ATV International Audit Seminar. (Foto: Dok. Pribadi)
Pengaruh akal imitasi (artificial intelligence/AI), data analytics, automation, and blockchain, dalam perkembangan zaman mendorong profesi auditor untuk terus beradaptasi, pintar menilai risiko, serta memperkuat tata kelola.
Isu menarik ini kemudian dingkat oleh The 25th ATV International Audit Seminar yang diselenggarakan pada 18 Februari 2026.
Berlokasi di Auditorium Dekanat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) dan disiarkan secara langsung melalui Zoom, acara ini berhasil mempertemukan regulator, praktisi audit, akademisi, dan mahasiswa untuk membahas transformasi peran auditor di tengah percepatan digitalisasi.
Seminar ini mengangkat tema “Adapting Audit Roles and Responses in the Digital Era: From Digital Tools to Strengthened Controls”.
Seminar ini mendapatkan antusiasme yang luar biasa dengan lebih dari 1.000 peserta menghadiri secara online via platform Zoom dan 300 peserta hadir secara langsung di Auditorium FEB UI.
Acara dibuka dengan sambutan dari tokoh-tokoh terkemuka, yaitu Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan, Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Sandiaga Salahuddin Uno, dan Anggota Dewan Nasional Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Selvia Vivi Devianti.
Mereka menekankan satu pesan kunci: di tengah ekosistem bisnis yang terus berkembang, auditor harus menjadi garda terdepan dalam menjaga kepercayaan publik melalui tata kelola digital yang adaptif.
Konsep 3R: Navigasi Auditor Menghadapi Disrupsi
Salah satu sorotan utama dalam seminar ini adalah pemaparan dari Tiffany Tan (CPA Australia) yang memperkenalkan konsep “3Rs” sebagai kerangka kerja auditor modern:
- Redefine Roles: Mendefinisikan ulang peran auditor bukan sekadar pemeriksa laporan, tapi pemberi wawasan strategis.
- Reassess Risks: Menilai ulang profil risiko yang kini bergeser ke arah digital.
- Respond to Change: Tanggap terhadap perubahan teknologi demi efisiensi dan kualitas audit.
AI Sebagai ‘Copilot’, Bukan Pengganti
Isu panas mengenai apakah AI akan menggantikan peran manusia dijawab dengan tegas oleh para panelis.
Handrow Cahyadi (KPMG Indonesia) dan Juan Ramon Siahaan (KAP Liana Ramon Xenia) sepakat bahwa AI saat ini berperan sebagai ‘Copilot’.
Meski teknologi mampu menjalankan prosedur audit secara end-to-end di masa depan, elemen manusia seperti profesional skepticism dan critical judgement tetap tidak tergantikan. AI memperkuat efektivitas dalam tahap perencanaan hingga deteksi fraud, namun akuntabilitas akhir tetap berada di tangan auditor manusia.
Ketahanan Regulasi dan Pengendalian Internal (ICoFR)
Dari sisi regulasi, Sophia Isabella Wattimena (OJK) menyoroti tantangan cyber risks dan kompleksitas AI dalam sistem keuangan. OJK merespons hal ini dengan memperkuat kebijakan tata kelola teknologi informasi guna memastikan stabilitas sistem keuangan nasional.
Diskusi mendalam juga terjadi pada sesi Internal Control over Financial Reporting (ICOFR) in Fintech Organizations di tiga sektor berbeda:
- Manufaktur: Transformasi dari dokumen manual ke sistem ERP yang otomatis dan real-time.
- Perbankan: Fokus pada penggunaan data analytics untuk memantau jutaan transaksi dan mendeteksi anomali secara instan.
- Fintech: Menekankan pada manajemen akses dan keamanan siber mengingat model bisnisnya yang sangat digital-sentris.
Menuju Auditor Transformatif
Seminar internasional ATV ke-25 ini menyimpulkan bahwa kunci keberhasilan auditor di masa depan adalah kombinasi antara kemahiran teknologi dan etika profesional.
Membangun literasi digital dan mengadopsi pola pikir lifelong learning menjadi syarat mutlak bagi auditor yang ingin tetap relevan.
Integritas audit tidak akan goyah oleh teknologi, asalkan teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab dengan tetap mengedepankan transparansi dan human oversight.

