Ilustrasi bancaan rupa (Foto: situs web Desa Dasun)
Eggy Yunaedi (57) membuat lukisan di tambak berukuran 33 m x 21 m dengan menggunakan media garam di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Warga di Desa Dasun belum lama ini menggelar pertunjukan seni bancaan rupa, hasil kolaborasi antara seniman dan petani garam
Mengutip dari situs web Dusun Rembang, bancaan rupa adalah kegiatan budaya berupa pembuatan dan eksebisi lukisan raksasa yang dibuat dengan menggunakan garam di bentangan tambak garam sebagai materi dan media rupa.
Eggy yang merupakan seorang perupa dan pegiat budaya, berhasil melukis dengan garam di atas tambak berukuran besar.
Lukisan menggunakan garam ini, dinilai sebagai karya yang pertama dan terbesar di Indonesia.

Apa Lukisan yang Dibuat?
Eggy bersama dengan 10 orang petani garam lokal, melukis di lahan tambak garam seluas 714 m2 di kawasan situs Tambak Gede Desa Dasun.
Lukisan Eggy menampilkan sosok seorang petani garam yang dikelilingi 7 bulatan. Di belakangnya, terdapat bentuk semacam gunungan wayang dengan motif batik lasem yang dipancari sinar matahari.
Di sisi kanan lukisan pria tersebut tergambar sesosok naga, sedangkan di sisi kiri bertengger burung hong atau yang dikenal dengan phoenix. Dua sosok ini merupakan makhluk mitologi dari China yang cukup berpengaruh.
“Lukisan garam ini mengisahkan profesi petani garam di Lasem. Ada 7 elemen yang mempengaruhi, yakni 4 elemen alam berupa bumi, air, sinar matahari dan angin. Kemudian, ada tiga elemen kultural, terdiri dari kultur budaya China, Jawa dan Islam,” ujar Eggy dikutip dalam keterangannya, Rabu (6/12).
Makna Lukisan
“Petambak merasa sebagai orang Jawa, ada gunungan di situ dan ada beberapa simbol budaya Islam. Jadi ada tujuh rupa atau elemen yang kami simpulkan mempengaruhi kehidupan petani garam,” sambung Eggy.
Lukisan yang berukuran 21 meter x 33 meter ini memang sarat akan makna. Makna turunan yang terkandung dalam lukisan ini adalah sebuah harmoni dari unsur alam dan budaya.
Makna yang didapatkan dari unsur alam, adalah alam harus senantiasa lestari untuk menghasilkan garam yang berkualitas.
Kemudian, makna dari unsur kultural atau budaya, adalah bahwa di Dasun ini masyarakat harus saling menghargai dan menghormati antarbudaya dan kultur yang melatarbelakangi kehidupan yang harmoni di Lasem.

Proses Pembuatan
Di dalam membuat karyanya, Eggy juga dibantu oleh 10 orang petani garam lokal, yakni Suparlin, Alip Alifandi, Sriyono, Mulyono, Bisri, Suyoto, Arip, Suroso, Sudirman, dan Supadi Nurkolis.
Pembuatan karya lukisan ini memakan waktu 6 hari, dengan perincian 3 hari menggambar pola dan 3 hari melukis secara langsung.
Secara total, Eggy mengaku menghabiskan sebanyak 4 ton garam untuk menyelesaikan karyanya.
“Saya melihat bentangan tambak yang sudah diratakan halus, rata, kotak, itu kok ibarat sebuah kanvas yang siap dilukis. Saat saya coba raba dan remas, ternyata garam itu material yang sangat plastis. Mau ditarik ke mana ngikut, dibuat garis bisa, dibuat bidang, dibuat gradasi bisa. Sangat memudahkan kita membuat citra dua dimensi, dari situlah saya ingin membuat karya dengan material garam di media tambak,” sambung Eggy.
Selama proses melukis, Eggy dan para pemulia garam Dasun sempat was-was dengan intensitas curah hujan yang cenderung meningkat belakangan ini. Pasalnya, air hujan bisa langsung merusak lukisan garam.
Namun, syukurnya hingga acara bancaan rupa selesai, Desa Dasun tidak diguyur hujan deras.
Setelah kegiatan selesai, rencananya tambak yang dilukis tetap dibiarkan seperti itu. Nantinya garam akan diolah agar bisa kembali dimanfaatkan.
“Alhamdulillah sampai selesai acara, di Dasun tidak hujan deras,” tutup Eggy.
Eggy berharap, masyarakat mampu memberi makna lebih atas keberadaan garam dan tambak itu. Apalagi sebagian besar warga Desa Dasun bekerja sebagai petani garam. Harapannya, kebanggaan mereka sebagai petani garam bisa terangkat.
Sebagai informasi, Eggy merupakan perupa kelahiran Rembang yang belakangan aktif membuat karya berskala besar di ruang terbuka.
Salah satunya, adalah instalasi Melangitkan Doa yang ikut memeriahkan Harlah 1 Abad Nadlatul Ulama di Sidoarjo beberapa waktu yang lalu.
Karya tersebut dicatat oleh Museum Rekor Muri sebagai display doa terbanyak dan terbesar di dunia. Eggy juga sempat melakukan karya kolaboratif berskala besar dengan komunitas Sedulur Sikep dalam membuat instalasi Suluh Samin dengan menggunakan 2000 obor.

