Ilustrasi depresi dari Imágenes de Javier Sanz (Foto: Canva Pro)
Depresi adalah gangguan jiwa yang menyebabkan pola pikir, perasaan, sampai perilaku seseorang menjadi lebih negatif.
Spesialis Kedokteran Jiwa dr. Liko Maryudhiyanto, Sp,KJ., menjelaskan, seseorang yang mengalami depresi akan merasakan kesedihan yang mendalam dan berkepanjangan.
“Tidak jarang perasaan sedihnya menetap dan berlarut-larut. Kemudian ketika sedih dia sampai tidak semangat untuk mencari kesenangan, tidak bertenaga, atau mudah lelah,” ujar dr. Liko dikutip dalam kanal YouTube DAAI Family, Rabu (12/7).
Adapun beberapa gejala penyerta depresi adalah sulit fokus, mudah tidak percaya diri atau pesimis, merasa bersalah, ada gangguan makan, gangguan tidur, sampai mungkin pikiran untuk menyakiti diri atau mengakhiri segalanya.
Menurut dr. Liko, orang yang mengalami depresi akan sulit untuk merasakan kesenangan di tengah keramaian. Jadi saat berada di tengah keramaian, orang tersebut akan merasa malas bersosialisasi, lalu cenderung menarik diri.
Depresi Terselubung
Sebenarnya, kata dr. Liko, depresi terselubung bukanlah suatu diagnosis di dunia medis.
Meski demikian, depresi terselubung masih menjadi suatu istilah yang bisa dipakai untuk mendeskripsikan fenomena psikis yang dialami masyarakat perkotaan.
“Jadi depresi terselubung ialah ketika sebetulnya dia mengalami depresi, tapi gejala seperti suasana atau perasaan sedih itu tidak menonjol. Sebaliknya, gejala yang menonjol adalah gejala fisiknya,” kata dr. Liko.
Gejala Depresi Terselubung
Depresi terselubung umumnya menimbulkan gejala fisik, misalnya seperti nyeri yang menetap, ketegangan di tengkuk, rasa tidak nyaman di lambung atau GERD, mual, sampai jantung sering berdebar.
Selain keluhan fisik, penderita depresi terselubung muncul juga gangguan tidur, gangguan makan, menarik diri, dan malas untuk beraktivitas.
“Jadi gejalanya tersembunyi, istilah di luar bisa juga namanya somatic depression atau ada juga yang menyebut smiling depression. Jadi terlihatnya dia bisa senyum, tetap semangat untuk melakukan aktivitasnya, tapi sebetulnya di dalam mungkin ada perasaan tertekan, akhirnya munculnya tjadinya gejala fisik. Mungkin istilah yang sekarang pas adalah depresi terselubung, lebih tepatnya miripnya ke psikosomatis,” jelas dr. Liko.
Jika tidak segera ditangani, kata dr. Liko, keadaan para penderita depresi terselubung bisa semakin memburuk.
Potensi Depresi Terselubung
Depresi bisa mengenai semua umur, baik dari usia kanak-kanak maupun lansia. Jika dilihat secara prevalensi atau jumlah, memang paling banyak terjadi pada lansia.
Ini karena, kata dr. Liko, tidak sedikit lansia yang mengalami post power syndrome, yakni kondisi kejiwaan yang umumnya terjadi pada orang-orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan, yang menimbulkan penurunan harga diri (self-esteem) pada orang tersebut.
Sementara itu, depresi terselubung lebih banyak dialami oleh orang dengan usia produktif karena memiliki beban yang cukup banyak. Mulai dari beban ekonomi, pekerjaan, keluarga, sampai pasangan dan terjadi secara terus-menerus.
Pertolongan Pertama Depresi Terselubung
Pertama, dr. Liko mengimbau untuk mengenali dan menyadari perasaan diri sendiri terlebih dahulu apakah ada perasaan tidak nyaman yang sedang dirasakan. Pasalnya, mengenali diri sendiri menjadi salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas.
“Jangan sampai ketika karena punya keluhan fisik menyebabkan kita jadi kurang produktif, kemudian menarik diri dari sosial ya. Jangan sampai kita terkungkung dalam keluhan yang berkepanjangan,” ungkap dr. Liko.
Kemudian, jika Sahabat DAAI melihat tanda depresi pada orang lain. Sahabat DAAI bisa melihat perubahan sikap pada orang tersebut.
Jika orang tersebut tiba-tiba menjadi pendiam, enggan bersosialisasi, sulit fokus, dan selalu terlihat murung, Sahabat DAAI bisa menemani mereka, mencoba untuk mengajak berkonsultasi, atau berjalan-jalan di lingkungan sekitar.
Cara Meminimalkan Depresi Terselubung
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan diri terhindar dari depresi terselubung.
Pertama, melakukan latihan relaksasi seperti meditasi, yoga, pilates, atau beribadah. Pasien depresi sangat disarankan melakukan latihan relaksasi agar bisa menjadi lebih fokus.
Kedua, tidur yang cukup dan berkualitas. Menurut dr. Liko, tidur yang cukup dan berkualitas bisa membantu pasien merasa bugar. Kondisi kurang tidur atau tidur terlalu larut malam bisa mengubah pola sirkadian atau alarm tubuh.
Ketiga, kurangi penggunaan media sosial. Ini karena, media sosial bisa menjadi alat untuk membanding-bandingkan pencapaian diri dengan orang lain, sehingga bisa memicu stres.
Keempat, jaga jarak dengan orang yang memberikan emosi negatif. Sahabat DAAI bisa menjaga jarak dengan orang yang bisa membuat suasana menjadi tidak nyaman dan emosi tidak stabil.
“Sebaiknya kurangi atau batasi dulu bertemu dengan mereka untuk menghindari kondisi yang tidak diinginkan. Semoga ini bisa mengatasi stres dan depresi dengan baik,” tutup dr. Liko.

