Sumber : Independensi

Foto : Es Kopi Kok Tong oleh Tim Liputan Citraloka DAAI TV Medan

Secangkir kopi selalu memiliki kenikmatan tersendiri bagi pecintanya. Seperti secangkir kopi dari Kedai Kopi Kok Tong di Pematang Siantar, Sumatera Utara, yang selalu memikat penikmat kopi sejak pertama kali dibuka pada Tahun Baru Imlek tahun 1925.

Kala itu, kedai kopi sering dijadikan sebagai tempat bercakap-cakap, berdiskusi, hingga sekadar bertukar informasi sehari-hari. Orang-orang berkumpul tanpa sekat yang membatasi, tua dan muda, hingga kaya dan miskin menjadi sama derajatnya ketika berada di kedai kopi.

“Kopi juga bisa membuat kita semua jadi setara, karena begitu kita masuk ke kedai kopi dan minum kopi, itu semua sudah sama. Yang jadi majikan, yang jadi karyawan, kalau sudah duduk di meja (kopi) sudah rata, nilainya tetap secangkir kopi,” ujar Djamin Halim, pemilik Kedai Kopi Kok Tong generasi ketiga.

Kopi hitam di kedai ini merupakan hasil racikan dari dua generasi pada tahun 1979. Djamin Halim bekerja sama dengan ayahnya, Lim Kok Tong, sehingga menghasilkan kopi bertekstur kental tanpa ampas dengan aroma yang pekat.

“Bukan warisan plek dari Lim Kok Tong, tapi ini hasil sharing saya dengan bapak saya karena di dalamnya itu ada racikan tertentu. Jadi sudah berubah dari yang asalnya. Sejak tahun ‘79 sudah ada perubahan seperti yang sekarang ini,” ujar Djamin Halim.

Selain soal mempertahankan cita rasa dan aroma kopinya, kedai ini juga masih menyajikan kopi dengan cara tradisional yaitu hanya menggunakan alat sederhana bukan mesin modern. Djamin Halim juga memilih untuk mempertahankan bentuk asli bangunan kedai kopi peninggalan kakeknya itu, sehingga tetap bernuansa jadul dan memberikan kesempatan kepada para pengunjung untuk bernostalgia.

Sampai sekarang, kedai kopi legendaris ini siap memasuki generasi keempat dan menjawab tantangan perkembangan zaman. Djamin Halim pun mewarisi satu prinsip bisnis kepada putranya yaitu kejujuran, “jujur yang paling penting, kita jujur saja kepada pelanggan, kepada relasi kita, jangan sampai merugikan salah satu pihak.”

Penulis : Gilang Syahbani

Video Terkait