Ekawati di Bajaj bersama anaknya. (Foto: Adek BERRY/AFP)
Ekawati (42) merupakan seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai sopir bajaj di jalanan Jakarta, demi menghidupi keempat anaknya.
Sejak pagi, Ekawati dan bajajnya telah menembus jalanan Jakarta yang macet bersama putrinya yang masih berusia tiga tahun.
Sama seperti wanita mandiri lainnya, hal ini dilakukan Ekawati untuk mencari nafkah agar bisa menghidupi dirinya dan anak-anaknya.
Bukan tanpa pilihan, pekerjaan in dilakukan Ekawati karena masih ada anak yang harus ia penuhi kebutuhannya.
Suami pertama Ekawati telah meninggal dunia dan suami keduanya telah bercerai dengan Ekawati.
Kondisi ini pun membuat Ekawati menjadi ibu tunggal yang harus memutar otak untuk menghidupi anaknya dan membayar kontrakan.
“Saya harus kuat, apalagi saya tinggal di jalan, hidup di jalan, siapa yang mau menolong kita kalau nggak kita sendiri,” ujar Ekawati dikutip dari Gulf News, Selasa (19/3).

(Ekawati bersama keempat anaknya. Foto: Adek BERRY/AFP)
Mengendarai Bajaj
Ekawati telah mengaspal menggunakan bajaj sewaannya selama 15 tahun terakhir. Biasanya, Ekawati mencari rezeki di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Saat menarik bajaj, Ekawati bisa mengumpulkan uang sampai Rp150.000 dalam sehari.
“Mengemudikan bajaj adalah cara tercepat untuk mendapatkan uang. Saya sudah mencoba berbagai pekerjaan, tapi ini yang paling nyaman,” kata Ekawati.
Tak sendirian, Ekawati juga dibantu oleh putra sulungnya yang berusia 20 tahun untuk mencukupi kebutuhan rumah.
Ekawati menjelaskan, anak sulungnya terpaksa putus sekolah dan kini bekerja sebagai kurir demi membantu perekonomian keluarga.
Meski demikian, Ekawati mengaku masih hidup pas-pasan karena seluruh penghasilannya habis untuk membayar biaya sewa rumah sebesar Rp800.000 per bulan, serta memberi makan anak-anaknya.

(Ekawati di dalam bajaj. Foto: Adek BERRY/AFP)
Kendala Menjadi Sopir Bajaj
Sebagai tulang punggung sekaligus kepala keluarga yang harus mencari uang sendiri, Ekawati mengatakan dirinya tak bisa meninggalkan putrinya di rumah sendirian.
Ekawati juga tidak punya siapa-siapa untuk menjaga putrinya selama ia bekerja. Maka dari itu, Ekawati tidak punya pilihan selain membawa putrinya yang masih kecil untuk ikut bekerja.
Hidup di jalanan tidaklah mudah. Ekawati juga harus menghadapi berbagai kendala lain selama mencari nafkah di jalanan.
Sebagaimana diketahui, pekerjaan sebagai pengemudi bajaj di jalanan didominasi oleh pria. Tidak jarang perempuan yang bekerja di sektor ini merasakan pelecehan seksual, baik dari penumpang maupun dari orang-orang di jalanan.
“Sebagai perempuan yang mengendarai becak, saya sering dilecehkan oleh orang-orang di sekitar saya. Pernah ada penumpang yang meminta saya untuk tidur dengannya dengan bayaran Rp500.000. Saya langsung memintanya keluar dari kendaraan,” katanya.
Meski demikian, Ekawati mengatakan bahwa dirinya bangga dengan pekerjaan yang ia jalani. Pasalnya, melalui pekerjaan ini dirinya masih bisa mencari nafkah dan menghidupi keluarganya.

(Ekawati bersama anak perempuannya. Foto: Adek BERRY/AFP)
Tidak Mau Jadi Lemah
Ekawati menuturkan, anak keduanya telah meninggal dunia karena sakit. Namun, Ekawati berhasil menyekolahkan anaknya yang lain di Sekolah Dasar (SD), dengan bantuan dari pemerintah daerah.
Sekarang, ia sedang berusaha mendapatkan bantuan lagi untuk anak laki-lakinya yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
“Saya harus mengendarai bajaj agar saya bisa memberikan makanan, pakaian, dan rumah yang layak untuk anak-anak saya,” kata Ekawati sambil menangis.
Ekawati menegaskan, sebagai perempuan ia tidak ingin jadi lemah. Sebaliknya, ia harus tamgguh untuk bisa bertahan di jalanan.
“Sebagai perempuan, saya tidak mau lemah. Saya harus kuat karena saya mencari nafkah di jalanan. Tidak ada yang akan menolong saya, kecuali saya sendiri. Saya berharap Allah swt. memberi saya kesehatan. Saya juga berharap anak-anak saya bisa sukses, tidak seperti saya,” tutup Ekawati.
Kepala Keluarga Perempuan
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), di tahun 2022 sebanyak 12,72% rumah tangga di Indonesia didominasi oleh pencari nafkah perempuan. Sebagian besar rumah tangga ini berada di daerah perkotaan.
Sementara itu, jumlah perempuan yang menjadi ibu rumah tangga mulai menurun selama pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
Pada saat yang sama, Bank Dunia menyatakan banyak perempuan Indonesia yang beralih ke pekerjaan informal di sektor jasa dan pertanian untuk menghidupi keluarga mereka, setelah berkurangnya prospek pekerjaan resmi selama tahun-tahun pandemi.

