Ilustrasi Nurjannah (Foto: YouTube DAAI Magazine)
Keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus mengukir prestasi. Hal inilah yang dilakukan Nurjannah, gadis tunanetra yang semangat berjuang menjadi hafizah.
Nurjannah Parinduri, adalah seorang gadis yang berasal dari Binjai, Sumatra Utara. Sejak berusia dua bulan, Jannah menderita tunanetra yang menghilangkan kemampuannya untuk melihat.
Meski demikian, gadis berusia 16 tahun tersebut tidak pantang menyerah. Hal ini, terbukti dari beragam prestasi yang diukir Jannah selama beberapa tahun terakhir.
Jannah sendiri, mulai aktif membaca Al-Qur’an sejak berusia 12 tahun. Kemahirannya dalam membaca ayat suci, dikembangkan dengan berbagai latihan yang dilakukan setiap hari.
Jannah yang saat ini duduk di kelas 3 SMP mengaku, ia bahkan sering memenangkan sejumlah perlombaan membaca Al-Qur’an.
Tidak hanya itu, Jannah bahkan pernah mewakili Provinsi Sumatra Utara dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional cabang tilawah yang diselenggarakan di Kalimantan Selatan.
Namun, kemahiran Jannah dalam menghafal Al-Qur’an tidak dilakukan sendirian. Bersama sang guru, Jannah rutin mengasah kemampuannya dengan melakukan latihan setiap hari.

Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an, rutin diulang setiap pagi dan siang untuk membuat Jannah lancar membaca Al-Qur’an. Hal ini, ia lakukan dengan semangat demi menggapai cita-citanya sebagai hafizah andal.
Setiap hari Selasa dan Kamis, Jannah kerap melakukan tahfiz atau hafalan di Pesantren Putri Nurul Qur’an. Sementara itu, setiap hari Senin dan Kamis malam Jannah ikut murottal atau membaca Al-Qur’an di masjid di dekat rumahnya.
Jannah bercerita, awal mula ia bisa membaca Al-Qur’an berawal dari perhatian ibundanya. Ia mengaku, sang ibu kerap bertanya kepada beberapa orang terkait cara mengajarkan mengaji kepada penderita tunanetra seperti Jannah.
“(Setelah itu) jumpalah tempat ngaji seperti ini yang membuat saya bertekad dan gigih untuk menjadi hafiz Qur’an. Saya termotivasi dengan seseorang, dia pernah menjuarai kompetisi hafiz Qur’an internasional di Dubai, dia berasal dari Amerika Serikat (AS),” ujar Jannah dikutip dalam kanal YouTube DAAI Magazine, Senin (27/3).
Di sisi lain, Kepala Sekolah Pesantren Putri Nurul Quran Hafidzoh setia membimbing Jannah untuk menghafal Al-Qur’an.
Setiap kali Jannah berlatih, ia bahkan merasa kagum dengan tekad yang dimiliki Jannah. Sebagaimana semangat Jannah untuk mengeksplorasi dan menjadi teladan bagi santri lainnya.
“Alhamdulillah perkembangannya itu lebih baik karena Jannah itu metode belajarnya menggunakan audio. Setelah itu, menggunakan Al-Qur’an Braille, setelah itu dibimbing untuk memastikan makhorijul hurufnya yang pas. Setelah dibimbing, Alhamdulillah sekarang Kak Jannah sudah semakin bagus bacaannya,” ujar Hafidzoh.
Jannah berfokus untuk menghafal Al-Qur’an sejak dua tahun belakangan. Saat ini, ia sudah berhasil menghafal sekitar tujuh juz Al-Qur’an.
Beberapa penghargaan pun telah berhasil ia dapatkan. Pada tahun 2022 lalu, Jannah berhasil menjadi juara 1 pada cabang tilawah tunanetra tingkat Provinsi Sumatera Utara.
Ia juga meraih juara 1 untuk lomba puisi pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tahun 2016 lalu.
Prestasi dan keberhasilan Jannah dalam mengikuti berbagai kompetisi, tidak terlepas dari dukungan keluarga, terutama ibu dan ayahnya.

Tidak hanya mahir dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an, Jannah juga pandai memainkan piano. Jannah mengaku, keterampilannya dalam bermain piano dipelajari secara otodidak.
“Saya belajar musik itu ya otodidak, nggak ada gurunya. Saya suka musik karena saya suka bernada itu saya suka, berlagu begitu,” tutup Jannah.

