Marketeers Tech for Business 2026 (Dok. Marketeers)
Lanskap pemasaran digital di Indonesia resmi memasuki babak baru. Jika era 2000-an didominasi oleh demam mesin pencari (search) dan dekade 2010-an dikuasai oleh jagat media sosial (social), maka paruh kedua dekade 2020-an ini menjadi panggung mutlak bagi kecerdasan buatan (generative AI).
Fenomena pergeseran besar (mega-shift) perilaku konsumen inilah yang dibongkar habis dalam ajang tahunan ke-5 Marketeers Tech for Business (TFB) 2026 di CGV Grand Indonesia, Jakarta (23/6/2026).
Mengusung tema besar āDigital Marketing in the Age of AIā konferensi ini dihadiri oleh lebih dari 650 jajaran direksi, manajer pemasaran, hingga pakar teknologi dari berbagai industri lintas sektor.
Selamat Tinggal SEO, Selamat Datang GEO
Membuka jalannya pergelaran, Iwan Setiawan selaku COO MCorp sekaligus salah satu penulis buku Marketing 7.0: A Guide for Thinking Marketeers in The Age of AI (Wiley, 2026), menegaskan bahwa AI kini bukan lagi sekadar alat bantu produktivitas di balik layar komputer kantor.
AI telah berevolusi menjadi “pintu gerbang utama” bagi konsumen saat mencari informasi, memilah produk, hingga menetapkan keputusan pembelian.
“Orang mulai memanfaatkan satu komponen baru dalam mencari informasi, yaitu generative AI. Ini adalah consumer behavior yang trennya semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir,” urai Iwan.
Konsekuensinya berat bagi merek yang lambat beradaptasi. Iwan memaparkan bahwa taktik lawas seperti Search Engine Optimization (SEO) dan Social Media Optimization (SMO) kini wajib berevolusi menjadi GEO (Generative Engine Optimization).
Tujuannya satu: agar nama sebuah merek atau produk ramah dan mudah direkomendasikan oleh algoritma kecerdasan buatan.
Untuk memenangkan pasar di era baru ini, Iwan merumuskan tiga pilar utama yang wajib dimiliki oleh sebuah merek agar menjadi AI-Friendly:
- Available: Data dan informasi produk harus mudah ditemukan dan dipindai oleh sistem AI.
- Authoritative: Merek harus memiliki kredibilitas tinggi serta rekam jejak yang tepercaya secara digital.
- Articulate: Narasi dan komunikasi merek harus dikemas secara terstruktur agar mudah dipahami, baik oleh mesin AI maupun manusia.
Bukan Soal Pesawatnya, tapi Siapa Pilotnya
Di sisi lain, adopsi teknologi yang canggih tidak akan ada artinya jika tidak dibarengi dengan kesiapan sumber daya manusia yang mengendalikannya.
Sudut pandang krusial ini disoroti tajam oleh Puput Widha Ardhana, VP Shared Services Human Capital PT Pertamina (Persero).
Menurut Puput, benteng tantangan terbesar korporasi saat ini justru terletak pada aspek adaptabilitas manusianya.
Ia merinci empat batu sandungan utama yang kerap dihadapi perusahaan besar saat ini, yaitu:
- AI literacy gap (kesenjangan literasi AI).
- Change resistance (penolakan terhadap perubahan).
- Competency mismatch (ketidaksesuaian kompetensi karyawan).
- Leadership readiness (kesiapan jajaran pemimpin).
“Tantangan terbesar yang kami hadapi bukan pada teknologinya, melainkan pada manusianya. Itulah mengapa kami membangun SS School, karena pada akhirnya, it’s not the plane, it’s the pilot,” tegas Puput.

Bedah Kasus Nyata di Tiga Jalur Paralel
Memasuki sesi siang, atmosfer TFB 2026 semakin hangat lewat tiga breakout track yang berjalan secara paralel. Sesi ini menjadi ajang bagi para pemimpin industri untuk saling pamer strategi nyata berbasis data dan AI:
1. Track 1 (The Modern Marketer): Mengupas tuntas strategi pengalaman belanja terintegrasi (More Seamless Omnichannel Marketing) bersama BTN dan Gateaway Media, taktik penjualan tajam berbasis data (More Effective Selling) bersama Google Indonesia dan Auto2000, serta pembuatan aktivasi yang mendalam (More Experiential Activation) bersama Frisian Flag Indonesia dan KFC Indonesia.
2. Track 2 (Communication and Service): Membedah dampak strategis konten (More Impactful Social Media Marketing) bersama Teh Pucuk Less Sugar dan Insider One, pelayanan pelanggan premium (More Exceptional Service) bersama Asuransi Astra dan Fore Coffee, serta seni merajut keterikatan audiens (More Engaging Content Marketing) bersama Samsung Indonesia dan OLX.
3. Track 3 (Data, Influence, and Gen Z): Mendalami personalisasi data (More Precise Database Marketing) bersama TADA dan Erajaya Swasembada, evaluasi dampak influencer (More Influential Influencer Marketing) bersama Saff & Co dan Cheil Indonesia, hingga taktik memikat hati Generasi Z (More Relevant Marketing to Gen Z) bersama Kalbe Consumer Health dan Paragon.
Apresiasi Tertinggi Jawara Omnichannel
Sebagai penutup rangkaian acara, Marketeers juga menggelar ajang penghargaan Marketeers OMNI Brands of the Year untuk kedelapan kalinya.
Penghargaan ini didedikasikan khusus sebagai bentuk apresiasi bagi merek-merek tanah air yang dinilai paling sukses mengawinkan dunia online–offline, menyatukan aspek fisik-digital, hingga mengharmonisasikan teknologi dengan pendekatan kemanusiaan (tech-human) dalam satu tahun terakhir.
Ajang Marketeers Tech for Business 2026 ini sukses membuktikan bahwa di tengah gempuran otomatisasi AI yang serbadigital, merek yang keluar sebagai pemenang adalah mereka yang mampu bergerak lincah, cerdas mengoptimalkan data, tetapi tetap menjaga sentuhan kemanusiaan yang hangat pada ekosistem manusianya.

