Kaligrafi Tiongkok

Pendiri Komunitas Kotak Menara Lisa Suryani (Foto: DAAI Magazine)

Lisa Suryani (40) membuat Komunitas Bekasi Mendengar dan Berbicara (Kotak Menara) sebagai wadah silaturahmi dan informasi bagi orang tua anak disabilitas di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi.

Kotak Menara ini didirikan pada 20 Oktober 2016 lalu dan saat ini telah memiliki lebih dari 450 anggota yang berasal dari berbagai kota.

Lisa menjelaskan, inisiatif membuat komunitas ini berasal dari anaknya, Khaulah Al Azwar atau Ola, yang mengalami gangguan pendengaran.

Lisa melihat, ada banyak teman-temannya yang memiliki kondisi seperti Ola, tetapi sayangnya di Bekasi belum ada wadah yang bisa menaungi teman-teman untuk bisa bersatu dan berbagi ilmu.

Berangkat dari situlah Lisa berinisiatif untuk mengumpulkan teman-temannya agar mereka memiliki wadah dan juga tempat bertukar pikiran dan informasi.

Kelas Belajar

Selain menjadi wadah bertukar informasi, Kotak Menara juga membuka kelas belajar bagi anak penyandang tunarungu mulai dari tingkat PAUD hingga SMP agar mereka bisa berkomunikasi secara verbal.

Tidak hanya kelas belajar akademik, Kotak Menara juga menyediakan pembelajaran untuk meningkatkan motorik bagi anak-anak umur 4-7 tahun yang bernama Rumah Belajar Insan Kreatif (Kelas Rubik).

“Selain masalah pendengaran (anak-anak di kelas belajar) terlihat seperti ada masalah multiisu. Jadi selain pendengaran, mungkin ada masalah sensori ataupun ada kelambatan perkembangan ya. Ada yang masalahnya mereka perkembangannya terlambat, jalannya terlambat, otomatis jadi untuk masalah pendengarannya juga terlambat, sekalipun sudah dipakaikan alat bantu dengar. Ada juga tadi yang belum pakai alat bantu dengar karena keterbatasan biaya,” ujar Lisa dalam DAAI Magazine, dikutip Kamis (7/12).

Metode Pembelajaran

Di dalam kelas ini, motorik anak-anak dilatih dengan menyentuh berbagai benda, mulai dari sikat baju, spons halus, dan spons kasar. Kelas ini diadakan karena anak disabilitas tak jarang mengalami gangguan pada saraf dan motorik. Selain memegang berbagai benda, anak-anak juga diajak belajar sambil bermain di atas rumput sintetis.

Pembelajaran ini, diajarkan untuk membantu merangsang saraf dan motorik anak, sehingga anak-anak dapat bertumbuh dengan baik.

“Kalau anak terlihat ada masalah sensori, (anak) melihat bendanya saja itu sudah ada rasa ketakutan. Terlihat juga tadi anak-anak kalau untuk menginjak rumput mereka masih geli, baik itu rumput sintetis maupun rumput yang ada di lapangan,” kata Lisa.

Untuk itu, Lisa sebagai guru berperan untuk meyakinkan anak-anak bahwa sebenarnya itu tidak apa-apa. Apalagi mereka akan melihat banyak benda itu sehari-hari dan mereka harus menghadapinya.

“Jadi pelan-pelan harus diberi pengertian, bahwa benda-benda itu tidak apa-apa begitu. Nah, itu yang mau kita tanamkan ke mindset anak-anak, sekaligus memperkenalkan pendengaran mereka dengan kosakata,” jelasnya.

Di dalam kotak menara, anak-anak juga dilatih untuk mendengar. Salah satunya, seperti menebak apakah isi botol yang digoyangkan di dekat telinga anak memiliki isi atau tidak. Jika mendengar bunyi, anak-anak diarahkan untuk tertawa ataupun mengangkat tangan.

Apresiasi dari Orang tua

Kelas Rubik ini disambut positif oleh Ismiati, salah satu orang tua yang memiliki anak penyandang tunarungu.

Ismiati mengaku kesulitan untuk berkomunikasi dengan anaknya yang memiliki gangguan pendengaran sejak umur 2 tahun.

“Kalau sekarang ini, ya, alhamdulillah senang banget anak saya bisa belajar. Tadinya saya sudah kayak mau putus asa saja, lah. Masalahnya, kan, dari kondisi keuangan juga Bapaknya lagi susah, memaksakan juga enggak bagus, kan, namanya susah. Alhamdulillah terbantulah sekarang ikut di Kotak Menara ini. Walaupun jauh, ya, insyaAllah lah saya lakoni, telateni saja, insyaAllah,” ungkap Ismiati.

Meski harus menempuh perjalanan 1,5 jam dari rumah dengan menggunakan angkutan umum, tetapi Ismiati tetap melakukan hal tersebut agar anaknya dapat berkomunikasi secara verbal di rumah.

Ismiati berharap agar anak-anak yang mengikuti kelas di Kotak Menara bisa mewujudkan impiannya, yakni bisa mendengar seperti anak-anak lainnya.

 

Jadwal Kelas Belajar

Kelas belajar Kotak Menara dibuka pada hari Senin-Sabtu, mulai dari pukul 9.00 pagi hingga 17.30 sore.

Meski kelas ini dikenakan biaya, tetapi Kotak Menara membuat subsidi silang agar orang tua dari golongan prasejahtera dapat tetap mengikutsertakan anaknya dalam kelas belajar. Biaya tersebut juga digunakan untuk memfasilitasi ruang belajar anak-anak.

“Ini karena kita juga mesti bagi waktu di hari-hari tertentu untuk kegiatan lain, seperti parenting support. Jadi orang tua harus ada pembelajaran, ada workshop,” tutup Lisa.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: