Broken heart syndrome adalah sindrom pada gangguan jantung | Foto: Canva
Apakah Sahabat DAAI pernah mengalami patah hati? Faktanya, perasaan emosi atau stres yang berlebihan dapat menyebabkan sindrom patah hati.
Takotsubo cardiomyopathy atau yang disebut dengan sindrom patah hati, adalah kondisi medis yang serius dan dapat menyebabkan kematian jika tidak segera diatasi.
Sindrom patah hati (broken heart syndrome), adalah masalah pada jantung yang muncul secara tiba-tiba akibat perubahan emosi yang ekstrem. Saat sindrom patah hati terjadi akan memengaruhi kinerja jantung untuk memompa dengan normal.
Kesimpulannya, sindrom patah hati ini terjadi karena adanya gangguan pada otot jantung yang bersifat sementara.
Meski demikian, jika tidak segera ditangani sindrom patah hati dapat memberikan efek buruk pada fungsi jantung dalam jangka panjang, bahkan kematian mendadak. Beberapa kasus kematian sindrom pata hati disebabkan oleh gagal jantung.
Berbeda dengan Serangan Jantung
Umumnya, kondisi sindrom patah hati memiliki gejala, seperti nyeri dada, sesak napas, dan detak jantung tidak teratur.
Mengutip dari WebMD, sindrom ini memiliki gejala yang serupa dengan gejala serangan jantung.
Namun, sindrom patah hati terjadi akibat patah hati yang menyebabkan kemampuan kinerja jantung tiba-tiba saja bekerja tidak seperti biasanya, sedangkan gejala serangan jantung terjadi karena ada penyumbatan pembuluh darah.

penyebab broken heart syndrome | Foto: Cleveland Clinic
Penyebab Broken Heart Syndrome
Sindrom ini muncul ketika seseorang tiba-tiba mengalami peristiwa emosional yang berlebihan pada saat tertentu.
Misalnya, seperti kehilangan orang yang dicintai (termasuk perceraian atau berduka), pertengkaran dengan pasangan atau keluarga, dan kehilangan pekerjaan atau barang berharga.
Selain itu, sindrom ini bisa terjadi akibat gangguan pascaoperasi karena stres fisik. Sampai sejauh ini, faktor genetik belum bisa dipastikan apakah berpengaruh besar dalam sindrom ini.
Berikut adalah kaum yang lebih rentan terkena sindrom patah hati.
- Seseorang yang memiliki riwayat gangguan mental, seperti depresi, stres, dan kecemasan;
- Wanita berusia di atas 50 tahun; dan
- Seseorang dengan riwayat penyakit jantung.
Di dalam penelitian Journal of Positive Psychology, seseorang membutuhkan waktu kurang lebih 11 minggu untuk merasa benar-benar pulih dari patah hati akibat putus cinta.
Namun, patah hati yang terjadi karena perceraian membutuhkan waktu setidaknya 18 bulan.
Cara Mengobati Patah Hati
Beberapa kasus sindrom patah hati memerlukan perawatan medis di rumah sakit agar para petugas medis dapat melihat pada fungsi organ-organ tubuh lainnya.
Sindrom patah hati juga bisa diobati dengan mengonsumsi obat-obatan, nantinya dokter akan memberikan resep untuk membantu mengurangi gejala. Biasanya obat yang diberikan adalah obat-obat anti kecemasan untuk pasien.
Selain itu, pada beberapa kasus yang terjadi karena peristiwa emosional memerlukan terapi konseling psikologis untuk membantu pasien pulih dari peristiwa emosional.
Penulis: Kerin Chang
Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

