Ilustrasi Speech Delay pada anak (Foto: FatCamera via Getty Images Signature)
Speech delay adalah salah satu kondisi keterlambatan perkembangan aspek bicara seorang anak, sehingga anak tidak bisa menyampaikan isi pikirannya dengan baik dan kata-katanya sulit dipahami.
Spesialis Anak RS GRHA Kedoya dr. Irene, Sp.A., kondisi speech delay ditandai saat seorang anak yang menginjak usia tertentu masih belum mencapai perkembangan dari aspek bicaranya.
Meski demikian, orang tua perlu tahu perbedaan mendasar antara speech delay dan language delay.
Language delay adalah keterlambatan perkembangan anak dalam memahami bahasa, sedangkan speech delay adalah perlambatan seorang anak untuk menghasilkan suatu bunyi untuk digunakan dalam aspek bicara.
Penyebab Speech Delay
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan anak mengalami speech delay. Di antaranya, adalah potensi gangguan pendengaran, sampai potensi adanya gangguan atau keterlambatan perkembangan yang berdampak pada perkembangan bicara anak.
Kemudian, orang tua juga perlu mewaspadai adanya gangguan di organ atau ada gangguan secara fisik yang menyebabkan anak kesulitan menghasilkan bunyi.
“Keterlambatan bicara ini juga merupakan komponen dari gangguan perkembangan yang lain. Contohnya seperti autisme atau retardasi mental,” ujar dr. Irene dikutip dari kanal YouTube DAAI Family, Kamis (6/7).
Selain itu, salah satu penyebab speech delay yang tidak kalah penting, adalah pada pola asuh orang tua. Kurang stimulasi yang tidak mendukung perkembangan bicara seorang anak juga bisa menjadi penyebab dari speech delay.
Tanda Speech Delay
Ada beberapa tanda yang bisa diantisipasi orang tua yang khawatir kalau anaknya mengalami speech delay.
Untuk itu, sangat penting bagi orang tua untuk memahami kondisi atau refleks pada anak agar bisa mengukur perkembangan anak dengan lebih baik.
Salah satu hal yang bisa diperhatikan, kata dr. Irene, saat berusia enam bulan seharusnya anak sudah paham atau sudah memberikan respons pada saat namanya dipanggil.
Jika anak belum bisa memberikan respons yang jelas, orang tua perlu berhati-hati karena ini bisa menjadi salah satu manifestasi dari keterlambatan wicara atau keterlambatan perkembangan bahasa.
Kemudian, anak berusia 12 bulan seharusnya sudah bisa memberikan respons dalam bentuk interaksi sosial. Misalnya melambaikan tangan atau sudah mulai melakukan perilaku menunjuk-nunjuk orang lain.
Mereka juga seharusnya sudah bisa menyebut nama ‘papa’ atau ‘mama’ untuk merujuk orang tuanya, bukan hanya sekadar mengeluarkan celoteh bayi.
Selanjutnya, anak berusia 16 bulan umumnya sudah bisa mengatakan suatu kata yang bermakna. Jika belum bisa, orang tua mesti berhati-hati karena ini bisa menjadi salah satu satu manifestasi keterlambatan bicara.
Lalu, saat anak menginjak usia 2 tahun setidaknya anak harus sudah menyebutkan sampai 50 kata meskipun pelafalannya belum lancar. Sementara itu, anak berusia 3 tahun rata-rata akan menguasai 500 jenis kosakata.
“Kalau belum ada tanda-tanda tersebut, orang tua harus mulai sigap mendeteksi. Pasalnya, tidak jarang kondisi keterlambatan bicara berujung terlambat juga untuk dideteksi, sehingga intervensinya pun ada kemungkinan bisa terlambat juga,” jelas dr. Irene.
Jika anak memiliki keterbatasan kosa kata, kesulitan membuat kalimat, kesulitan mengucap huruf tertentu, ucapannya sulit untuk dipahami, serta lebih banyak menggunakan bahasa tubuh, orang tua wajib waspada.
Risiko Speech Delay
Menurut dr. Irene, apabila anak mengalami speech delay nantinya akan memengaruhi aspek perkembangan yang lain.
Apabila kondisi ini tidak ditangani secara baik, anak akan mengalami gangguan interaksi sosial, gangguan komunikasi, kesulitan belajar, sampai gangguan emosi karena ia kesulitan mengutarakan apa yang ia inginkan.
Cara Mengatasi Speech Delay
Pengidap speech delay umumnya perlu melakukan terapi wicara. Namun, orang tua dapat melakukan beberapa upaya lain di rumah untuk menstimulasi kemampuan bicara anak.
Misalnya seperti sering mengajak anak berbicara, menanggapi perkataan anak, mengajukan pertanyaan kepada anak dan memintanya untuk memilih, membantu anak memahami nama benda, membacakan cerita untuk anak, serta membatasi penggunaan gadget pada anak.

