Kaligrafi Tiongkok

Elo Kusuma Alfred Mandeville (Foto: PLD UB)

Elo Kusuma Alfred Mandeville (24) seorang tunadaksa menembus keterbatasannya sampai berhasil menamatkan pendidikan S1 di Program Studi Desain Grafis, Universitas Brawijaya.

Baru-baru ini, sosok Elo berhasil menginspirasi warganet di berbagai media sosial akibat videonya yang sedang menjalani proses wisuda Fakultas Vokasi Periode IX Tahun Akademik 2023/2024 di Universitas Brawijaya (UB), Malang.

Elo merupakan seorang tunadaksa yang lahir tanpa memiliki dua tangan, sehingga untuk beraktivitas sehari-hari Elo hanya mengandalkan kedua kakinya.

Di dalam video yang diunggah oleh akun Instagram Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UB, terlihat Elo berjalan dengan percaya diri di atas panggung untuk mengambil ijazah wisudanya.

Setelah berhadapan dengan sang rektor, Elo juga berfoto bersama dan bersalaman dengan rektor di atas panggung.

Tak butuh waktu lama, video Elo pun mendapatkan banyak reaksi positif dari warganet. Banyak orang yang mengaku terinspirasi dengan sikap Elo.

Elo mengaku tidak menyangka kalau videonya bisa viral dan ramai dibicarakan di media sosial. Meski demikian, memang tidak semua respons yang didapatkan adalah respons positif.

“Pasti ada, ya, respons negatifnya dan aku menanggapinya itu sudah biasa, Kak. Nggak usah diambil hati gitu karena, kan, aku sudah seperti ini dari kecil, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, kan, juga mendapatkan komentar negatif. Jadi, ya sudah aku nggak ambil pusing komentar negatif mereka itu, aku berusaha untuk menjadikan sebagai penyemangat. Untuk membuktikan ke mereka, bahwa aku juga bisa meskipun dengan kekuranganku, meskipun kurang kaki gitu, tapi aku juga bisa,” ujar Elo kepada DAAI TV, Selasa (23/1).

Perjalanan Selama Berkuliah

Elo menjelaskan, sejak dulu dirinya memang sudah hobi menonton film. Melalui hobinya, Elo kemudian mulai tertarik mengetahui cara membuat dan mengedit film, sampai cara mengambil gambar yang bagus.

Selanjutnya, kelas XI SMA Elo mulai tertarik di bidang penyuntingan video. Akhirnya, Elo membuat kanal YouTube pribadi untuk menyalurkan minatnya di bidang penyuntingan.

Setelah lulus SMA 2018, Elo berkeinginan untuk melanjutkan kuliah di Denpasar, Bali. Namun, saat itu belum ada kampus yang menerima mahasiswa difabel di Bali.

Akhirnya, Elo memutuskan untuk mengambil jeda satu tahun sambil mengikuti beberapa kursus. Seperti kursus bahasa Inggris, desain grafis, dan video editing. Elo bahkan sempat bekerja di selama satu tahun.

“Pada tahun 2019 aku mendapatkan informasi bahwa UB menerima mahasiswa difabel. Ya sudah jadinya memutuskan untuk mencari jurusan yang sekiranya masih nyambung dengan video editing, yaitu Desain Komunikasi Visual,” kata Elo.

Pada program studi tersebut, Elo mengambil minat studi sinematografi yang sejalan dengan minatnya di bidang penyuntingan film.

Selama berkuliah, Elo menggunakan alat penyuntingan seperti laptop, ponsel, dan tetikus. Tidak hanya menyunting, Elo juga mempelajari cara pengambilan gambar dengan baik dan benar.

Kesulitan terbesarnya selama berkuliah, adalah menggunakan kamera besar untuk merekam gambar. Sebagai alternatif, Elo lebih memilih untuk mengambil gambar menggunakan ponsel.

 

Membuat Film Dokumenter

Salah satu karya yang dihasilkan Elo, adalah film dokumenter berjudul “Life Without Limits”. Film dokumenter ini merupakan tugas akhir yang dibuat sebagai persyaratan kelulusan dari kampusnya.

Film dokumenter tersebut menceritakan tentang teman-teman disabilitas di Bali yang membuka usaha. Elo mengaku, film ini bertujuan itu untuk mempromosikan produk wirausaha teman-teman disabilitas di Denpasar.

“Durasi (film)-nya 27 menit. Aku buatnya itu kayaknya ada 3 bulan, gitu. Cuma untungnya itu target penelitianku untuk tugas akhir kemarin itu memang komunitas-komunitas di Bali. Jadi memang sebelumnya itu sudah sering aktif dalam kegiatannya dan juga sering ambil footage. Jadi saat pembuatan film dokumenternya, tinggal menggunakan footage–footage yang sudah ada,” kata Elo.

Selama melakukan riset, mengambil gambar, dan melakukan wawancara dengan narasumber untuk membuat film dokumenter, Elo dibantu oleh rekan-rekannya yang ada di Bali. Dengan demikian, proses pembuatan filmnya bisa berjalan dengan cukup lancar.

Terbiasa Bersikap Positif

Meskipun hidup dengan kekurangan, tetapi Elo tetap bersikap positif dan tidak pernah menyalahkan keadaan.

“Orang tua punya peran besar selama berkuliah karena mereka selalu mendorong untuk lebih pede dan aktif di lingkungan sosial. Jika (orang tua) tidak meng-encourage untuk kuliah, mungkin aku tidak akan ada di posisi saat ini,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, kata Elo, orang tuanya juga selalu membangun rasa percaya dirinya yang berguna untuk kehidupan Elo ke depannya.

Orang tuanya juga selalu mengatakan agar jangan selalu mengandalkan bantuan dari orang lain, sebisa mungkin orang tua Elo memintanya untuk mandiri.

“Mulai dari diri sendiri, untuk membangun rasa kepercayaan diri coba belajar menerima dengan dirimu sendiri. Kalau misalnya dari diri sendiri belum menerima dengan keadaan, ya, bakal susah juga untuk dapat rasa kepercayaan diri. Jika kita ada niat dan kemauan untuk terus berkembang, terus maju, ya, lanjutkan saja. Awalnya dari diri sendiri gitu, kalau misalnya kalian tidak ingin membanggakan orang lain, ya, banggakan diri kalian sendiri,” tutup Elo.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: