Penulis : Grace Kolin
Nonton maraton (binge-watching) menjadi istilah yang tidak asing lagi dalam kehidupan masyarakat. Binge-watching adalah aktivitas menonton konten hiburan atau informasi baik melalui media televisi atau gawai dalam jangka waktu yang lama. Biasanya, aktivitas ini didasari oleh beberapa alasan seperti ingin menuntaskan episode hiburan secara komplit tanpa harus menunggu kelanjutan episode berikutnya, kemudahan akses hingga visual pemeran yang menarik.
Apa yang membuat membuat orang jadi ketagihan melakukan binge-watching? psikolog Lenny Utama Afriyenti M.Psi. dalam Bincang Sehati DAAI TV menjelaskan bahwa ketika seseorang menonton serial favoritnya, otaknya akan menghasilkan dopamin sehingga menimbulkan efek candu.
Efek ini membuat seseorang jadi rela menghabiskan waktunya untuk menonton drama kesayangannya. Bahkan ada yang maraton menonton dari pagi hingga subuh di hari berikutnya tanpa jeda. “Kalau marathon artinya kelebihan gitu ya, berlebih porsinya. Padahal dalam dunia ini, dalam kehidupan ini ada unsur keseimbangan yang perlu kita penuhi. Jadi ketika itu berlebih maka ada hal-hal yang terjadi pada tubuh kita,” ujar Lenny.
Salah satu dampak dari binge-watching adalah mood swing (perubahan suasana hati). Ini dikarenakan, adanya perubahan siklus hormon akibat pergeseran waktu istirahat di malam hari. Normalnya, pada saat malam hari, tubuh seseorang akan memproduksi hormon melatonin, yaitu hormon yang membantu seseorang untuk beristirahat.
Namun jika seseorang mengorbankan waktu istirahatnnya untuk binge-watching, maka kemunculan hormon ini akan tertunda dan menyebabkan seseorang jadi sulit tidur. Waktu istirahat yang berkurang ini kemudian merembet pada perubahan mood atau suasana hati. Dampak lainnya dari binge-watching adalah mengganggu produktivitas, seperti menjadi abai dengan tugas primer. Padahal, salah satu ciri sehat mental menurut WHO adalah produktivitas itu sendiri.
Untuk mencegah dampak negatif dari binge-watching, seseorang dapat membangun kebiasaan baru dalam menonton. Upaya ini juga perlu mendapat dukungan sosial dari orang-orang sekitar. “Semua orang bisa berubah. Karena terkait dengan neuroplastisitas di otak. Jadi ketika kita membangun kebiasaan baru, sel-sel saraf di otak itu akan berkoloni dengan sel saraf yang baru. Sehingga melepaskan kebiasaan yang lama,” kata Lenny.
Menurutnya, ketika seseorang sudah berada di tahap kesulitan berinteraksi secara sosial karena binge-watching, maka ia membutuhkan bantuan profesional. “Karena di profesional akan diberi treatment untuk self control, kalau di psikiater itu ada bantuan medis atau bantuan berupa obat-obatan,” ujarnya.

