Penulis : Grace Kolin
Desa Tonjong, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat menjadi potret dari toleransi antar umat beragama. Dua umat beragama Budha dan Islam di desa ini hidup secara rukun dan berdampingan.
“Kita Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya di undang-undang maupun di Pancasila, tapi tetap harus kita terapkan di dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa semua umat beragama adalah sama. Semua agama adalah satu, mengajarkan kebaikan,” ujar Carren Cathrina, ketua dari Wihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat, salah satu wihara di Desa Tonjong.
Wihara ini didirikan oleh Andy Suwanto Dhanudjaya pada 2006. Menurut Ust. Arda Dasuki selaku ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al Fallah, Andy merupakan sosok tokoh masyarakat yang turut memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitarnya, misalnya lewat pembangunan sarana-sarana masyarakat umum maupun sarana-sarana keagamaan. Meski kini ia telah tiada, namun semangat toleransi dari wihara yang didirikannya ini tetap hidup dan menyala.
Wihara ini pernah berkoordinasi dengan masyarakat setempat dalam menyelenggarakan vaksinasi sebanyak sembilan kali. Selain itu, di momen Hari Raya Waisak, pengurus wihara ini kerap menyalurkan sembako kepada warga yang membutuhkan seperti anak yatim piatu, dhuafa, janda serta lansia. Di luar hari keagamaan, wihara ini tetap mengadakan pembagian sembako untuk penduduk sekitar minimal sebulan sekali.
Pengurus Wihara Buddha Dharma & 8 Pho Sat sering menjalin kerjasama lintas iman dengan umat Islam dalam mendistribusikan bantuan, mengadakan bakti sosial hingga menyalurkan santunan kepada yatim piatu.
“Selalu saya katakan ketika kita dalam berdiskusi, ketika dalam suatu taklim, bahwa perbedaan itu adalah anugerah, jangan dijadikan itu suatu perpecahan ya. Baik perbedaan dalam lingkup interen agama Islam sendiri ataupun di dalam perbedaan yang berhubungan dengan sosial masyarakat, perbedaan agama, perbedaan keyakinan dan lain sebagainya,” terang Ust. Arda Dasuki.

