Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi penggunaan VISMATE oleh tunanetra (Foto: Humas UB)

Tim mahasiswa dari Universitas Brawijaya (UB) membuat alat bernama Visual Mate (VISMATE) yang bisa menjadi ‘mata’ bagi penyandang disabilitas tunanetra.

VISMATE dibuat oleh tim yang terdiri atas Beni Kurniawan (Teknik Elektro), M. Dwi Nur Afini (Teknik Elektro), M. Rashannaufal G (Teknik Elektro), M. Bintang Saktya (Sistem Informasi), dan Vieri Faturrahman (Teknik Elektro) dengan bimbingan Ir. Nurussa’adah M.T.

Beni Kurniawan menjelaskan, VISMATE bisa menjadi alternatif bagi penyandang disabilitas tunanetra dalam komunikasi ataupun mobilisasi.

“VISMATE merupakan sebuah alat yang memudahkan penderita disabilitas tunanetra dan tunarungu dalam kegiatan sehari-hari. Terdapat fitur untuk memudahkan pengguna, yaitu deteksi hambatan di jalan untuk mengarahkan pengguna agar tidak terjadi kecelakaan. Deteksi rintangan atau hambatan diperoleh dari pengukuran oleh sensor jarak Time of Flight (ToF),” ujar Beni dalam keterangannya, dikutip Jumat (6/10).

Di dalam VISMATE terdapat kamera yang berfungsi untuk menerjemahkan foto ke dalam bentuk tulisan, dengan menggunakan metode image recognition.

Nantinya, tulisan tersebut akan diterjemahkan dengan suara (text-to-speech), sehingga memudahkan interaksi antara penderita tunanetra dan tunarungu.

Alat ini juga terintegrasi dengan Internet of Things (IoT) menggunakan interface aplikasi berbasis android. Pada aplikasi ini, terdapat fitur tracking untuk memudahkan keluarga memantau pengguna dalam jarak jauh secara real time.

Sebagai informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,5 juta orang, atau sekitar 5% dari penduduk Indonesia. Salah satu jenis disabilitas yang umum ditemukan pada kalangan masyarakat adalah penyandang tunanetra.

Kendala yang umum dialami penyandang disabilitas tunanetra, adalah kendala artitektural yang disebabkan oleh kondisi fisik lingkungan yang kurang mendukung untuk diakses oleh penyandang disabilitas. Misalnya, seperti kesulitan dalam mengakses media cetak yang tidak dilengkapi dengan huruf braille atau petunjuk taktual (dapat diraba).

Hal ini, tentunya cukup menyulitkan penyandang tunanetra untuk memperoleh informasi yang mereka butuhkan dari media cetak tersebut tanpa bantuan dari orang di sekitar mereka.

Selain kendala untuk memperoleh informasi, penyandang tunanetra juga memerlukan alat bantu untuk menolong mereka dalam bermobilisasi. Di dalam hal berkomunikasi, penyandang tunanetra memiliki kendala ketika perlu berkomunikasi dengan penyandang tunarungu wicara.

Tunarungu wicara dan tunanetra merupakan disabilitas yang saling bertolak belakang. Ini karena, penyandang tunarungu wicara mengandalkan kemampuan visualnya dalam berkomunikasi.

Sementara itu, penyandang tunanetra mengandalkan kemampuan pendengarannya, sehingga menimbulkan masalah yang cukup kompleks karena mereka memerlukan perantara atau bantuan orang ketiga untuk berkomunikasi.

Teknologi yang berperan dalam meningkatkan kemandirian dari penyandang tunanetra terhadap bantuan pendampingan dengan metode computer vision, menjadikan VISMATE sebagai sahabat disabilitas dengan banyaknya fitur dari berbagai sensor.

Hal tersebut bisa membantu penyandang tunarungu untuk sarana berkomunikasi, baik dengan penyandang lain maupun khalayak dengan menggunakan aplikasi smartphone yang terintegrasi IoT.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: