Alfin Dwi Novemyanto (Foto: www.instagram.com/alfindnoyan)
Alfin Dwi Novemyanto (24) pemuda asal Sragen, Jawa Tengah, berhasil membanggakan ibunya setelah mendapatkan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk jenjang pendidikan S2.
Belakangan ini, sosok Alfin berhasil membuat warganet karena berhasil membanggakan sang ibunda dengan mendapatkan beasiswa LPDP yang dikelola pemerintah, untuk melanjutkan pendidikannya di jenjang S2.
Alfin mengatakan, dirinya termotivasi untuk melanjutkan pendidikan tinggi untuk memperluas kebermanfaatan kepada sekitarnya.
Alfin sendiri, berasal dari keluarga yang sangat sederhana, bahkan sang ibunda bekerja sebagai pemulung yang setiap hari mengumpulkan rongsok untuk dijual.
“Ketika saya melanjutkan studi, saya berharap dengan adanya ilmu dan pengetahuan yang saya dapatkan, saya bisa mengubah diri sendiri dan bisa mengubah kehidupan masyarakat agar bisa menjadi lebih baik lagi,” ujar Alfin kepada DAAI TV, dikutip Rabu (6/12).
Perjuangan Mendapatkan Beasiswa
Alfin mengaku, dirinya mendapatkan informasi beasiswa saat dirinya masih menjadi mahasiswa baru jenjang S1 di Jurusan Ilmu Hukum di Universitas Terbuka (UT).
Saat itu Alfin menjadi delegasi UT di salah satu event nasional di Universitas Gadjah Mada (UGM). Di dalam acara tersebut, kata Alfin, terdapat seminar tentang beasiswa termasuk LPDP.
Kemudian, saat lulus S1 Alfin sudah mengetahui pendaftaran beasiswa LPDP sedang dibuka. Namun, Alfin masih sempat mengurungkan diri untuk tidak mendaftar karena keadaan ekonomi yang belum cukup, khususnya untuk mencari berkas administrasi pendaftaran.
“Karena ada orang baik, beliau membantu membiayai saya untuk melengkapi berkas administrasi pendaftaran walaupun kurang beberapa hari,” kata Alfin.
Kendala Selama Pendaftaran LPDP
Selama proses pendataran beasiswa, Alfin juga kerap mengalami beberapa kendala. Beberapa di antaranya adalah mengisi biodata tiga hari sebelum tenggat waktu pendaftaran berakhir.
Kemudian, dua hari sebelum waktu pendaftaran berakhir, Alfin baru melaksanakan Test of English as a Foreign Language (TOEFL), bahkan Alfin baru membuat esai 1 hari sebelum waktu pendaftaran berakhir.
“Tidak ada bimbingan dalam pembuatan esai. Saat Tes Bakat Skolastik (TBS) tidak sempat belajar, alhamdulillah bisa dapat poin cukup besar, yakni 190. H-1 Tes Substansi Wawancara diniati belajar karena belum ada persiapan sama sekali, tapi Instagram saya yang sudah lama berkembang malah ke-banned dan tidak bisa balik lagi. Rasanya sudah tidak karuan sakit hatinya,” jelas Alfin.
Saat mendaftar beasiswa, Alfin sempat diragukan karena bukan lulusan dari kampus favorit. Selain itu, tidak banyak lulusan dari kampusnya yang mengambil beasiswa ini.
Namun, walaupun tidak pernah ikut seminar dan latihan untuk wawancara, tetapi Alfin tetap bersemangat dan melakukan yang terbaik.
Pengumuman Beasiswa
Setelah melengkapi proses pendaftaran beasiswa LPDP, Alfin akhirnya mendapatkan pengumuman, pada Selasa (7/11) malam. Namun, saat itu dirinya belum memberikan informasi kepada sang ibunda.
“Ini karena tempat tinggal saya dan ibu berbeda. Biasanya saya di rumah dan keseharian ibu biasanya di kos yang sangat sederhana untuk menjaga, mengumpulkan, dan mengelola hasil rongsok yang beliau cari. Maka dari itu, saya baru sempat memberitahukan pengumuman tersebut, pada Rabu (8/11) pagi, ketika saya ingin berangkat bekerja,” kisah Alfin.
Saat sang ibu sedang menurunkan hasil rongsok, Alfin pun mencoba menghampirinya dengan rasa penuh haru.
“Kemudian hasil pengumuman saya perlihatkan kepada beliau. (Saat itu) beliau tercengang dan tidak bisa menahan tangis ketika saya bisa lolos beasiswa S2 dari LPDP tersebut,” ungkap Alfin.
Alfin mendapatkan beasiswa dengan tiga pilihan universitas, yakni Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Airlangga (UNAIR) di jurusan S2 Ilmu Hukum.
Selama menjalankan studi, LPDP menyediakan dua jenis dana. Di antaranya Dana Pendidikan (seperti dana pendaftaran, UKT, tunjangan buku, dsb) dan Dana Pendukung (seperti dana transportasi, aplikasi VISA, asuransi kesehatan, dana hidup bulanan, dsb).
Ketika studi berjalanan, Alfin mengaku akan mencoba untuk memaksimalkan pengamalan tri dharma perguruan tinggi dalam bidang penelitian, pendidikan, dan pengabdian.
Cita-cita Alfin
Alfin bercita-cita ingin menjadi pendidik dan pemberdaya agar dapat membekali masyarakat terutama di bidang hukum.
“Hal itu dicanangkan agar dapat melindungi dan menjamin mereka berdasarkan tujuan hukum berupa kepastian, keadilan, dan kebermanfaatan. Saya percaya, pendidikan merupakan salah satu cara mengubah nasib seseorang, serta bisa mengangkat derajat diri sendiri dan orang tua,” kata Alfin.
Alfin turut berpesan agar setiap orang bisa mengejar mimpinya setinggi mungkin dan tidak menyerah pada keadaan.
“Walaupun saya dari keluarga yang sangat sederhana, saya punya motivasi bahwa kita bisa hidup dengan apa yang kita dapatkan. Kita juga bisa membuat kehidupan atas apa yang kita berikan. Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk dicapai yang ada hanya niat yang terlalu rendah untuk melangkah. Kita tidak perlu menjadi hebat terlebih dahulu untuk memulai, tetapi yang diperlukan adalah memulai untuk menjadi hebat,” tutup Alfin.

