Kaligrafi Tiongkok

Hermanto perajin batik tulis (Foto: YouTube Mimpi Jadi Nyata)

Hermanto terus mengembangkan keterampilan membatiknya, demi bisa memberikan pelatihan gratis bagi penyandang disabilitas lain.

Hermanto merupakan seorang penyandang disabilitas yang lahir dalam kondisi normal. Ia bercerita, saat berusia 18 tahun dirinya terlibat kecelakaan yang membuatnya tidak bisa lagi berjalan seperti sedia kala.

Tentunya proses penerimaan diri bagi Hermanto membutuhkan waktu yang Panjang. Apalagi, dirinya harus terus menggunakan kursi roda untuk menunjang aktivitasnya.

Akhirnya, Hermanto datang ke Yogyakarta dan menimba ilmu di Pusat Rehabilitasi Yakkum (PRY). Hal itu membuatnya bangkit kembali, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menekuni batik sejak 2013 dan membuat karya batik yang spesial.

Tidak ingin sendirian, Hermanto juga terus berusaha untuk memberikan pelatihan membatik bagi para penyandang disabilitas lainnya.

Niat ini, awalnya muncul dari rasa perhatiannya terhadap teman-teman disabilitas lain yang mungkin belum punya keterampilan karena adanya keterbatasan.

Menurut Hermanto, sebenarnya teman-teman disabilitas lainnya juga punya kemampuan yang memadai, tetapi sayangnya tidak ada yang mendukung mereka.

“Oleh karena itu, saya punya inisiatif untuk memberikan pelatihan kepada mereka. Bagaimana mereka bisa dilatih untuk berproses, lalu berharap ke depannya mereka punya keterampilan membatik yang mungkin bisa memberi nilai tambah bagi perekonomian mereka,” ujar Hermanto dikutip dalam kanal YouTube Mimpi Jadi Nyata, Rabu (12/4).

Hermanto mengaku, awalnya ia belajar membatik dari PRY di tahun 2013 silam. Namun, sebelum membatik, Hermanto banyak belajar melakukan penerimaan diri terlebih dahulu.

Menurutnya, proses penerimaan diri tidaklah mudah. Apalagi, ia harus meyakinkan diri sendiri agar tidak terus terpuruk dalam keadaan.

Kemudian, Hermanto melihat teman-teman disabilitas lainnya yang juga punya keterbatasan, tetapi tetap semangat dalam menjalani hari-harinya. Mulai dari situ, Hermanto bertekad untuk bangkit dan mulai belajar membatik.

Untuk menyelesaikan satu kain batik, biasanya Hermanto membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Waktu tersebut, digunakan untuk membuat desain sampai dengan pewarnaan batik.

Hermanto menjelaskan, proses awal membatik diawali dengan ngeblat atau menjiplak gambar menggunakan pensil ke atas kain batik yang akan dibuat.

Setelah itu, para perajin bisa mulai mencanting kain batik ini menggunakan malam. Jika sudah, nantinya Hermanto akan melakukan quality control terhadap kain batik tersebut sebelum berlanjut ke proses pewarnaan.

Pada tahap ini, Hermanto akan memastikan apakah gambar yang sudah dicanting akan tembus sampai kalian bagian belakang atau tidak.

Jika tidak tembus, proses mencanting harus diulang karena ini akan berpengaruh pada proses pewarnaan, misalnya gambar bisa lumer atau pecah. Setelah digambar dan dicanting, proses pembatikan akan berlanjut ke proses pewarnaan dan dijemur.

Setelah selesai diwarnai, nantinya kain batik akan dilakukan penguncian warna atau fiksasi beberapa jam atau beberapa hari.

Batik yang telah jadi, selanjutnya dijual melalui berbagai platform online atau dari penawaran mulut ke mulut dengan harga berkisar antara Rp500 ribu dan Rp600 ribu, tergantung dari ukuran kain tersebut.

“Sebanyak 30% dari hasil penjualan kami salurkan untuk teman-teman disabilitas lainnya. Kami mendukung teman-teman di luar sana yang tidak bisa bekerja sama sekali, lewat program sosial kami. Jadi, bukan cuma memberdayakan teman-teman disabilitas yang ingin membatik, tapi bagaimana batik ini juga kami bagikan untuk teman-teman yang membutuhkan, meskipun dia tidak bekerja membatik,” jelas Hermanto.

Ke depannya, Hermanto akan memberikan pelatihan garatis bagi teman-teman disabilitas lainnya yang membutuhkan.

Harapannya, pelatihan tersebut bisa menambah keterampilan dan memberikan peluang pekerjaan bagi teman-teman disabilitas lainnya.

“Saya harus meyakinkan mereka bahwa ke depannya mereka harus bisa mandiri, harus bangkit, sebisa mungkin jangan sampai mereotkan orang lain. Intinya aagr semua teman-teman disabilitas tidak cuma dipandang rendah oleh orang lain, tetapi mereka juga bisa berkarya bagi orang lain,” tutup Hermanto.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: