Christian Bowers yang idap down syndrome (Foto: Donna Herter dari Facebook)
Down syndrome adalah kelainan genetik yang menyebabkan penderitanya memiliki kelainan fisik yang khas. Pengidap down syndrome umumnya juga punya masalah dalam berkomunikasi dua arah.
Ketika seorang anak lahir, tentunya setiap orang tua berharap mereka dapat memberikan anaknya kehidupan terbaik dan membimbing mereka.
Khususnya, jika anak mereka membutuhkan perawatan khusus, seperti Christian Bowers (24). Ia adalah seorang anak laki-laki yang mengidap down syndrome sejak lahir.
Demi memberikan kehidupan yang baik, ibunya melakukan sesuatu yang luar biasa untuk memastikan Bowers tidak pernah merasa kesepian lagi.
Mengutip dari Brightside, Bowers merupakan seorang anak yang hebat, selalu tersenyum, dan selalu berusaha membuat orang lain merasa lebih baik.
“Bowers adalah orang yang suka berinteraksi secara sosial. Saat kami ada di tempat umum, dia akan mengundang siapa pun untuk bergabung dengan kami. Suatu kali, kami pergi makan pizza, dan dia mengundang 15 pekerja konstruksi untuk duduk bersama kami, dan mereka melakukannya,” ujar ibunda Bowers, Donna Herter, dikutip Kamis (20/4).

Bowers dibesarkan dengan cinta dan kebahagiaan yang membentuknya menjadi pemuda karismatik. Namun, kondisi down syndrome yang diderita Bowers membuat dirinya tidak mudah menjalin pertemanan dengan banyak orang.
Sewaktu SMP, Bowers menjalin banyak berteman dengan anak-anak lain, tetapi sayangnya pertemanan tersebut akhirnya berakhir begitu masa sekolah usai.
Setelah lulus, Bowers semakin membutuhkan sosialisasi dengan banyak orang, tetapi tidak ada teman Bowers yang datang menemuinya.
Menurut Herter, Bowers bahkan sering melontarkan ucapan yang membuatnya sedih. Misalnya, “Kapan teman-teman saya datang?“, “Hai ibu, ketika saya berusia 25 tahun, saya ingin punya SIM”, “Ketika saya menikah dan punya anak”, atau “Ketika saya pindah …”
Saat menghadapi kenyataan pahit untuk seseorang dengan kondisinya, Bowers mulai merasa semakin kesepian.
“Pada akhir pekan, Bowers menyaksikan kakak perempuannya menginap dan menghadiri pesta, sedangkan dia duduk sendiri di rumah,” kata Herter.
Setelah mencoba mencari solusi untuk putranya, Herter pun berinisiatif untuk membayar seseorang untuk menghabiskan waktu bersama Bowers. Hal ini, ia unggah ke dalam media sosial Facebook pribadinya.

Herter menulis, “Saya mencari seorang pria muda, antara usia 20-28 tahun, yang ingin menghasilkan uang tambahan. Untuk 2 hari dalam sebulan selama 2 jam, aku akan membayarmu untuk menjadi teman anakku. Hal yang harus Anda lakukan hanyalah duduk bersamanya dan bermain video game di kamarnya. Itu saja. Dia berusia 24 tahun dan memiliki down syndrome dan tidak memiliki teman seusianya.”
Herter juga menjelaskan kalau Bowers tidak boleh mengetahui tentang kesepakatan tersebut. Herter melanjutkan, “Alasan saya membayar Anda, adalah untuk menjamin Anda muncul. Bowers memiliki banyak orang yang mengatakan kepadanya ‘Suatu hari, saya akan berkunjung‘, tapi mereka tidak pernah melakukannya.”
Donna tidak berharap apa-apa saat mengunggah tulisan tersebut, tetapi keesokan harinya dia terkejut melihat saat melihat banyaknya interaksi dan pesan yang diterima. Banyak warganet yangt bereaksi dengan tanggapan yang peka dan penuh kasih, bahkan menawarkan bantuan dan persahabatan mereka secara gratis.
Ketika jumlah interaksi bertambah, Herter bahkan menyewa perencana harian untuk menjadwalkan seluruh jadwal kunjungan Bowers.
Dia menjelaskan, “Saya akan mengatakan, ‘Christian, ada teman baru yang ingin menghabiskan waktu bersamamu‘. Dia sangat bersemangat sampai tidak mengajukan pertanyaan.”
Fakta bahwa Bowers akhirnya tidak sendiri lagi, lebih berarti bagi Donna daripada sejumlah uang.

Sampai saat ini, Bowers terus dibanjiri dengan hadiah, surat, serta cinta orang asing yang akhirnya menjadi temannya.
Meskipun kunjungan dari orang asing ini tidak akan berlangsung selamanya, tetapi Herter optimistis dengan masa depan Bowers.
“Cinta yang ditunjukkan kepada putra kami sungguh luar biasa. Christian berkata, memiliki teman terasa seperti sedang berada di surga. Dia tidur dengan senyum di wajahnya, dan ketika dia berbicara pada dirinya sendiri, saya tahu dia mengulang semuannya di dalam mimpinya,” tutup Herter.
Herter hanya bisa berharap kalau beberapa pemuda yang berkunjung, bisa tetap bertahan selama beberapa tahun yang akan datang.

