Ilustrasi demensia (Foto: sturti via Getty Images Signature)
Demensia adalah kondisi penurunan fungsi otak yang menyebabkan pengidapnya tidak bisa mandiri dan membuat mereka sangat bergantung kepada orang lain dalam segala hal.
Spesialis Neurologi Konsultan Neurobehavior dr. Pukovisa Prawiroharjo, Sp.N(K)., Subs.NGD., PHD., menjelaskan, semakin lama definisi demensia semakin diperluas.
Saat ini, kondisi demensia ditandai dengan ketidakmampuan seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari, bekerja, bahkan untuk mengatur keuangan pribadi.
“Situasi ini sebenarnya tidak terjadi secara spontan, ada semacam proses. Hanya saja proses itu terkadang di awal kemunculannya selalu disepelekan dan tidak menjadi alarm bagi diri sendiri. Jika disepelekan selama bertahun-tahun, sel otak akan mati secara perlahan, kabel otaknya semakin banyak yang putus dan tidak terkoneksi dengan baik,” ujar dr. Pukovisa dikutip dalam kanal YouTube DAAI Family, Jumat (21/7).
Demensia bukan hanya tentang kehilangan ingatan, tetapi juga dapat memengaruhi cara berbicara, berpikir, merasakan, dan berperilaku.
Penyebab Demensia
Penyebab demensia adalah kerusakan pada sel-sel saraf otak yang dapat terjadi pada beberapa area otak. Gangguan pada fungsi otak ini dapat muncul dalam berbagai kondisi yang berbeda pada setiap orang, tergantung dari area otak yang terdampak.
Selain itu, menurunnya daya ingat juga bisa disebabkan oleh berkurangnya aliran darah dalam pembuluh darah otak.
Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai hal, seperti stroke, autoimun, infeksi katup jantung, gangguan sirkulasi otak, atau gangguan pada pembuluh darah lainnya.
Gejala Demensia
Beberapa gejala demensia yang umum terjadi, adalah kehilangan ingatan, kurangnya kecepatan berpikir, kesulitan berbicara dan memahami, kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.
Orang dengan demensia dapat kehilangan minat pada aktivitas yang biasa dilakukan. Tidak jarang pengidap demensia juga mengalami masalah dalam mengelola perilaku atau emosinya.
Pengidap demensia mungkin juga kehilangan minat dalam hubungan dan bersosialisasi, sehingga berpotensi untuk kehilangan empati dan sering berhalusinasi.
Sebagai alternatif, dr. Pukovisa membuat singkatan LaLiLuLeLo yang bisa mempermudah keluarga pasien demensia untuk mengenali indikasi demensia.
La: adalah kondisi labil. Gejala awalnya adalah kondisi emosi yang labil dan tidak stabil. Bisa jadi seseorang menjadi lebih sering marah atau sedih secara berlebihan.
Li: adalah kondisi linglung. Biasanya ditandai dengan sering lupa saat akan melakukan sesuatu dan kebingungan sendiri.
Lu: adalah kondisi sering merasa lupa.
Le: adalah kondisi lemot atau lebih lambat dalam beraktivitas atau bekerja.
Lo: adalah kondisi logika mulai tidak beraturan, sehingga sulit diajak berbicara dan kerap menjawab dengan tidak nyambung.
Jika intensitasnya semakin sering terjadi, semakin sukar untuk mendapat ingatan, aktivitas dan ibadah menurun, kondisi pelupanya semakin variatif, bahkan sampai menimbulkan kerugian, artinya pihak keluarga sudah perlu waspada.
Pengobatan Demensia
Ada beberapa pengobatan yang dilakukan untuk mengurangi gejala demensia, yakni sebagai berikut.
Inhibitor kolinesterase: Obat untuk meningkatkan zat kimia asetilkolin yang berguna menunda gejala Alzheimer agar tidak semakin memburuk.
Memantine: Obat untuk menunda munculnya gejala kognitif dan perilaku pada orang dengan Alzheimer sedang atau berat.
Terapi perilaku: Bertujuan menekan perubahan perilaku yang tidak terkendali.
Terapi kognitif: Bertujuan menstimulasi daya ingat, serta meningkatkan kemampuan berbahasa dan memecahkan masalah.
Terapi okupasi: Bertujuan mengajarkan cara melakukan aktivitas secara aman.
Meski demikian, pengobatan ini juga harus dibarengi dengan dukungan dari keluarga dan orang-orang terkasih agar pasien tidak merasa sendirian.
Mengurangi Risiko Demensia
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko demensia. Misalnya seperti makan makanan yang sehat dan gizi seimbang, menjaga berat badan, olahraga secara teratur, mengurangi konsumsi alkohol, berhenti merokok, sampai menjaga tekanan darah.

