Jamur tudung pengantin

Sumber Gambar : CGTN

Penulis : Grace Kolin

Jamur identik dengan organisme yang bagian batangnya dipayungi oleh tudung yang berbentuk bundar. Namun lain halnya dengan bentuk jamur bernama jamur tudung pengantin (Phallus Indusiatus). Tidak hanya memiliki tudung, jamur ini juga memiliki jaring-jaring halus yang membuat jamur ini tampak seperti sedang mengenakan tudung pengantin atau rok.

Melansir dari greeners.co, jamur ini dapat ditemukan di seluruh belahan benua di dunia. Di Indonesia sendiri, jamur ini pernah beberapa kali ditemukan di berbagai daerah, seperti Kalimantan Selatan dan Bumi Perkemahan Ragunan Jakarta Selatan.

Jamur tudung pengantin memiliki jaring-jaring halus saat usianya telah matang. Jaring-jaring tersebut akan menjulur dari bawah tudung dengan panjang sekitar 12 cm. Semakin ke bawah ukuran dari jaring tersebut akan semakin kecil. Meskipun memiliki bentuk yang cantik, namun usia hidup jamur ini tidak lama, yakni hanya 30 hari.

Meskipun unik, jamur tudung pengantin memiliki bau tidak sedap yaitu menyerupai bau bangkai. Bau ini berasal dari lendir berwarna cokelat kehijauan yang terdapat pada tudung jamur. Lendir yang bau ini berfungsi untuk menarik keberadaan serangga, terutama lalat yang nantinya dapat membantu penyebaran spora dari jamur ini.

Di balik baunya yang tak sedap, jamur ini juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan obat-obatan tradisional. Di Tiongkok misalnya, jamur ini diigunakan untuk menangani tekanan darah tinggi, penambah berat badan, bahkan disentri.

Jamur tudung pengantin juga dapat dikonsumsi dan diolah jadi berbagai hidangan makanan seperti sup. Untuk memasaknya, buang bagian tudungnya yang berlendir terlebih dahulu. Kemudian keringkan dan masak jamur ini untuk menghilangkan baunya. Di dalam jamur ini terdapat kandungan gizi yang kaya berdasarkan World Journal Of Agricultural Science 4 (2008) oleh Jonathan SG., Odebode AC. dan Bowo DDS yaitu lemak, protein, kalsium, zat besi, magnesium, mangan, kalium, sodium dan seng.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber