Salah satu pengungsi di GKMI (Foto: ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)
Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menyiapkan makanan untuk sahur dan berbuka puasa bagi para pengungsi banjir.
Pada bencana banjir kali ini, Gereja KMI menjadi salah satu posko pengungsian bagi para pengungsi yang terdampak. Sebuah wujud toleransi yang nyata di daerah setempatnya.
Mengutip dari Wartakota Tribunnews, sejak tahun 1970 GKMI memang telah difungsikan sebagai posko pengungsian saat terjadi bencana.
Berdasarkan keterangan pendeta setempat, saat ini gereja KMI menampung sebanyak 89 pengungsi korban banjir dari sekitaran Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati.
Adapun kapasitas pengungsi yang bisa ditampung di dalam gereja mencapai 120-130 jiwa.
Pendeta GKMI Tanjung Karang Hendra Wijaya mengatakan, mayoritas pengungsi di gereja beragama Islam. Perinciannya, pengungsi beragama Islam sekitar 60-an orang, sedangkan sisanya merupakan nonmuslim dan jemaat gereja yang terdampak banjir.

(Pengungsi beribadah di GKMI. Foto: ANTARA FOTO)
Beribadah di Gereja
Selama rumah warga masih terdampak banjir, pengungsi Muslim bisa menjalankan ibadah dan berpuasa di tempat pengungsian.
Untuk tahun ini, pengungsian dibuka kembali pada hari Jumat (15/3) kemarin, lantaran debit air banjir di pemukiman terus meningkat.
“Hari Jumat kemarin kami buka, sebelumnya kami sempat memantau dan debit air mulai meningkat kami buka gereja untuk pengungsi masyarakat. Mulai itu para warga berdatangan satu persatu,” ujar Hendra, dikutip Senin (25/3).
Untuk menunjang ibadah puasa, pihak pengungsian pun menyediakan beragam kebutuhan dan sarana prasarana yang memadai.
“Kalau untuk sahur, kami sudah menyediakan dapur dan bahan makanan. Jadi warga yang mau sahur tinggal mengolah, untuk buka puasa kami siapkan ada ibu-ibu gereja yang memasak bersama,” kata Hendra.
Sementara itu, untuk pengungsi nonmuslim ataupun ibu hamil, juga disediakan makan pagi dan siang agar kesehatan tetap terjaga.
Diberikan Bantuan Pendukung
Selain memfasilitasi tempat untuk beristirahat, GKMI Tanjung Karang juga menyediakan tempat khusus untuk beribadah salat.
Selain itu, pihak gereja juga menyiapkan beberapa bantuan, seperti matras tidur, makanan, minuman, dan fasilitas air bersih.
“Kami buka posko pengungsian banjir. Semua bantuan untuk pengungsi merupakan swadaya dari jemaat dan kas gereja. Sebanyak 70% pengungsi di sini muslim, sisanya 30% merupakan jemaat kami,” lanjut Hendra.
Mengutip dari media sosial BPBD Kabupaten Kudus pada Minggu (24/3), setidaknya ada 31 desa, 5 kecamatan, 13.586 KK, 6.523 rumah, dan 2.296 hektare sawah yang terdampak banjir.

