Dialog Islam dan Kebinekaan (Foto: Dok. DAAI TV)
Di tengah bulan suci Ramadan 2026, DAAI TV bersama Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menggelar dialog bertajuk “Islam dan Kebinekaan”, pada Sabtu (7/3) di International Hall Tzu Chi Center Pantai Indah Kapuk.
Acara ini bukan sekadar diskusi formal, melainkan ruang perjumpaan bagi tokoh agama, pakar sejarah, dan aktivis kemanusiaan untuk menggali kembali akar harmoni sosial di Indonesia.
Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Farid Saenong, menekankan bahwa kampanye kemajemukan harus terus disuarakan oleh media sebagai tanggung jawab bersama dalam menjaga persatuan.
Acara yang berlangsung dengan khidmat tersebut, ditutup dengan doa bersama untuk perdamaian dunia dan keselamatan dari bencana.

Jejak Akulturasi dan Kesetaraan
Diskusi yang diawali dengan pemutaran dokumenter Jejak Islam Nusantara ini, menghadirkan perspektif mendalam dari berbagai sudut pandang. Bhikkhu Dhammasubho Mahathera mengingatkan hadirin akan esensi kemanusiaan.
“Kita ini pada dasarnya kan setara, manusia satu dengan yang lain pada dasarnya sama berasal-usul dari bahan baku yang sama,” ujarnya menekankan nilai kesederajatan antarmanusia.
Dari sisi historis, pakar manuskrip Ginanjar Sya’ban memaparkan keunikan Islam di Indonesia yang tumbuh melalui proses akulturasi.
Menurutnya, Islam tidak menghapus nilai lokal, melainkan berpadu harmonis dengan ajaran dan budaya yang sudah eksis sebelumnya di Nusantara.
Diskusi ini diharapkan dapat memperkaya perspektif publik mengenai wajah Islam di Indonesia yang tumbuh bersama nilai-nilai kebudayaan lokal, serta semangat kebinekaan.
Sejarah panjang Nusantara menunjukkan, perjumpaan antarbudaya dan antaragama telah melahirkan tradisi hidup berdampingan yang saling menghormati.

Koneksi Sejarah dan Aksi Kemanusiaan
Satu poin menarik diangkat oleh Azmi Abubakar, pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa. Ia mengulas jaringan Islam Tiongkok dalam sejarah Walisongo, merujuk pada naskah kuno seperti Babad Tanah Jawa.
Hal ini mempertegas bahwa keberagaman etnis telah menjadi bagian tak terpisahkan dari penyebaran nilai religius di tanah air sejak berabad-abad lalu.
Sebagai penutup, perwakilan Yayasan Buddha Tzu Chi, Andre, mengajak seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang untuk bergerak dalam aksi nyata.
“Buddha Tzu Chi mendorong semua pihak untuk berkolaborasi memajukan kehidupan bermasyarakat melalui kemanusiaan,” ungkapnya.
Melalui dialog ini, pesan yang dibawa sangat jelas: fondasi masa depan Indonesia yang damai hanya bisa dibangun di atas pilar toleransi, saling menghargai, dan semangat persatuan yang terus dirawat.

