Kaligrafi Tiongkok

Kebun hidroponik di atap Masjid Asy-Syifa (Foto: YouTube Bumiku Satu)

Masjid Asy-Syifa, Pengangsaan, Jakarta Pusat, punya inovasi go green berupa penanaman kebun sayur hidroponik. Selain menanam sayuran, tim hidroponik juga kerap melakukan sedekah sayur.

Ada yang unik dari Masjid Asy-Syifa, kalau melihat bagian atap atau rooftop masjid ini, terdapat taman yang digunakan untuk menanam sayuran hidroponik.

Adapun program ini bertajuk “Smart Farming Rooftop Masjid Asy-Stifa RSCM, Binaan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian, Jakarta Pusat”.

Tim Hidroponik Masjid Asy Syifa Samsul Hadi menjelaskan, inovasi ini berawal dari sebelum pandemi saat mereka melihat potensi lahan yang cukup luas di rooftop di Masjid Asy-Syifa.

“Akhirnya kami mencoba menginisiasi membuat hidroponik. Waktu itu, sih, masih dalam skala kecil. Idenya itu memang kita buat secara hidroponik menggunakan konsep air, sehingga air menjadi komponen utama,” ujar Samsul dikutip dalam tayangan YouTube Bumiku Satu, Jumat (28/4).

Samsul menambahkan, saat ini mereka mendapatkan bantuan dari pihak luar, sehingga bisa mengembangkan program ini menjadi lebih ‘smart’. Untuk itu, menamakan programnya sebagai ‘smart farming’.

Samsul menjelaskan, “Jadi konsep smart-nya itu, adalah sistem pemantauan untuk nutrisi, PH air, dan sebagainya itu sudah terkontrol dari smartphone. Itu yang dinamakan dengan sistem smart farming.”

Awalnya, tim hidroponik hanya menanam sayuran seperti kangkung dan pakcoy, tetapi seiring berjalannya waktu sekarang mereka mencoba mengembangkan programnya dengan menanam samhong, kailan, seledri, dan masih banyak lagi yang akan divariasikan.

Tim hidroponik menanam benih di dalam dua sisi green house rooftop masjid. Untuk sisi sebelah kanan, memiliki luas kurang lebih 4 x 7 m, sedangkan sisi kiri kurang luasnya 4 x 6 m. Kemudian, total lubang yang tersedia untuk penanaman hidroponiknya itu adalah sekitar 2.500 lubang.

Samsul mengaku, ide awal dari penanaman sayur hidroponik ini hanya untuk pemanfaatan lahan, tetapi seiring berjalannya waktu, mereka juga menjual sayur tersebut ke pegawai yang bekerja di RSCM.

Setelah mendapatkan banyak respons baik, pihak masjid dan tim hidroponik membuat program sedekah sayur bertajuk “Rabu Hijau”.

Jadi, setiap hari Rabu, mereka akan membagikan 50 pack sayur sisa panen kepada jemaah salat zuhur. Setiap jemaah hanya mendapatkan satu pack sayuran.

“Kami memberikan sayur-mayur secara gratis dalam rangka pemenuhan gizi masyarakat. Pada saat itu memang di masa pandemi itu juga kita berlanjut untuk program berbagai sayuran ini, jadi sangat bermanfaat bagi para jemaah di sini,” kata Samsul.

Ia menambahkan, penerima manfaat dari program ini bukan hanya jemaah yang sebagian besar dari masyarakat sekitar dan karyawan RSCM.

Lebih luas, penerima manfaat dari sedekah sayur ini juga berasal dari masyarakat luar yang kerap berkunjung ke masjid, sehingga manfaatnya bisa diraskan lebih banyak orang.

Tidak sendirian, dalam menjalankan program ini Samsul juga dibantu oleh beberapa marbut Masjid Asy-Syifa.

Marbut Masjid Asy Syifa Bimo Suci menjelaskan, proses mulai dari penanaman sampai panen tumbuhan hidroponik ini memakan waktu sampai dua bulan.

Dimulai dari proses penyemaian menggunakan rock wool selama 4-5 hari, lalu penyimpanan bibit sampai tumbuh daun, sampai langkah terakhir dipindahkan ke tempat pembesaran sampai sayuran tumbuh sempurna yang memakan waktu cukup lama.

Bimo mengaku, jika dilihat dari segi pekerjaan, ia lebih suka menjadi marbut masjid. Namun, jika dilihat dari segi ekonomi ia lebih memprioritaskan penanaman sayur hidroponik.

“Alasannya karena tanaman hidroponik bisa menghasilkan mungkin lebih banyak materi. Misalnya kalau kita mengeluarkan modal hanya sekian, tapi setelah dikembangkan bisa menghasilkan (omzet) 10 kali lipat atau lebih,” jelas Bimo.

Bimo berharap, dirinya dan teman-teman marbut lainnya bisa punya penghasilan lebih dari yang biasa diterima sebagai marbut.

Selain itu, ia berharap ilmu pengetahuan yang didapatkan dari menanam tanaman hidroponik bisa ditularkan di rumah, atau digunakan untuk memberdayakan teman-teman lainnya.

“Memberi merupakan sesuatu yang sangat luar biasa, di dalam ayat Al-Qur’an itu disampaikan bahwasanya tangan yang di atas itu adalah lebih baik daripada tangan di bawah. Itu menjadi filosofi kita, lebih baik kita memberi daripada kita meminta-minta,” tutup Samsul.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: