Penulis : Grace Kolin

Selepas sang suami mendapatkan pemutusan kerja, berbagai pekerjaan dilakoni perempuan berusia lebih dari 40 tahun ini. Ia pun berjualan gorengan dan mencari tambahan sebagai perajin alas kaki. Di tengah pemasukan ekonomi pas-pasan, ia juga merupakan sosok yang peduli terhadap keadaan anak-anak di kota Bandung yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Pada tahun 2012, ia pun memenuhi panggilannya. Di sebuah rumah berukuran 6 x 6 meter yang berlokasi di wilayah Batujajar Timur, Kabupaten Bandung Barat ini, ia menyediakan tempat bernaung untuk dua puluh anak-anak yatim piatu dan dhuafa. Selain kedua puluh anak-anak ini, masih ada 110 anak-anak lainnya yang ia asuh dan tinggal dengan kerabat dekat Imas.

 “Kebahagiaannya banyak. Luar biasa itu kebahagiaannya. Tatkala mereka senang, tatkala mereka bahagia, seperti ibu dikasih sesuatu yang berharga sama Allah bahwa umur ibu itu berguna bagi mereka. Istilahnya bisa meneruskan apa yang diamanahkan bapak. Beliau selalu beramanah, teruslah menebar kebaikan, jangan takut dengan kondisi apapun. Jangan takut dengan keterbatasan,” ucap Imas.

Cinta kasih Imas kepada anak kurang mampu terus mengalir. Walaupun harus mengonsumsi obat-obatan sebagai penunjang kesehatannya, istri dari Agus Surayana ini tak pernah mengeluh akan beratnya beban hidup yang ia tanggung.

Di antara ratusan anak asuh yang Imas kasihi, Dwiki adalah anak berkebutuhan khusus yang rutin ia kunjungi. Karena keterbatasan biaya, orangtua Dwiki tak mampu memberikan pengobatan pada putra mereka yang kini berusia di atas 10 tahun ini. Melihat kondisi Dwiki, Imas tak tinggal diam. Semampunya, Imas berbagi sedikit materi yang ia miliki dan memberikan perhatian serta dukungan moril kepada keluarga Dwiki. “Terima kasih kepada ibu Imas. Cuman doa aja tiap malam sama Ibu Imas. Semoga dia sembuh selalu, penyakitnya ya diangkat,”  kata Hayati, orang tua Dwiki.

Hal serupa juga Imas berikan kepada Nung. Anak berkebutuhan khusus lain dengan sakit stroke pada kakinya. Kehadiran Imas ini pun begitu berharga bagi Nung dan Ibunya, Emak. “Alhamdulilah, Emak sudah dibantu oleh Neng Imas. Emak mau mengucapkan terima kasih. Kalau tidak ada Neng Imas, mungkin Emak tidak akan seperti sekarang. Alhamdulilah, Neng Imas sangat baik terjadap anak Emak,” ujar Emak dengan mata berkaca-kaca.

Kini Imas tidak sendiri. Sejak tahun 2016, Imas memutuskan untuk mendirikan Panti asuhan Roudotul Amanah, panti asuhan yang secara resmi ia dirikan untuk anak-anak yang ia asuh dengan bantuan dari para relawan.