAI TV.

Kala itu Master hanya berkata dengan ringan, tetapi relawan mendengarkan dengan sepenuh hati. Begitu pulang, mereka secepatnya mempersiapkan pendirian DAAI TV.

Insan Tzu Chi Indonesia mengajukan permohonan izin kepada pemerintah setempat, dan Gubernur DKI Jakarta memberikan izin terakhir untuk pendirian stasiun TV lokal kepada Tzu Chi.

Setelah memperoleh izin, maka tanggal 25 Agustus 2007, DAAI TV Indonesia secara resmi diluncurkan di Jakarta. Benar (zhen), bajik (shan), dan indah (mei), menjadi prinsip DAAI TV hingga kini.

Kegiatan Terbaru

Selama 30 tahun terakhir, bantuan Tzu Chi Indonesia tetap konsisten mengalir ke masyarakat. Pada Maret 2023 lalu, Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama Tzu Chi Indonesia dan beberapa mitra lainnya meresmikan pembangunan asrama Brimob Polda Kalimantan Barat (Kalbar). Pembangunan ini dilakukan karena bangunan sudah tidak layak huni.

Selanjutnya, pada Juni 2023 relawan Tzu Chi menyalurkan sembako kepada keluarga korban bencana puting beliung di Pulau Kasu, Batam.

Kemudian, pada Agustus 2023 Tzu Chi Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengadakan program bedah rumah di kawasan Palmerah, Jakarta Barat.

Program bedah rumah ini diberikan kepada warga prasejahtera di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Sebanyak 19 unit rumah warga rencananya akan dibedah karena mengalami kerusakan berat dan tidak layak huni.

Tidak lama setelah itu, Tzu Chi Indonesia memberikan paket bantuan kepada keluarga korban kebakaran di Teluk Gong, Jakarta Utara, dan di Jl Tanah Abang 1 Kebon Jahe, Gang Kober, Jakarta Pusat.

Bukan hanya bantuan hunian, Tzu Chi Indonesia juga menunjukkan komitmennya pada bantuan kesehatan. Hal ini tecermin dari bantuan operasi katarak bagi 6 pasien di RS Fadhillah, Prabumulih, Sumatra Selatan, pada 18-20 September 2023.

Ke depannya, Tzu Chi Indonesia akan terus membantu dan bersumbangsih kepada mereka yang membutuhkan, sambil menumbuhkan cinta kasih antarsesama.

30 Tahun Tzu Chi Indonesia

Di usia Tzu Chi Indonesia yang menginjak 30 tahun, Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia Franky O. Widjaja mengajak para relawan untuk terus memahami ajaran Master Cheng Yen dan mengaplikasikan dalam berkegiatan Tzu Chi.

“Tzu Chi kan adalah katalis antara yang punya dan yang membutuhkan. Punya apa? Punya tenaga, pemikiran, punya untuk bisa membantu. Mereka yang dibantu bisa berdiri lagi untuk bisa bantu yang lain. Jadi ini suatu aliran cinta kasih yang baik. Saya rasa Indonesia 30 tahun bisa sudah tidak ada lagi yang miskin karena sebetulnya Indonesia yang kaya banyak, 30-40 juta yang betul-betul membutuhkan 10-20 juta, kalau kita semua bisa membantu, itu Indonesia sudah tidak ada masalah sama sekali,” jelas Franky.

Wakil Ketua Tzu Chi Indonesia Sugianto Kusuma juga berpesan agar para relawan makin giat mengajak dan menceritakan Tzu Chi kepada orang lain. Termasuk, apa yang dilakukan di Tzu Chi dan kebahagiaan yang bisa dirasakan jika menjadi relawan Tzu Chi.

“Saya rasa semangatnya ini, jangan hanya bicara di sini saja, bawa pulang ke daerah masing-masing, melakukan lebih banyak lagi dan lebih giat mengerjakan misi-misi Tzu Chi. Saya pun sudah berikrar pada Master Cheng Yen, saya mewakili Shixiong Shijie berikrar kepada Master Cheng Yen. Apa ikrar saya? Selama Tzu Chi ada di Indonesia saya mengharapkan semua KP itu punya tanah 5 hektare, bisa bangun sekolah, bangun rumah sakit kecil. Jadi saya rasa kerja kita masih panjang sekali,” tutup Sugianto.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: