Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi vaksin AstraZeneca. (Foto: View dari Wirestock via Getty Images)

Perusahaan farmasi AstraZeneca yang memproduksi vaksin Covid-19 dengan merek Covishield, mengakui jika produknya bisa menyebabkan efek samping langka.

Pihak AstraZeneca kemudian menarik vaksin Covid-19 buatannya di seluruh dunia.

Penarikan vaksin ini, menyusul adanya laporan efek samping langka vaksin Covid-29 tersebut, yakni bisa menyebabkan Sindrom Trombosis dengan Trombositopenia, atau trombosis with thrombocytopenia syndrome (TTS)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengonfirmasi, bahwa Covishield bisa menimbulkan efek samping yang mengancam jiwa.

“Efek samping sangat langka yang disebut Sindrom Trombosis dengan Trombositopenia, melibatkan kejadian pembekuan darah yang tidak biasa dan parah terkait dengan jumlah trombosit rendah, telah dilaporkan setelah vaksinasi dengan vaksin ini,” ungkap WHO.

 

Apa Itu TTS?

TTS merupakan penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami pembekuan darah (trombosis), serta trombosit darah yang rendah (trombositopenia).

Mengutip dari situs Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kasus penyakit ini sangat jarang terjadi di masyarakat, tetapi bisa menyebabkan gejala yang serius.

Ketua Komisi Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas PP KIPI) Prof. Hinky Hindra Irawan Satari mengatakan, kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) bila ditemukan penyakit atau gejala antara 4-42 hari setelah vaksin disuntikkan.

“Kalaupun saat ini ditemukan kasus TTS di Indonesia, ya pasti bukan karena vaksin Covid-19 karena sudah lewat rentang waktu kejadianya,” jelas Prof. Hinky.

Prof. Hinky melanjutkan, “Namanya trombosis, pembuluh darah membeku. Kalau terjadi di otak muncul gejala pusing, di saluran cerna mual, di kaki pegal. Kalau jumlah trombositnya menurun, ada perdarahan, biru-biru di tempat suntikan, ya, itu terjadi, tapi 4-42 hari setelah vaksin. Kalau sekarang terjadi, ya, kemungkinan besar terjadi karena penyebab lain, bukan karena vaksin.”

Masyarakat juga masih bisa melaporkan kejadian ikutan pasca-imunisasi kepada Komnas KIPI melalui puskesmas terdekat.

“Puskesmas sudah terlatih, akan dilakukan investigasi, anamnesis, dan rujukan ke RS untuk akhirnya dikaji Pokja KIPI dan dikeluarkan rekomendasi berdasarkan bukti yang ada,” jelasnya.

 

Risiko TTS

TTS adalah efek samping yang sangat langka yang terlihat pada beberapa orang, setelah mendapatkan vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Meski demikian, Sahabat DAAI perlu mewaspadai beberapa risiko TTS karena kasusnya tampaknya sedikit lebih tinggi pada orang yang berusia kurang dari 60 tahun, hingga anak muda khususnya perempuan.

Di sisi lain, penggumpalan darah dapat terjadi di berbagai bagian tubuh. Di antaranya seperti di otak yang disebut trombosis sinus vena serebral, perut (trombosis vena splanknikus), paru-paru (emboli paru), vena ekstremitas (trombosis vena dalam), dan arteri (trombosis arteri).

Proses penyebab TTS belum sepenuhnya dipahami, tetapi penyakit ini dianggap mirip dengan trombositopenia yang diinduksi heparin (HIT). Hal ini adalah reaksi langka terhadap obat yang disebut heparin yang mempengaruhi cara kerja trombosit.

 

Gejala TTS

Gejala TTS yang mempengaruhi otak antara lain sakit kepala yang parah dan terus-menerus, penglihatan kabur, kesulitan berbicara, mengantuk, hingga kejang atau kebingungan.

Sementara itu, gejala TTS yang mempengaruhi seluruh tubuh meliputi kesulitan bernapas, nyeri dada, pembengkakan kaki, nyeri perut terus-menerus, hingga bercak darah kecil di bawah kulit yang jauh dari tempat suntikan.

Berbagai gejala ini, muncul pada rentang 4-42 hari setelah vaksinasi menggunkan vaksin Covid-19 AstraZeneca.

 

Diagnosis dan Pengobatan TTS

Saat mengidap penyakit ini, beberapa pasien akan merasa sangat tidak enak badan, sehingga perlu segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Adapun TTS didiagnosis menggunakan tes darah dan scan, termasuk CT scan. Jika dicurigai adanya gumpalan di otak, pasien perlu dirujuk ke unit gawat darurat untuk diobservasi lebih lanjut.

Perawatan penyakit TTS, bisa dilakukan dengan penggunaan obat antikoagulan (anti pembekuan darah), infus produk darah yang mengandung antibody (imunoglobulin intravena/IVIG), hingga menggunakan sejenis obat steroid seperti prednison dosis tinggi. Meski demikian, penggunaan obat-obatan ini tetap harus berada di bawah pengawasan dan konsultasi dokter.

 

Kasus TTS di Indonesia

Sebagai informasi, Indonesia merupakan negara dengan peringkat keempat terbesar di dunia yang melakukan vaksinasi Covid-19.

Sebanyak 453 juta dosis vaksin telah disuntikkan ke masyarakat Indonesia, dan 70 juta dosis di antaranya adalah vaksin AstraZeneca.

Setelah surveilans aktif selesai, Komnas KIPI tetap melakukan surveilans pasif hingga hari ini. Berdasarkan laporan yang masuk, tidak ditemukan laporan kasus TTS.

Prof. Hinky mengatakan, tidak ada kejadian sindrom TTS setelah pemakaian vaksin Covid-19 AstraZeneca di Indonesia. Hal ini berdasarkan surveilans aktif dan pasif yang sampai saat ini masih dilakukan oleh Komnas KIPI.

“Keamanan dan manfaat sebuah vaksin sudah melalui berbagai tahapan uji klinis. Mulai uji klinis tahap 1, 2, 3, dan 4, termasuk vaksin Covid-19 yang melibatkan jutaan orang, sampai dikeluarkannya izin edar. Dan pemantauan terhadap keamanan vaksin masih terus dilakukan setelah vaksin beredar,” kata Prof. Hinky.

Sesuai rekomendasi WHO, Komnas KIPI bersama Kemenkes dan BPOM, melakukan surveilans aktif terhadap berbagai macam gejala atau penyakit yang dicurigai ada keterkaitan dengan vaksin Covid-19, termasuk TTS.

Survei ini dilakukan di 14 rumah sakit di 7 provinsi yang memenuhi kriteria selama lebih dari satu tahun.

“Selama setahun, bahkan lebih, kami amati dari Maret 2021 sampai Juli 2022. Kami lanjutkan lebih dari setahun karena tidak ada gejalanya. Jadi kami lanjutkan beberapa bulan, untuk juga supaya memenuhi kebutuhan jumlah sampel yang dibutuhkan, untuk menyatakan ada atau tidak ada keterkaitan. Sampai kami perpanjang juga tidak ada TTS pada AstraZeneca. Jadi, kami melaporkan pada waktu itu tidak ada kasus TTS terkait vaksin Covid-19,” tutup Prof. Hinky.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: