Ilustrasi hujan buatan (Foto: Tatjana Zmushko via Pexels)
Beberapa waktu lalu, BMKG memulai operasi modifikasi cuaca berupa hujan buatan di sejumlah wilayah untuk mengatasi polusi udara.
Hujan buatan adalah salah satu bentuk Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hujan buatan adalah sebuah pemanfaatan teknologi yang berupaya untuk menginisiasi ke dalam awan agar proses yang terjadi di awan lebih cepat dibandingkan dengan proses secara alami.
Mengutip dari situs BPPT, hujan buatan tidak dapat diartikan secara harfiah sebagai langkah untuk membuat hujan. Ini karena, teknologi tersebut berupaya untuk meningkatkan dan mempercepat jatuhnya hujan.
Cara Membuat Hujan Buatan
Kepala BBTMC BPPT Tri Handoko Seto mengatakan, hujan buatan dilakukan dengan cara melakukan penyemaian awan (cloud seeding), menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air).
“Dengan demikian, proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan,” ujar Tri dikutip dalam keterangannya, Selasa (29/8).
Hujan buatan dilakukan salah satu bentuk upaya menangani beberapa masalah lingkungan. Misalnya seperti kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga pencemaran atau polusi udara.
Mengutip dari BBC, sejak 24 Agustus Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geologi (BMKG) juga telah memulai operasi modifikasi cuaca untuk mengatasi polusi udara.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, BMKG sebelumnya memprediksi sekitar periode 26 hingga 27 Agustus terdapat potensi dinamika atmosfer.
“Adanya Gelombang Rossby yang cukup aktif di sekitar Jawa Barat. Kondisi dinamika atmosfer itulah yang dimanfaatkan,” kata Dwikorita.
Gelombang Rossby sendiri, adalah gelombang yang membawa massa udara hangat dari wilayah ekuator menuju wilayah kutub, meningkatkan intensitas penguapan di beberapa wilayah yang dilalui, dan akibatnya meningkatkan curah hujan.
Akibat modifikasi cuaca, wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek) mengalami hujan ringan hingga sangat lebat pada Minggu (27/8) malam.
Tim TMC dua kali melakukan penyemaian garam pada Minggu (27/08). Operasi pertama dilakukan pada pukul 09:00 WIB pada ketinggian 8.000 kaki di wilayah Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Bekasi. Sementara itu, operasi kedua pada siang harinya di Kabupaten Bekasi, Jakarta Utara, Depok, dan Kota Bekasi.
Efektif Cegah Polusi Udara?
Hujan buatan memang dinilai bisa membantu menurunkan polusi sejenak, tetapi ini bukan termasuk solusi jangka panjang.
Pasalnya, polusi udara hanya bisa selesai jika menyasar sumber-sumber pencemar, baik dari transportasi, industri, pembakaran sampah, maupun pembakaran batu bara dari PLTU.
Adapun intensitas deras hujan buatan yang turun di Jakarta pada 27 Agustus 2023 berhasil mencuci sebagian besar polusi udara.
Hal ini, terlihat dari perubahan nilai indeks kualitas udara di situs IQAir yang menunjukkan bahwa Jakarta sempat turun ke peringkat kelima dalam daftar kota dengan polusi udara terburuk di dunia. Namun, setelah hujan Jakarta kembali menduduki peringkat kedua terburuk di dunia pada pagi harinya.
Keberhasilan teknologi modifikasi cuaca di Indonesia seperti hujan buatan di Jakarta, sebenarnya ditentukan oleh beberapa faktor, termasuk pertumbuhan awan dan arah angin.
Namun, efektivitas modifikasi cuaca ekstrem di Indonesia masih menjadi perdebatan. Ahli berpendapat bahwa kurangnya daerah kontrol dalam operasi teknologi modifikasi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat keberhasilan.
Selain itu, jenis awan tropis yang sulit dimodifikasi juga menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan hujan buatan di wilayah Jakarta.
Oleh karena itu, upaya untuk menciptakan hujan buatan di Jakarta harus dilakukan dengan desain statistik yang akurat dan mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan yang kompleks.

