Ilustrasi mendampingi anak puasa pertama (Foto: Odua Images)
Momen berpuasa pertama kali bagi anak bisa dianggap istimewa. Untuk itu, orang tua perlu lebih aktif dalam mengajarkan dan mendampingi puasa pertama anak agar berjalan lancar.
Saat pertama kali menjalani puasa, sangat wajar jika anak-anak merasa kesulitan. Pasalnya, mereka perlu beradaptasi dengan kondisi tubuh dan rutinitas baru tersebut.
Tidak jarang, anak-anak akan mengalami trantrum yang berujung menolak diajarkan untuk berpuasa. Untuk itu, peran orang tua dalam tahap ini sangatlah penting.
Sebelum mengajarkan anak untuk mulai berpuasa, sebaiknya orang tua bisa memberi pengertian kepada anak terlebih dahulu apa itu puasa, serta mengapa mereka perlu menjalankannya sekali setiap tahun.
Setelah diberi pengertian sesederhana mungkin, anak mungkin akan lebih mudah untuk mengikuti ibadah puasa.
Secara terperinci, berikut adalah beberapa cara mendampingi puasa pertama untuk anak yang perlu dicatat orang tua.
1. Kenalkan Konsep Ramadan pada Anak Sedini Mungkin
Anak dapat mengenal dan diikutsertakan dalam berbagai kegiatan Ramadan sedini mungkin. Psikolog Anak Ayoe Sutomo, M.Psi., menjelaskan, orang tua bisa menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak.
“Jelaskan bahwa di bulan Ramadan, umat muslim diwajibkan berpuasa, salat tarawih, serta melakukan berbagai kegiatan sosial seperti berbagi dengan sesama,” ujar Ayoe dikutip dalam keterangannya, jumat (31/3).
Ayoe mengatakan, orang tua juga perlu mengajarkan bahwa berpuasa selama Ramadan tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi harus belajar untuk mendalami agama salah satunya dengan belajar mengaji
2. Ajarkan Puasa Sesuai Tahapan Usia Anak
Kemampuan anak untuk berpuasa sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh tahapan usia anak, maka orang tua sebaiknya mengajarkan puasa bagi anak berdasarkan usia.
Untuk anak di bawah usia 7 tahun, orang tua bisa memperkenalkan dulu konsep dan kegiatan puasa selama Ramadan.
Ayoe menjelaskan, orang tua dapat mengajak anak usia 7-8 tahun untuk sahur. Buatlah kesepakatan selama belajar berpuasa. Jika anak tidak kuat puasa hingga magrib, maka beri opsi bagi anak untuk berbuka saat azan zuhur. Setelah itu, anak bisa lanjut puasa hingga waktu buka.
“Untuk anak di atas 8 tahun, kesadaran menahan lapar dan haus saat berpuasa seharusnya sudah muncul. Anak juga sudah bisa diajarkan meningkatkan keimanan dengan rajin beribadah, termasuk mengaji dan melaksanakan salat sunah dan tarawih,” saran Ayoe..
Ia melanjutkan, “Buatlah anak bersemangat untuk beribadah, misalnya dengan memberikan perlengkapan ibadah baru.”
3. Siapkan Makanan dengan Nutrisi Berimbang untuk Sahur dan Buka Puasa
Makanan dengan nutrisi berimbang, sangat penting agar tubuh anak tetap kuat selama bulan puasa. Menurut Ayoe, orang tua bisa menyajikan makanan tinggi protein, seperti daging ayam atau sapi.
Jangan lupa hidangkan makanan kaya serat, seperti buah dan dan sayur, untuk melancarkan sistem pencernaan anak.
“Pastikan anak minum banyak air putih dan menghindari makanan gorengan, asin, serta tinggi gula secara berlebihan. Mengingat makanan asin membuat tubuh menjadi cepat haus, sedangkan gula membuat tubuh cepat lapar,” jelas Ayoe.
4. Libatkan Anak di Berbagai Kegiatan dan Beri Apresiasi
Orang tua bisa membantu mengalihkan perhatian anak dari rasa lapar dan haus, sekaligus mempererat hubungan melalui beragam rutinitas selama Ramadan.
“Mulai dari belajar mengaji, salat duha, mendongengkan kisah nabi, hingga mengumpulkan baju atau mainan layak pakai untuk disumbangkan ke masyarakat yang lebih membutuhkan,” kata Ayoe.
Selain itu, jangan lupa untuk memberikan pujian saat anak berhasil melakukan hal-hal kecil seperti bangun sahur, sikat gigi sebelum imsak dan kegiatan kecil lainnya. Orang tua juga dapat menyampaikan apresiasi kepada anak dengan memberikan mainan favorit.
5. Ajak Anak Belanja Baju Muslim untuk Berbagai Kegiatan Ramadan
Ayoe menyarankan, orang tua bisa mengajak anak untuk belanja online baju muslim agar lebih semangat puasa.
Anak juga akan senang ketika diajak memilih warna baju muslim anak yang akan dikenakan saat buka bersama di luar atau ketika keliling masjid untuk salat tarawih.

