Kaligrafi Tiongkok

Surya Sahetapy lulus S2 (Foto: Instagram @dewiyullofficial)

Panji Surya Putra Sahetapy, adalah seorang aktivis Tuli, juru bahasa isyarat, dan aktor asal Indonesia. Surya merupakan putra dari mantan pasangan suami-istri Raden Adjeng Dewi Pudjijati (Dewi Yull) dan Ray Sahetapy.

Kabar gembira baru saja datang dari penyanyi Dewi Yull. Pasalnya, putranya Surya Sahetapy baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di Rochester Institute of Technology (RIT) 2023.

Sebelumnya, Surya mendapatkan beasiswa penuh dari Sasakawa-De Caro RITNTID atau Nippon Foundation.

Surya menyelesaikan S2 jurusan Pendidikan untuk Tuli & Sulit Mendengar di Rochester Institute of Technology. Ia juga mendapatkan beasiswa penuh sejak S1 di kampus yang sama dari Sasakawa-DeCaro Scholarship.

Kali ini, Surya lulus dengan meraih tiga penghargaan sekaligus. Di antaranya International Student Outstanding Service Award, The Outstanding Graduating Student Award In The Master’s Degree, serta NTID Graduate College Delegate.

“Menurut teman-teman kuliahnya, para dosen, dan rector, jarang sekali mahasiswa memborong achievement sebanyak itu. Alhamdullilah sujud syukur, percayalah bahwa waktu dan kesabaran pasti mendapat balasan satu saat,” ujar Dewi Yull dikutip dalam laman Instagram-nya, Jumat (19/5).

Setelah berhasil lulus S2 dengan beasiswa penuh, kini Surya Sahetapy tengah mempertimbangkan untuk melanjutkan studi ke jenjang S3.

Surya Sahetapy lahir pada 21 Desember 1993 silam. Meskipun divonis Tuli sejak lahir, Surya memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Surya bahkan aktif mengikuti pertukaran pelajar dan menjajaki pendidikan sarjana di luar negeri.

Surya mengaku, saat kecil ia berpikir mustahil Tuli bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri. Selain terkendala bahasa, Surya juga tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jauh dari keluarga. Namun. Semua kekhawatiran tersebut terpatahkan saat Surya berhasil lulus dari kampusnya.

“Faktanya, kan, Surya Tuli, terus saya mau ngarang bahwa saya bersumpah anak ini akan membanggakan saya karena anak ini bukan punya saya. Dia cuma dititpin sama Allah swt., Allah swt. yang akan melengkapi dia,” kata Dewi.

Saat melihat putranya mendapatkan penghargaan di atas panggung, Dewi mengaku terharu dan tidak berhenti menangis.

Menurutnya, ini adalah balasan yang diberikan Tuhan atas keyakinannya akan kemampuan Surya.

“Di balik itu, Tuhan kasih tugas ke saya buat membuka mata orang lain, orang yang punya keluarga dengan anak disabilitas, atau orang tua yang punya anak sempurna,” lanjut Dewi.

Surya mengaku, pencapaiannya saat ini bagaikan mimpi. Ia mengatakan, “Saya kaget karena jika melihat hidup saya sebelumnya ini seperti mimpi, ini mimpi jadi kenyataan. Saya ada di perkuliahan yang gurunya juga Tuli dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat ke saya.

Menurut Surya, akses pendidikan Tuli Indonesia masih sangat terbatas. Ini karena, Pendidikan Tuli di Indonesia lebih menekankan penggunaan bahasa verbal dan Tulis. Selain itu, stigma di masyarakat juga menjadi tantangan bagi Tuli di Indonesia untuk berkembang.

Tidak banyak investasi yang diberikan pada bahasa isyarat, itulah mengapa Surya iri dengan siswa di Amerika Serikat (AS).

Pasalnya, sebanyak 7 dari 10 Tuli di AS berhasil lanjut ke pendidikan tinggi, bahkan RIT menjadi kampus teknologi terbesar untuk Tuli di AS dengan 1.100 mahasiswa Tuli yang kesulitan mendengar.

“Tidak ada alasan untuk meremehkan Tuli. Ini cuma soal keterbatasan bahasa, perbedaan kita cuma di bahasa dan bahwa saya ngga bisa mendengar, ini cuma soal perbedaan bahasa saja,” tutup Surya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: