Penulis : Grace Kolin

Wisata sejarah di Kota Jakarta bukan hanya Taman Fatahilah ataupun kawasan pecinan, tapi juga ada Kampung Arab Pekojan yang sangat cocok untuk dikunjungi. Kawasan yang terletak di kecamatan Tambora, Jakarta Barat ini menjadi salah satu peninggalan sejarah dan syiar Islam di tanah Batavia.

Pekojan yang berasal dari kata koja, sebuah istilah yang diperuntukan bagi keturunan India Muslim. Sesuai dengan namanya, kawasan ini dulunya dihuni oleh banyak muslim asal Asia Selatan. Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Belanda, penjajah asal kincir angin yang juga menggunakan kawasan Pekojan untuk mengatur para pedagang dari bangsa Arab, India Dan Yaman. Pada abad ke 18, pemerintah Hindia Belanda menetapkan Pekojan sebagai Kampung Arab, yang kemudian menjadi pemukiman khusus bagi imigran dari Yaman selatan.

Tidak hanya berdagang, pedagang dari bangsa Arab kemudian menikah dengan pribumi, menjadikan tempat ini layaknya kampung halaman bagi warga keturunan Arab. Namun kini Pekojan sudah tidak lagi dipenuhi warga keturunan Arab, melainkan lebih banyak ditinggali oleh warga keturunan Tionghoa.

Konon, masyarakat Arab kalah saing dalam berdagang, hingga akhirnya memilih berpindah tempat. Akan  tetapi sebagian dari mereka ada yang memilih untuk bertahan karena ingin menjaga amanah leluhur. Sambil menetap, mereka menjalin hubungan baik dengan etnis Tionghoa. Hubungan interaksi yang selaras antar keduanya mencerminkan semboyan bangsa Indonesia, yakni Bhinneka Tunggal Ika.

Seiring berjalannya waktu, sejumlah bangunan lain pun hadir dan menjadi saksi bisu peradaban Islam di tanah Batavia serta menjadi daya tarik tersendiri bagi wilayah Pekojan:

Masjid Jami’ Annawier

Masjid Jami’ Annawier, masjid yang berdiri megah di Kampung Arab Pekojan ini memiliki luas 2.000 meter persegi dan telah mengalami restorasi. Tujuannya agar masjid tetap berdiri kokoh meski sudah berusia lebih dari dua abad.

Masjid yang menjadi ikon bersejarah bagi Kampung Arab Pekojan ini merupakan satu-satunya masjid yang digunakan untuk ibadah salat Jumat di kawasan Pekojan. Tak hanya mampu menampung sekitar 3.000 jemaah, masjid ini memiliki filosofi dalam detail arsitekturnya.

Pilar berjumlah 33 pada masjid melambangkan dzikir pujian terhadap Allah SWT sekaligus menguatkan iman yang dilafalkan sebanyak 33 kali. Tak hanya itu, terdapat 4 pintu di bagian depan, yang mengartikan 4 sahabat utama Rasulullah SAW. Selain itu, pintu sebelah timur yang berjumlah 5 buah, melambangkan rukun Islam dan salat lima waktu, serta jendela yang berada di bagian barat berjumlah enam buah yang melambangkan rukun iman.

Benda-benda masjid yang masih terjaga keasliannya adalah mimbar yang berumur lebih dari 250 tahun dan sumur yang dulunya digunakan sebagai tempat wudhu. Meski sekarang sumur tersebut sudah tidak lagi dipergunakan, namun kebersihannya masih terawat dengan baik.

Langgar Tinggi

Tak jauh dari Masjid Jami’ Annawier, terdapat cagar budaya lainnya dari Kampung Pekojan, yakni Langgar Tinggi. Tempat ibadah yang satu ini berdiri pada tahun 1829. Dari luar bangunan ini sama sekali tak tampak seperti bangunan masjid, berbentuk persegi panjang, serta memiliki dua lantai yang mirip dengan rumah panggung. Satu-satunya petunjuk bila bangunan ini merupakan sebuah masjid hanyalah papan nama yang bertuliskan “Langgar Tinggi”.

Bangunan ini dahulunya merupakan tempat peristirahatan para saudagar muslim yang sedang berlabuh. Pada saat yang bersamaan, mereka juga menyiarkan agama Islam. Sehingga pada akhirnya bangunan ini lebih dikenal sebagai masjid.

Dari segi arsitektur, masjid Langgar Tinggi ini merupakan perpaduan antara Melayu, Eropa klasik, Arab, Tionghoa Dan Jawa. Unsur seni bangunan Melayu tampak pada bentuk rumah panggung, sedangkan sentuhan Eropa klasik tampak pada pilar-pilar bundarnya yang kokoh, unsur seni bangunan Tiongkok tampak pada penyangga balok-balok kayunya, dan unsur Jawa terdapat pada denah dasarnya.