Norman Jefferson Nainggolan (Foto: situs web Pusat Prestasi Nasional)
Siswa SMA BPK Penabur Bandar Lampung Norman Jefferson Nainggolan (18), berhasil lolos seleksi penerimaan mahasiswa di tiga kampus ternama di luar negeri berkat kepiawaiannya bermain biola.
Norman berhasil meraih banyak penghargaan sebagai pemain biola, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kemahirannya dalam bermain biola, membawa Norman tampil bersama musisi ternama seperti Addie M. S. dan Erwin Gutawa, hingga sukses meraih Beasiswa Indonesia Maju (BIM).
Mengutip dari laman Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), kisah Norman bermula saat ia mengikuti ujian praktik di kelas 6 Sekolah Dasar (SD).
Saat itu, Norman memainkan alat musik seruling untuk memenuhi tugas sekolahnya. Dari situlah Norman ini tertarik untuk belajar berbagai alat musik.
“Saat itu aku belum banyak tahu tentang musik. Aku mulai mempertanyakan tentang jenis alat musik, mamaku kemudian menunjukkan biola dan piano dan dari situ aku jatuh cinta sama biola. Karena saat itu biola, di mataku terlihat unik,” ujar Norman dalam keterangannya, dikutip Jumat (28/4).
Ketika menyatakan ketertarikannya dengan dunia musik, Ibunda Norman, Hasnariaty, mengaku sempat ragu dengan keinginan Norman. Namun, lambat laun ia memberikan kepercayaannya kepada Norman.
Baca Juga: Salut, Alumni ITB Buat Program Beasiswa Bantuan Laptop bagi Mahasiswa yang Membutuhkan
“Awalnya saya tidak yakin karena menurut saya biola adalah alat musik yang jarang saya lihat, tidak seperti piano dan gitar. Kemudian, saya bilang ke Norman untuk membuktikan kepada kami kalau ia serius di dunia musik, buktikan dengan prestasi,” jelas Hasnariaty.
Menurut Hasnariaty, keluarganya bukanlah keluarga yang berlatar belakang pemusik, untuk itu Hasnariaty mendaftarkan anak sulungnya itu di kursus musik.
Norman pun mulai serius menekuni alat musik biola. Hingga akhirnya, pihak sekolah mengetahui Norman bisa memainkan alat musik biola dan memintanya bergabung tim sekolah untuk mengikuti lomba.
“Waktu itu persiapannya hanya tiga hari, sedangkan siswa lain sebulan. Awalnya kami khawatir karena Norman terlihat belum siap, terlebih Norman satu-satunya yang memainkan biola. Kami tidak sangka, tim sekolah mendapatkan juara favorit, dari situlah saya berpikir anak saya mulai serius,” tutur Hasnariaty.
Momen itulah yang membuat Norman percaya diri dan konsisten bermain biola sampai sekarang. Kegemaran Norman dalam bermain piano, juga terbukti dari banyaknya prestasi yang telah ia torehkan.
Di antaranya The 1st winner on the International Open Competition for Piano and Violin, Gloriamus Music School 2019; The 1st winner on the Open International PCC Piano and Violin Competition 2020; The best Interpretation on Romantic Work and the 1st prize on Indonesia International Youth Music Olympic 2022; dan masih banyak lagi prestasi lainnya.
Berkat kegigihannya dan dukungan dari berbagai pihak, kemampuan Norman banyak dilirik oleh berbagai kalangan, hingga akhirnya bisa berkolaborasi bersama musisi terkenal dan diundang di acara-acara penting.
Baca Juga: Kisah Nurjannah, Penghafal Al-Qur’an Tunanetra Punya Segudang Prestasi
Meskipun disibukkan dengan banyak agenda, tetapi Norman tetap bisa menyeimbangi kesibukan bermain biola dan akademisnya.
Di masa pandemi Covid-19 yang membuat ruang publik terbatas, Norman bahkan tetap semangat mencari informasi berbagai kompetisi biola yang bisa diikuti, baik tingkat nasional maupun internasional.
Di akhir masa SMA-nya, Norman memikirkan kelanjutan studinya ke perguruan tinggi. Ia mengungkapkan niatnya untuk kuliah di luar negeri kepada keluarganya.
“Aku pilih kuliah di Eropa karena di sana itu pusatnya musik klasik dan keluargaku juga mendukung,” jelas Norman.
Berkat keuletannya, Norman berhasil lolos Beasiswa Indonesia Maju Program Persiapan S1 Luar Negeri dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Selama hampir setahun, Norman mengikuti program pembinaan sebagai syarat untuk menjadi Awardee BIM.
Kerja kerasnya membuahkan hasil, saat ini Norman sudah mendapatkan tawaran Letter of Acceptance (LoA) dari beberapa universitas ternama. Di antaranya seperti Royal Conservatoire of Scotland, Monash University, dan University of Melbourne.
Meski demikian, Norman punya pilihan yang jelas untuk kuliah di Royal Conservatoire of Scotland dengan jurusan Classical Music Performance.
“Harapan aku tentunya bisa lulus dengan hasil yang terbaik, dapat menghasilkan karya, mengimplementasikan ke Indonesia, dan memberikan warna baru ke musik Indonesia. Fokus kita mau ke mana, tentukan goals dan kerjakan dengan serius. Kalau ada tantangan kita coba, walaupun susah kita tetap usaha,” tutup Norman.

