Ilustrasi aquaplaning (Foto: Milan Krasula via Getty Images)
Aquaplaning adalah kondisi saat kendaraan tidak memiliki kontak dengan permukaan jalanan. Kondisi ini bisa menyebabkan kendaraan tergelincir dan membahayakan penumpang.
Aquaplaning bisa menyebabkan kendaraan kehilangan daya cengkeram, sehingga tidak stabil dan sulit dikendalikan. Istilah ini sering disebut juga dengan hydroplaning yang mana penyebab utamanya adalah genangan air, seperti hujan dan banjir.
Mengutip dari situs web Suzuki, genangan air yang terlalu besar akan membuat mobil kesulitan dalam melaju atau bahkan tergelincir, sehingga meningkatkan potensi tabrakan.
Tidak hanya genangan air, aquaplaning juga bisa terjadi karena keadaan kendaraan yang tidak baik dan bobot kendaraan.
Ciri Mobil Mengalami Aquaplaning
Ada beberapa ciri mobil yang rentan atau sedang mengalami aquaplaning. Pertama, adalah suara mesin mendadak terdengar lebih keras dari biasanya. Hal ini karena mesin yang terkena genangan terlalu deras akan menjadi panas hingga menimbulkan suara.
Kemudian, seakan-akan Sahabat DAAI akan seperti mengubah kopling pada persneling. Padahal, Sahabat DAAI tidak melakukannya.
Kondisi ini akan membuat laju kendaraan menjadi lebih cepat, sehingga tidak terkendali. Ciri berikutnya, adalah mobil terasa lebih ringan. Hal ini disebabkan oleh tekanan air yang lebih besar yang sanggup mengangkat dan mengambangkan mobil.
Selain itu, bagian belakang mobil pada sisi-sisinya akan terasa melayang. Kondisi ini disebut fishtailing.
Jika mengalami beberapa ciri tadi, sebaiknya jangan teruskan berkendara. Tunggu hingga kondisi jalanan surut atau berkendara dengan pelan dan hati-hati.
Cara Mencegah Aquaplaning
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan pengendara untuk menghindari Aquaplaning, yakni sebagai berikut.
- Periksa Kondisi Cuaca
Selalu periksa kondisi cuaca sebelum mulai mengemudi, terutama ketika hendak melakukan perjalanan jarak jauh.
Periksa pula kondisi ban sebelum mulai berkendara. Jangan lupa untuk selalu memperhatikan kondisi jalanan ketika tengah hujan dan perhatikan rambu-rambu peringatan yang ada.
- Perhatikan Kecepatan
Ban akan memiliki peluang lebih kecil untuk mencengkeram jalan jika berkendara dengan kecepatan tinggi. Oleh karena itu, perhatikan kecepatan laju kendaraan saat digunakan.
Tidak ada batas pasti yang sudah ditetapkan secara resmi untuk terjadinya Aquaplaning. Namun, ketika kendaraan bergerak dengan kecepatan sekitar 50 km/jam dalam satu atau 2,5 cm-5 cm, kendaraan masih dapat mempertahankan, traksi sehingga bisa menghindari terjadinya Aquaplaning.
Ketika kendaraan bergerak dengan kecepatan sekitar 80 km/jam dalam kondisi air yang sama, kecil kemungkinan untuk kendaraan dalam keadaan tetap terkendali.
- Periksa Kondisi Ban
Ban dalam kondisi yang buruk, dapat meningkatkan risiko Aquaplaning karena mungkin saja ban mengalami kesulitan untuk membersihkan air yang diperoleh dari genangan di jalan.
Untuk menghindari risiko tersebut, periksalah kondisi ban secara rutin dan pastikan ban dalam keadaan baik, serta terisi angin dengan benar sebelum berkendara.
Jika permukaannya sudah tipis atau mengalami retak, sebaiknya ganti dengan yang baru. Berhati-hatilah ketika berkendara, terutama ketika sedang hujan atau setelahnya. Selalu periksa kondisi ban sebelum berkendara untuk menghindari terjadinya aquaplaning yang dapat membahayakan nyawa sendiri ataupun orang lain.
- Lakukan Pengereman Halus
Langkah berikutnya adalah melakukan pengereman dengan baik. Mobil yang melewati jalan licin, harus direm beberapa kali agar tidak tergelincir.
Namun, pengereman yang dilakukan harus sesuai. Jangan menginjak rem terlalu dalam. Lakukan setiap pengereman dengan lembut.
Pengereman bertujuan untuk membantu mobil melaju dengan stabil di jalanan basah. Fungsinya adalah mengurangi dan mengontrol kecepatan kendaraan. Dengan demikian, mobil akan bisa dikendalikan dengan baik.
Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

