APAR buatan Aryanto Misel (Foto: Kompas TV)
Aryanto Misel (68) warga Desa Lemahabang Wetan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, juga pernah membuat alat pemadam api ringan (APAR) dari kulit singkong.
Mengutip dari liputan khusus bersama Kompas TV, Aryanto mengaku dirinya juga pernah menciptakan alat pemadam api dengan bahan baku dari serbuk kulit singkong.
Aryanto mengeklaim, alat pemadam kebakaran ini hanya terbuat dari bahan organik, yakni serbuk kulit singkong.
“Bubuknya murni kulit singkong. Isinya 99% kulit singkong, 1%-nya katalis untuk mempercepat reaksi, memastikan bubuknya tidak menggumpal, dan sebagainya,” ujar Aryanto, dikutip Rabu (12/7).
Aryanto menjelaskan, kulit singkong memiliki kandungan potassium citrate (kalium sitrat) yang bisa digunakan untuk memadamkan api.
“Nah, ini kalau diaplikasikan sistem kerjanya juga bukan menutup oksigen, tetapi memutus mata rantai reaksi pembakaran,” kata Aryanto.
Alat pemadam api berbahan kulit singkong yang dibuat Aryanto memiliki dua model, yakni model tabung dan berbentuk bulat seperti bola.
Untuk alat pemadam api model tabung dengan berat 1 kg, Aryanto menjualnya dengan harga Rp150 ribu, sedangkan alat pemadam api berbentuk bulat dijual dengan harga Rp225 ribu.
Sebagai informasi, untuk pemadam model tabung buatan Aryanto, cara kerjanya mirip seperti APAR biasa, yakni disemprot ke sumber api.
Sementara itu, alat pemadam berbentuk bola cara kerjanya hanya perlu dilempar ke dalam api. Alat pemadam tersebut diisi oleh serbuk kulit singkong yang dicampur oleh petasan agar bisa meledak saat terkena api.

Kemudian, alat pemadam ini dibungkus oleh styrofoam dan plastik untuk mengikat kandugan di dalamnya. Saat dilemparkan ke titik api, alat tersebut akan meledak dalam hitungan menit dan meredam api.
Selain bisa meredamkan api, ternyata residu dari alat pemadam api ini juga bisa digunakan sebagai pupuk tanaman, sehingga tidak ada bahan yang terbuang setelah dipakai.
Tidak sia-sia, inovasi ini berhasil menarik perhatian pihak luar untuk membeli hak paten dari Aryanto.

“Ini patennya sudah saya jual ke Jepang tahun 2017 lalu seharga Rp350 juta,” jelas Aryanto.
Aryanto mengaku, dirinya menjual hak paten alat temuannya ke luar negeri untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, dirinya juga menggunakan uang tersebut untuk melanjutkan proses penelitiannya.
“Sebetulnya banyak yang bantu, cuma saya tolak karena kalau dibantu saya merasa tertekan. Saya merasa harus berhasil. (Padahal) orang riset ini, kan, seperti seniman, nggak bisa diburu-buru,” tutup Aryanto.
Sebagaimana diketahui, nama Aryanto Misel menjadi sorotan publik atas inovasinya membuat alat bernama Nikuba (niku banyu) yang mampu mengonversi air menjadi hidrogen.
Menariknya, inovasi Aryanto ini bisa digunakan sebagai bahan bakar pengganti bensin atau BBM untuk kendaraan bermotor. Atas inovasinya, Aryanto berhasil dilirik oleh beberapa perusahaan otomotif di Eropa.

