Febriansah, pengajar les komputer di Ensaba Learning House. (Dok. DAAI TV)
Jemari mungil Alena (9) tampak ragu di atas papan ketik sebuah laptop tua. Matanya menatap lekat layar yang menampilkan kombinasi huruf demi huruf.
Di sampingnya, Febriansah (24) membimbing Alena dengan penuh kesabaran agar bisa mengetik dengan kesepuluh jarinya.
Di sebuah ruangan sederhana di kawasan Cilebut, Kabupaten Bogor, suara tik dari kibor komputer menggema di ruangan tersebut. Pemandangan ini menjadi rutinitas setiap sore Febri sejak Februari 2026.
Siapa sangka, ketika anak-anak seusia Alena sangat mahir mengusap layar ponsel dan mengetik cepat dengan dua jari, mereka justru gagap saat dihadapkan pada papan kibor komputer.
“Sedih sekaligus gemes melihatnya. Anak-anak sekarang jago banget main dan mengetik cepat di layar HP, tapi pas disuruh ketik tugas di laptop, mereka kebingungan dan cuma pakai dua jari telunjuk (mengetik 11 jari),” ungkap Febri kepada DAAI TV.
Apa yang terjadi di sudut Cilebut ini adalah potret nyata paradoks digitalisasi anak di Indonesia.
Melimpahnya akses gawai yang tak seimbang dengan penguasaan keterampilan digital dasar di tengah ancaman dunia maya.

(Febriansah mengajar anak-anak. Dok. DAAI TV)
Gerakan Literasi dari Cilebut
Berawal dari keprihatinan terhadap anak-anak di sekitar rumah yang belum pernah memegang laptop, Febri dan sang kakak memberanikan diri membuka Ensaba House Learning yang menyediakan kelas mengetik 10 jari dan dasar-dasar komputer.
Tak mencari banyak keuntungan, Febri mematok tarif les yang terjangkau mulai dari Rp20 ribuan saja, menyesuaikan dengan lokasi dan kemampuan orang tua di sekitar rumahnya.
Dimulai dari 10 anak tetangga, tak sampai setahun, jumlah siswanya melonjak menjadi 49 anak.
Menariknya, popularitas kelas sederhana ini sampai ke telinga para orang tua di luar kota.
Anak-anak dari Jakarta, Depok, Cileungsi, Gunung Putri, hingga Cirebon bahkan rela datang jauh-jauh hanya untuk belajar mengetik.
“Banyak orang tua cerita, di sekolah anak-anaknya langsung diajari materi rumit seperti coding. Padahal cara menyalakan laptop, menyimpan file, hingga mengetik 10 jari saja belum diajarkan. Padahal mengetik 10 jari itu seperti belajar menulis. Ini fondasi dasar untuk menuangkan pikiran saat mereka mengerjakan tugas sekolah atau kuliah nanti,” jelas Febri.
Melalui inisiatif mengetik 10 jari dan literasi komputer dasar yang gencar ia galakkan, Febri ingin membuktikan bahwa sebelum melompat jauh ke era Kecerdasan Artifisial (AI), anak-anak Indonesia harus memiliki keberanian dan kemampuan menguasai hal paling mendasar tanpa rasa takut.

(Aplikasi untuk mengajar anak-anak mengetik 10 jari. Dok. DAAI TV)
Perlindungan untuk Anak di Ruang Digital
Langkah swadaya seperti yang dilakukan Febri menjadi sangat relevan jika melihat potret digitalisasi anak Indonesia hari ini.
Data Profil Anak Indonesia Tahun 2025 mencatat, sebanyak 78,63% anak usia 5–17 tahun telah menggunakan ponsel pada 2024. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap 35,57% anak usia dini (0–6 tahun) sudah terpapar internet.
Namun, di balik terbukanya akses informasi tanpa batas, ruang digital juga menyimpan bahaya lain.
UNICEF (2023) melaporkan fakta mengejutkan, yakni 50,3% anak Indonesia pernah terpapar konten seksual di internet dan 48% di antaranya menjadi korban perundungan siber (cyberbullying).
Tanpa pendampingan dan etika bermedia yang kuat, anak-anak rentan terjebak dalam lumpur hidup dunia maya.
Pemerintah bergerak cepat memagari benteng perlindungan ini. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan, percepatan konektivitas dan penyediaan konten digital pendidikan yang aman merupakan langkah strategis membangun Sumber Daya Manusia (SDM) sejak dini.
Untuk itu, pemerintah merilis Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS), serta Surat Keputusan Bersama (SKB) 7 Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan Teknologi Digital dan AI di Lembaga Pendidikan.
Regulasi tegas ini membatasi anak di bawah usia 16 tahun untuk memiliki akun di platform media sosial berisiko tinggi (seperti TikTok, Instagram, YouTube, hingga Roblox).
Mulai 28 Maret 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan pembersihan akun media sosial di bawah umur secara bertahap demi menciptakan ruang digital yang ramah anak (child-friendly digital space).
Staf Ahli Mendikdasmen Bidang Teknologi Pendidikan Moch. Abduh juga menyampaikan, pemerintah telah menyiapkan ekosistem digital terintegrasi melalui super app Rumah Pendidikan, pelatihan literasi digital masif bagi guru, serta optimalisasi Papan Interaktif Digital (PID) di sekolah-sekolah.
PID kini difungsikan sebagai pusat kolaborasi belajar terkurasi tanpa akses media sosial terbuka, dibarengi dengan penguatan literasi unplugged dan pendidikan karakter melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

(Febriansah mengajar anak-anak. Dok. DAAI TV)
Internet Murah dan Aman untuk Seluruh Keluarga
Transformasi digital ramah anak tak akan terwujud tanpa pemerataan konektivitas.
Menkomdigi Meutya Hafid menargetkan percepatan jaringan berbasis Fixed Wireless Access (FWA) dan Fiber to the Home (FTTH) hingga 30% rumah tangga di Indonesia terhubung internet stabil.
Fokus perluasan ini menyasar kelompok masyarakat menengah ke bawah (mencapai 34,5 juta rumah tangga) segmen low-income yang membutuhkan akses internet terjangkau dan aman.
Sinergi antara pemerintah dan penyedia jasa internet menjadi kunci agar pendidikan digital tidak hanya dinikmati masyarakat perkotaan.
Mencetak Warga Digital yang Bijak
Usaha swadaya Febri mengajari anak-anak pelosok mengetik 10 jari, ketegasan regulasi PP TUNAS dan SKB 7 Menteri oleh Kemkomdigi, penerapan pembatasan gawai di sekolah oleh Kemendikdasmen, serta kepedulian orang tua di rumah adalah upaya yang saling melengkapi.
Anak-anak Indonesia tidak boleh dibiarkan tersesat di rimba digital. Dengan keterampilan dasar yang kuat, benteng regulasi yang kokoh, serta akses internet yang aman dan merata, kita sedang menyiapkan generasi yang tidak sekadar patuh karena takut sanksi, tetapi tumbuh menjadi warga digital yang cerdas, beradab, dan siap menaklukkan masa depan.

